Roma berpura-pura, Diva menyadarinya. Jatuhnya disengaja, dia hanya ingin menarik perhatian Juna. Sialnya gadis kecil itu berhasil, sekarang Juna duduk dia berada di pangkuan Juna yang duduk di single sofa di sebelah Arsyi. Entah yang lain menyadarinya atau tidak, tapi Diva melihatnya, Roma tersenyum penuh kemenangan. Meskipun hanya sekilas, senyum itu tercetak jelas. Sekarang Diva yakin jika semua yang dilihatnya –tentang ketidaksukaan Roma padanya, juga sorot tidak bersahabat dari matanya, itu bukan sekedar halusinasinya. Gadis kecil itu memang tidak menyukainya, Roma menganggapnya sebagai saingan. Astaga! "Om Juna, sakit b****g Roma," adu Roma memelas. Wajah imutnya yang merupakan perpaduan antara Helen dan Arsyi, mengerut menahan sakit. Bibir mungilnya mencebik. "Makanya Roma kalo

