Jaya Sukardi masih terngiang - ngiang perihal pesan yang dikirim oleh putranya tadi. Bagaimana jika ia telah sampai di ruangan Romza, dan istri serta Arras juga Pak Raharja masih belum kembali dari kantin? Di mana itu akan menjadikan sebuah momen pertama kali seumur hidup. Ketika ia berada dalam satu ruangan, berdua saja bersama putra bungsunya. Katanya Romza memang belum sadarkan diri. Tapi dengan begitu anehnya, Jaya Sukardi tetap merasa gugup membayangkan jika dirinya benar - benar akan bersama dengan Romza saja. Kenapa? Apakah ... karena ia merasa ... bersalah? Jaya Sukardi menggelengkan kepalanya cepat - cepat. Untuk apa juga ia merasa bersalah? Bukan kah sejak awal Romza memang tercipta untuk itu? Romza bukan lah benar - benar anaknya seperti Arras, bukan? Ya, tak ada gunanya ia

