Ingatan Lukman seketika memenuhi pikirannya. Lukman terhempas pada kenangan masa lalu yang sangat membekas sampai detik ini. Masa lalu yang pernah Lukman lalui sangatlah memprihatinkan. Lukman terpaksa menjadi tulang punggung bagi kedua adiknya ketika usianya 12 tahun.
Lukman, Wulan, dan Lucky adalah saudara kandung yang merupakan anak dari pasangan Panji dan Yuni. Kedua orang tuanya dipertemukan oleh sebuah takdir. Panji adalah seorang pemuda yang gagah. Dia berasal dari salah satu Kabupaten di Jawa Tengah. Panji adalah anak semata wayang dari kedua orang tuanya yang bekerja sebagai petani. Dahulu, kedua orang tua Panji menginginkan Panji meneruskan kuliah setelah lulus sekolah menengah atas. Namun Panji menolak permintaan kedua orang tuanya, karena Panji merasa iba pada kedua orang tuanya yang lelah membanting tulang demi menghidupi dan menyekolahkan Panji.
Sehingga setelah lulus sekolah menengah atas, Panji langsung memutuskan untuk membuat banyak surat lamaran pekerjaan. Kemudian dirinya memasukkan surat lamaran pekerjaan itu di berbagai perusahaan. Dia berharap memperoleh panggilan kerja dari salah satu perusahaan tersebut.
Setelah menunggu satu bulan, Panji mulai mendapat panggilan kerja. Dia mengikuti tes wawancara, tapi hasil tes wawancara Panji menemui kegagalan di semua perusahaan yang memanggilnya. Hingga satu bulan berikutnya, sebuah perusahaan Advertising PT Bagyo Sejahtera memanggil Panji untuk tes wawancara. Ternyata kriteria yang dibutuhkan perusahaan, sesuai dengan kemampuan Panji. Sehingga Panji lolos tes wawancara dan keesokan harinya sudah mulai bekerja.
PT Bagyo Sejahtera advertising adalah sebuah anak cabang perusahaan milik Tuan Bagyo yang bergerak di bidang advertising, yang terletak di bilangan Jakarta Timur. Tuan Bagyo adalah pengusaha ternama, salah satunya perusahaan advertising, di tempat Panji bekerja.
Akhirnya Panji berpamitan pada kedua orang tuanya untuk merantau ke Jakarta. Panji menyewa rumah kos sederhana sebagai tempat untuk berteduh dari terik dan hujan. Tempat istirahat di kala rasa lelah melanda. Panji termasuk individu yang cepat beradaptasi. Dia juga sangat sopan hingga mampu mencuri perhatian dan rasa simpatik orang lain.
Setelah tiga bulan Panji bekerja di Jakarta, tak sengaja dia bertemu dengan seorang gadis yang menjadi office girl di kantor tempat Panji bekerja. Ketika jam istirahat, Panji hendak membuat secangkir kopi di pantri, saat itu Panji melihat seorang gadis mengenakan seragam Office girl yang sedang mengangkat kursi. Sebagai pria sejati, hati Panji terpanggil untuk menolongnya.
“Eh... Sini saya bantu!” Panji menatap gadis itu.
“Oh... terima kasih banyak.” Gadis itu tersenyum ceria.
“Memangnya kamu mau mengerjakan apa?” Panji menanyakan perihal pekerjaan yang hendak gadis itu kerjakan.
“Aku mau mengganti lampu itu.” Gadis itu menunjukkan jari telunjuknya pada salah satu lampu di sudut ruangan.
“Memangnya tidak ada orang lain yang mengganti?” Panji sudah mengangkat kursi itu.
“Ya... begitulah... siapa yang melihat ada hal yang harus dikerjakan, itu artinya sudah menjadi hal yang harus dikerjakan.” Gadis itu tersenyum pada Panji, walau rasa lelah tampak di wajah gadis itu.
“Baiklah... aku akan menolongmu! Tapi tolong pegangi kursinya, ya! Biar aku enggak jatuh! Kecuali....” Panji menghentikan ucapannya.
“Kecuali apa?” jawab gadis itu penasaran.
“Kecuali jatuh hati padamu....” Panji tertawa geli saat menggombali gadis itu.
“Astaga... aku pikir kenapa?” gadis itu tersipu malu. Ia menundukkan wajahnya sambil memegangi kursi yang sudah dinaiki Panji.
“Nah, sudah selesai! Coba nyalakan sakelarnya!” perintah Panji pada gadis manis itu.
“Sip sudah menyala!”
Panji turun dari kursi dan mengembalikan lagi ke tempatnya.
“Bang... terima kasih banget ya! Mau aku buatkan kopi?” tanya gadis itu pada Panji.
“Nah cocok banget! Ngomong-ngomong siapa nama kamu?” Panji duduk di salah satu kursi yang berada di dalam pantri.
“Panggil saja aku Yuni.” Gadis itu tersenyum sembari cekatan meracik kopi untuk Panji. Sejak pertemuan itu, mereka saling mengenal dan sering bertemu.
Nama gadis itu adalah Yuni. Gadis sederhana yang berparas manis. Dia tinggal di salah satu panti asuhan tidak jauh dari lokasi kantor tempat dia bekerja. Yuni dirawat dan diasuh oleh salah satu pengurus panti asuhan yang bernama ibu Winarni.
Yuni pertama kali bertemu dengan Winarni di depan pintu gerbang panti asuhan. Saat itu Yuni masih berusia sekitar 3 tahun. Yuni menangis sejadinya ketika gerimis mulai turun sore itu. Winarni yang hendak menutup pintu rumah panti asuhan, mendengar tangisan seorang bocah di depan gerbang. Ia menghampiri bocah itu, lalu menggendongnya di antara rinai hujan yang semakin lebat.
Winarni berusaha menenangkan bocah kecil itu dari tangisannya yang memecah suara rinai hujan. Setelah Winarni berhasil menenangkannya, Winarni menanyakan asal usul dan nama bocah itu. Dia hanya mengingat namanya dan juga ibunya. Dialah Yuni, seorang bocah malang yang sengaja ditinggalkan oleh ibunya di depan gerbang panti asuhan.
Setelah Yuni menceritakan apa yang ketahui, Winarni mengganti pakaiannya dan menyuapinya makan. Sejak saat itulah Yuni tinggal bersama Winarni di panti asuhan.
Winarni berusaha mencari tahu siapa orang tua kandung dari Yuni. Namun fakta yang diperoleh Winarni sangatlah mencengangkan. Lantaran ibu kandung dari Yuni mengalami depresi sepeninggal suaminya satu tahun lalu. Sehingga nenek dari Yuni yang sudah sangat sepuh meminta tolong pada RT untuk membawa Yuni ke rumah sakit Jiwa. Lantaran Yuni sering tidak stabil emosinya.
Winarni yang mengetahui kenyataan itu, sangat iba pada Yuni. Sehingga Winarni meminta izin pada sang nenek untuk merawat Yuni di panti asuhan tempatnya bekerja. Sang nenek mengizinkan hal itu. Tak lama setelah itu, Winarni mendengar kabar jika ibu dari Yuni telah meninggal dunia. Sehingga Yuni yang sudah dewasa hanya mengingat Winarni sebagai ibu angkatnya. Kebaikan Winarni dan kasih sayangnya selama merawat Yuni, membuat Yuni menjadi gadis yang lembut dan disiplin.
Hari yang terus berganti membuat Yuni dan Panji semakin sering bertemu. Bahkan mereka sering jalan bersama saat malam minggu. Panji mengetahui kisah Yuni yang telah menjadi yatim piatu dan tinggal di panti asuhan. Panji tidak mempermasalahkan status sosial. Baginya sikap dan perhatian yang Yuni berikan padanyalah yang membuat Panji menemukan semangat baru di perantauan.
Panji sering menggombal pada Yuni. Namun justru Yuni merasa senang dengan gombalan Panji. Seperti malam itu sesaat sebelum Panji menyatakan cinta pada Yuni. Saat itu mereka sedang makan di sebuah warung tenda nasi goreng di pinggir jalan. Seketika rinai hujan menemani mereka berdua, di antara hangatnya suasana.
“Yun... kamu malu ya, kalau aku sering ngajak makan di pinggir jalan kayak gini?” Panji menatap Yuni di sela-sela kesibukannya menyantap nasi goreng.
“Kenapa harus malu?” Yuni tersenyum manis pada Panji.
“Ya... aku kan bukan pemuda yang kaya, aku juga hanya jadi buruh di perusahaan Pak Bagyo... eh takutnya gadis manis kayak kamu, malu jalan sama aku.” Panji mulai menggoda Yuni.
“Panji... masih saja memujiku... apalah aku yang hanya anak panti asuhan... aku sama sekali tidak memandang status sosial... bagiku, kepedulian dan perhatian lebih berharga ketimbang menilai seseorang dari status sosialnya....” Yuni kembali tersenyum pada Panji.
“Hmm... kamu tahu apa enggak? Kalau aku enggak mau hujan ini berhenti.” Panji menatap rinai hujan yang masih lebat.
“Kenapa?” Yuni menatap curiga.
“Biar kamu di sini terus nemenin aku!” Panji tersipu malu dengan gombalannya sendiri. Yuni hanya tersenyum menghadapi Panji yang sering menggombal.
“Eh serius nih! Apa bedanya aku sama calon presiden?” tanya Panji.
“Ya jelas beda!” celetuk Yuni.
“Apa?” Panji menatap Yuni.
“Apa sih? Enggak tahu!” Yuni sudah tahu kalau Panji akan menggombalinya.
“Aku kasih tahu nih ya! Kalau calon presiden itu nantinya menjadi calon pemimpin negeri... tapi kalau aku bakal jadi calon pemimpin rumah tangga kita... ciyeee... eiitss... satu... dua....” Panji mulai meledek Yuni.
“Apaan sih, Bang!” Yuni tertawa geli dalam hatinya melihat tingkah Panji.
“Terus apa bedanya aku sama dokter?” tanya Yuni pada Panji.
“Hmmm... Aku tau banget!” jawab Panji dengan santai.
“Apa?” Yuni penasaran dengan jawaban Panji.
“Kalau dokter tugasnya mengobati dan memberi resep pada pasiennya... kalau kamu tugasnya mengobati hati aku yang terluka dan memberi perhatian sama aku... ahayyy... klepek-klepek kowe, Yun!” Panji tertawa puas dengan jawabannya.
Yuni tidak dapat menahan tawanya lagi. Mereka berdua tertawa bersama hingga rinai hujan pun berlalu dan Panji mengantar Yuni sampai di teras panti asuhan.
“Panji... makasih ya, udah antar aku pulang.” Yuni dan Panji berdiri di depan teras panti asuhan.
“Sudah jadi kewajibanku, Yun! Tapi... Sebenarnya ada hal yang ingin aku sampaikan sama kamu.” Panji melirik ke arah Yuni.
“Hal apa? Kalau sangat penting, silakan duduk... nanti aku buatkan minum.” Yuni sangat peduli pada Panji.
“Aku enggak butuh semua itu, Yun! Aku hanya ingin kamu jadi istriku!” Wajah Panji sangat serius menatap Yuni yang terlihat tak bisa berkata-kata setelah mendengar ungkapan hati Panji. Seseorang yang sering kali menggombal, nyatanya bisa to the point juga.
Mereka saling menutupi perasaan gugup yang selama ini tertutup oleh gurauan mereka. Yuni meremas-remas kedua tangannya karena ia merasa debaran dalam dadanya hampir meledak. Lalu Panji menggenggam kedua tangan Yuni dan berusaha menenangkan serta meyakinkan Yuni tentang keseriusan Panji yang ingin menikahi Yuni.