Sepulang dari rumah Cang Abdul, Lukman duduk di teras rumahnya. Sementara kedua adiknya masih menonton televisi. Ditemani angin malam yang berdesir di antara hiruk pikuk kota Jakarta. Malam yang kian menari seakan merayu setiap hati yang kesepian. Gemerlap kota metropolitan membuatnya menjadi kota yang tidak pernah tertidur. Lukman merasa kehidupan jalanan sudah menjadi bagian dari hidupnya, setelah ayah mereka pergi entah ke mana. Perasaan hampa masih menyelimuti relung hatinya. Semua yang pernah terjadi dan ia lalui akan membekas dalam ingatannya seumur hidup Lukman. Lukman yang mengenakan kaos oblong berwarna hitam dan celana Jeans sobek-sobek membuatnya tampak urakan. Padahal kenyataannya kebaikan Lukman seluas samudera. Tatapan Lukman tertuju pada satu titik. Hal itu berarti diri Luk

