Setelah Lukman memeriksakan luka di pelipis kirinya, dirinya sudah lumayan tenang, walau pedih masih sangat ia rasakan. Setibanya di rumah, Denok sangat terkejut dengan apa yang menimpa Lukman. Hatinya pedih melihat perban yang menempel di pelipis Lukman. Apa yang menimpa Lukman sore itu menjadi pengalaman berharga untuk Lukman dalam menerjang badai masa depan yang lebih menantang. Waktu yang menyapa bagai angin lalu yang akan terus mengejar masa depan. Waktu akan terus berjalan dan tidak akan mau menunggu. Pertemuan Lukman dengan Bang Jafar sore itu, menjadi awal mereka sering berbincang. Bang Jafar sering menemui Lukman yang mondar-mandir di terminal setiap Lukman pulang sekolah. Lukman membantu Cang Abdul di warung nasi uduknya, merangkap keliling menjual asongan, terkadang menjadi bu

