Kepala sekolah itu memberikan nomor teleponnya Valen dan Evan langsung mencatatnya. "Aku betul-betul tidak akan dipecat kan, pak? Aku sekarang menjadi tulang punggung keluarga, Pak. Bukan hanya untuk aku dan suamiku yang sudah stroke, dan gak bisa kerja lagi, tapi juga untuk cucu-cucuku dan anakku. Jadi, please..." suara kepala sekolah itu sangat memelas di ujung telepon. "Aku tidak akan memecat ibu. Dan ketahuilah, kalau masalah aku dan Valen itu, tidak sesederhana yang ibu pikir. Dan aku bukanlah seorang tua-tua keladi atau seorang buaya darat yang biasa main-main dengan gadis muda. Aku tidak seperti itu!" "Iya, pak. Aku percaya, Pak." Saat ini, sebenarnya Evan ingin memberitahu tentang masalah keluarganya. Tapi tidak etis untuk memberitahu masalah keluarganya kepada sembarang oran

