Vivian marah besar ketika melihat Selina membeli piano dan berlari ke arahnya, siap untuk menamparnya. "Kamu perempuan licik!" teriaknya. Selina menghindar, tersenyum sinis. "Oh? Apakah akting bunga teratai putihmu sudah berakhir?" Wajah Vivian menjadi gelap, "Bagaimana beraninya seorang kampungan seperti kamu membeli piano? Apakah kamu bahkan bisa memainkannya?" Selina mengedipkan mata dengan polos, "Dan siapa yang memutuskan bahwa seseorang harus bisa memainkannya sebelum membelinya? Kamu marah karena kamu ingin piano ini, kan? Sayang sekali kamu kehabisan uang, dan seorang gadis miskin seperti aku yang akhirnya membelinya." Vivian merasa setiap kata menusuk kebanggaannya, dan wajahnya memerah karena amarah. "Kau... kau berencana melawan aku kemarin! Aku belum mulai membalas dendam

