Part 3: I've Done a Great Job

1014 Words
"Saya akan memotong gaji kamu sebanyak 80%." Situ ngajak gulat, Mas? Belum pernah merasakan jurus totok ular sanca Tabitha? "Bapak memang suci dan saya penuh dosa," pekikku dramatis, histeris dengan pernyataannya barusan yang membuatku terhuyung lebay. "Jangan kebanyakan nonton tontonan nggak berbobot. Nggak bagus buat kejiwaan kamu," katanya sambil menatap laporan di mejanya. "Apalagi nanti kamu tularin penyakit kejiwaan itu ke Talitha. Sudah saya ingatkan, ya. Jangan berani kamu melanggarnya." Loh memangnya penyakit jiwa dapat menular? Kukepang juga bibirmu, Mas! "Lebih baik kamu tutup mulut kamu itu sebelum saya membuatnya jadi bengkak seperti disengat lebah!" Rafael berucap dengan sarkatis. Eh? Caranya gimana? "Mending kamu temenin Talitha sekarang. Pasti sekarang dia lagi sibuk berdebat sama Dexter," usir Rafa. "Tabitha, asisten saya yang paling jelek dan kurang ajar semuka bumi. Sekarang juga kamu temenin Talitha di depan sebelum saya gulingkan kamu dari lantai 28 ini!" Nah 'kan! Ujung-ujungnya dia ngancam. Pakai bilang orang jelek segala. "Saya juga sadar diri kali, Pak, kalau muka saya di bawah standar," protesku kemudian segera keluar dari ruangannya. Bisa terjadi peningkatan tekanan darah yang akan mengakibatkanku terkena penyumbatan pada pembuluh darah yang berakhir dengan penyakit stroke jika terlalu lama berada dalam satu ruangan dengan makhluk bernama si Tengil Rafael Gumilar. Untung mukanya bernilai 101 dari nilai 100. Kalau nggak, pasti udah aku ceburin ke Sungai Ciliwung. Biar mati kelelep disana. * "Lili, ayo kita pulang. Nanti aku masih harus balik ke kantor lagi." Buat ngurusin papa gendheng kamu itu, sambungku dalam hati dengan perasaan dongkol. "Yah... Kok gitu, sih? Padahal Lili 'kan pengen disini sama kalian." Gadis kecil itu menunjukkan raut kecewanya. Emang anak ini nggak ada saudaranya? Lili berhasil mempengaruhiku. Siapa yang bisa tahan dengan muka polosnya itu? "Hmn... Gimana, ya. Kamu coba tanya Papa kamu, deh. Aku takut diterkam. Kamu mau aku digigit harimau?" tanyaku sambil mengelus puncak kepalanya. "Nggak mau, Kak. Sekarang Lili tanya Papa, ya. Kakak Cantik tunggu disini." Cup! Si Manis itu mencium pipiku sebelum berlari menerobos ke ruangan ayahnya. 20 menit aku menunggu, entah apa yang anak dan ayah itu bicarakan di dalam. Aku duduk di kursi yang ada di depan meja sekretaris sambil mengutak-atik ponselku untuk mencari hiburan. Cklek! Pintu yang harganya selangit itu terbuka. Menampilkan sosok tinggi besar yang sedang menggendong anak perempuan di tangan kirinya. "Kakak Cantik! Papa ngizinin kok. Tapi dengan syarat harus ngikutin semua ucapan papa. Gimana? Berarti Lili boleh disini, ya." Ya Tuhan, ini benar-benar malapetaka. Itu berarti aku harus siap jadi jongos seorang Rafael Gumilar? Serius? Demi apa? Mau menolak tapi aku nggak tega pada mata coklat terang itu. Takut membuatnya kecewa dan harapannya pupus. Takut mata itu nggak bersinar lagi seperti sekarang. "Oke. Lili disini, ya." Aku memberikan senyum terbaikku. Sedangkan iblis dari dunia lain itu menarik sudut bibirnya ke atas. Dari sudut mataku, terlihat sekretaris berwajah sedatar triplek itu melipat bibirnya, menahan senyuman atas kesialanku hari ini. * "Lili. Papa udah bilang berapa kali. Jangan ganggu Kakak Cantik atau Papa suruh supir antar kamu pulang dan perjanjian batal." Oh. Kenapa disaat seperti ini suara pria itu terdengar sangat... seksi. Seandainya pria itu berwatak ramah dan bermulut sedikit manis, mungkin aku akan... Hush, Tabitha! Ngaco kamu! Untuk saat ini, aku nggak mau terlibat dalam sebuah hubungan dulu. Aku bahkan belum genap 6 bulan putus dari Angga. Bukan berarti aku belum move on, tetapi lebih kepada pleasure of being single. Dalam setahun kami berhubungan, pria itu sangat—terlalu menjagaku. Nggak ada ciuman apapun. Paling jauh untuk kami hanya bergandengan tangan. Apakah selama ini pria itu nggak memiliki setitik perasaan padaku? Dan begitupun denganku? "Tapi, Pa. Lili cuma mau pinjem pulpen. Papa nggak asyik, deh. Marah-marah mulu kayak Bang Gaga." Si Manis itu mempoutkan bibirnya. I swear to God, itu adalah yang terlucu dari semua ekspresinya. Ya Tuhan, seandainya gadis lucu itu adalah anakku, mungkin hari-hariku akan penuh warna seperti ini. Omong-omong, siapa itu Gaga? Apa dia juga bagian dari keluarga Gumilar? "Sepertinya kamu makin nggak sopan, ya, Talitha. Kamu mau hukuman apa kali ini? Sepertinya makan dua puluh buah cabe bukan hal yang susah, mengingat kamu udah pernah mencoba makan setengahnya," kata Rafa dengan tegas. Atmosfer ruangan ini jadi lebih menegangkan. Kulihat, Talitha menundukkan kepalanya. Kasihan dia. "Maaf, Pa. Lili salah." Suaranya terdengar lirih seperti terbawa angin. Rafa memijat keningnya, mungkin karena kepalanya mendadak berdenyut. Aku tau, sikap Lili juga salah. "Udah deh, Pak! Lagian Lili udah minta maaf kok," seruku sambil mendekati Lili yang matanya udah berkaca-kaca. "Saya nggak meminta komentarmu, lebih baik kamu tutup mulut cerewet kamu itu. Lagian, berani-beraninya kamu mendikte saya?!" Aku mendiamkan Rafa, tapi mataku membalas tatapan dengan mendelik. Biarkan saja. Siapa suruh jadi Papa kejam banget. "Lili. Sayang, lihat aku." Aku mengangkat dagu Lili supaya bisa melihat ke arahku yang sedang berjongkok, menyejajarkan tinggi kami. "Lili nggak boleh gitu sama Papa. Nggak boleh bilang Papa nggak asyik atau apapun karena itu nggak sopan. Guru di sekolah ada ngajarin juga 'kan?" tanyaku sambil menghapus air matanya. "Iya. Lili salah, Lili minta maaf," katanya yang langsung memelukku dengan erat. Memang moral education harus diajarkan dari kecil. Kadang aku geleng-geleng kepala melihat orang yang menerobos antrian juga lampu merah. Apa karena ini juga negara kita nggak bisa maju? Itu juga termasuk tindakan amoral 'kan? Aku melirik ke arah Rafa. Iblis itu menatap putrinya dengan pandangan datar. Aku tau, dia kesal juga bangga. Kesal karena putrinya berani meledeknya dan bangga karena putrinya berani mengakui kesalahannya. Aku mengangkat Lili untuk duduk di pangkuanku sambil mengelus punggungnya, sedangkan Rafa memutar kursinya menghadap jendela kaca yang ada di belakangnya. Cukup besar untuk melihat pemandangan kota yang sedang macet-macetnya karena ini sedang jam makan siang. * Setelah hampir satu jam Lili duduk di pangkuanku karena nggak mau kulepaskan di atas sofa, gadis itu akhirnya tertidur dalam pelukanku. Wajahnya menyelusup di antara leher dan bahuku, bahkan terdengar suara dengkuran kecilnya. Merasa kasihan, aku berencana membawa dia pulang untuk beristirahat. "Pak, saya antar Lili pulang dulu, ya. Saya akan balik lagi nanti," kataku untuk meminta persetujuan. Ia memutar kursinya. "Nggak perlu balik lagi, you've done a great job today! Do not forget your lunch," katanya dengan intonasi yang lebih kalem dari biasanya. Aku tersenyum tipis dan suprisingly, dia membalas senyumku dengan senyumannya yang memesona. Tabitha, kamu yakin nggak akan jatuh pada iblis tampan itu?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD