Emir mengemudikan mobilnya dengan santai dan Haidar tampak sedang mendengarkan muratal Al-Qur'an seperti biasanya pada ponsel milik Najla, dengan sebelah earbuds saja yang menempel di telinga kanannya. "Tampaknya kau jadi ketagihan menggunakan ponsel milik Najla, hm?" goda Emir. Haidar pun tersenyum. Ia menjeda sejenak muratal Al-Qur'an yang tengah didengarnya saat itu. "Najla tidak keberatan saat aku tetap memakai ponselnya, meski kini sudah tak ada lagi ancaman apapun dari Tuan Erdem atau Syima. Aku juga merasa senang karena bisa memegang ponselnya setiap saat, karena ponsel ini menyimpan banyak hal yang menyangkut dengan ilmu. Aku bisa mendengar muratal Al-Qur'an, bisa membaca-baca hadits, bahkan bisa membaca semua kisah-kisah sejarah Para Nabi dan Rasul jika sedang tak ada kerjaa

