Najla--yang sejak tadi diam saja--pun seketika menoleh ke arah Dokter Jocelyn setelah mendengar apa yang dituturkannya. "Ma--maaf Dokter... bukankah... itu tadi adalah isi hipotesis yang aku buat saat semester satu?" tanya Najla. "Ya, kau benar sekali Sayang. Itu memang isi hipotesis yang kau buat mengenai penjabaran perasaan manusia secara ilmiah. Aku mengutipnya karena merasa hal itu memang benar adanya," jawab Dokter Jocelyn seraya mengusap punggung Najla dengan lembut. "Ba--bagaimana, Dokter?" sela Haidar. "Apa yang anda katakan tadi adalah isi hipotesis dari kuliah psikologi milik Najla? Maksudku... Najla membuat hipotesis mengenai penjabaran perasaan manusia secara ilmiah?" tanyanya, mendadak merasa penasaran. "Ya, itu benar Tuan Haidar. Najla membuat hipotesis dengan judul s

