Lagi-lagi dia harus melayani Charlie di tengah suasana hatinya yang buruk. Apalah daya, dia tidak bisa menghindar apalagi pria itu begitu memaksa. Dia pun tidak ingin menikmati percintaan itu tapi tak ada satupun orang yang dapat menolaknya. Tatapan matanya menerawang, dia malas untuk bangun dan dia malas berpikir padahal sesungguhnya dia takut dengan hubungan mereka yang semakin tak terkendali saja. Dia pun tak ingin membicarakannya karena mereka sudah membahasnya kemarin. Dia tahu dia tidak perlu memikirkannya karena Charlie pun tidak memikirkannya tapi rasa cemas dan khawatir menghantui dirinya. Charlie menariknya mendekat, memeluknya semakin erat. Zoey berusaha menyingkirkan tangan pria itu karena dia harus bersiap-siap untuk bekerja. “Lepaskan, Charlie. Kita harus segera bangun. J

