Bab 11. Masalah Mulai Terjadi

1140 Words
Masalah yang tadinya kecil, tiba-tiba saja menjadi besar. Kedua orang tua Zoey jadi sibuk karena ada masalah dengan perusahaan mereka. Tadinya sudah ditangani tapi tiba-tiba saja masalah itu semakin meluas yang membuat mereka harus membayar banyak kerugian yang dialami oleh para pengusaha yang mulai menuntut mereka. Mereka mulai dituduh melakukan penipuan sehingga merugikan banyak orang. Ayah Zoey berusaha membela diri dan mengatakan bahwa dia tidak menipu siapa pun tapi segala bukti yang diberikan membuatnya tak bisa mengelak karena dia memang terlibat dengan proyek yang sedang dijalani bahkan dialah yang memimpin proyek itu. Satu masalah itu belum cukup karena timbul masalah yang lainnya. Entah apa yang terjadi, masalah demi masalah mulai mereka dapatkan. Mereka berusaha keras untuk menutup kerugian tapi sayangnya masalah tak kunjung selesai. Para karyawannya mulai berdemo karena gaji mereka belum dibayarkan selama 2 bulan. Itu karena uang perusahaan digunakan untuk membayar kerugian yang terjadi. Kedua orang tua Zoey sudah tak tahu harus melakukan apa karena mereka telah berusaha keras untuk menyelamatkan perusahaan mereka. "Bagaimana ini, Dad?" Ibu Zoey tampak cemas. Tatapan matanya tertuju pada para karyawan yang berdemo di luar sana. "Aku juga tidak tahu, Mom. Aku telah berusaha tapi sepertinya hanya sampai di sini saja perjuangan yang bisa aku lakukan!" David Madison tak kalah cemas melihat keadaan yang terjadi. "Apa yang sebenarnya terjadi, kenapa semuanya jadi seperti ini?" Padahal awalnya baik-baik saja. Mereka telah menangani beberapa masalah tapi masalah lain justru mencuat seolah-olah ada yang menyulut api. "Aku juga tidak tahu. Semua proyek yang kita tangani gagal sehingga membuat kita harus membayar kerugian dan kau sudah melihatnya. Padahal selama ini kita tidak pernah mengalami hal seperti ini tapi entah kenapa kali ini kita benar-benar sial!" Dia tidak menaruh curiga pada siapa pun padahal ada seseorang yang sedang berusaha menghancurkan mereka. "Sekarang bagaimana?" Linda Madison, kembali terlihat cemas. Suaminya tampak mengusap dahinya berkali-kali karena dia tidak tahu apa lagi yang harus dia lakukan. Mereka tidak memiliki uang lagi untuk membayar para karyawan itu dan mereka juga masih memiliki hutang dengan beberapa pengusaha. Sekalipun rumah dan perusahaan itu dijual, uangnya tidak akan cukup untuk menutupi semuanya. "Mom, Dad, apa yang terjadi?" Tiba-tiba saja Zoey menerobos masuk. Dia hampir dikeroyok oleh para pendemo tapi beruntungnya dia dapat meloloskan diri. "Kenapa kau datang kemari, Zoey?" Ibunya bergegas menghampiri putrinya, "Bukankah kami sudah melarangmu untuk datang tapi kenapa kau tidak mendengarkan kami?" Padahal situasi sedang kacau tapi putrinya justru tidak mendengarkan larangan yang mereka berikan. "Aku ingin tahu apa yang telah terjadi dengan perusahaan Daddy? Dan kenapa mereka semua berdemo di luar sana?" Dia tahu perusahaan ayahnya sedang dalam masalah tapi dia tidak tahu masalah yang terjadi begitu besar. "Kami juga tidak tahu, Zoey. Satu masalah telah selesai tapi timbul masalah lainnya dan semua yang terjadi seolah-olah tidak akan berakhir. Kau lihat sendiri, mereka berdemo karena kita sudah tidak membayar gaji mereka selama 2 bulan." "Apa?" Zoey tampak terkejut dengan perkataan ibunya. Kenapa tiba-tiba saja perusahaan mereka berada dalam masalah? "Kita tak dapat melakukan apa pun lagi dan sepertinya sebentar lagi ayahmu akan dijebloskan ke dalam penjara," ibunya menangis. Dia tidak sanggup jika sampai hal itu terjadi tapi bagaimana caranya mereka bisa keluar dari situasi itu? "Kenapa Daddy harus masuk penjara, Mom?" "Karena kita tidak mampu membayar gaji mereka dan kita tidak mampu lagi membayar kerugian yang harus kita bayarkan pada beberapa pengusaha itu. Mereka pasti akan membuat laporan jika kita telah menipu mereka!" "Tidak mungkin!" Zoey tampak tidak percaya. "Kau tidak perlu khawatir, Zoey. Kami bisa menanganinya jadi kau tidak perlu khawatir," ayahnya berusaha menenangkan putrinya karena dia tidak mau Zoey cemas. Penyakitnya akan kambuh jika putrinya terlalu cemas oleh karena itu dia harus mengatakan jika semuanya baik-baik saja meskipun keadaan tidak sedang baik-baik saja. "Aku tahu semuanya tidak baik-baik saja, Dad. Katakan apa yang bisa aku lakukan, aku akan berusaha membantu." "Yang perlu kau lakukan hanyalah menjaga kesehatanmu. Ini semua permasalahan kami jadi kau tidak perlu khawatir," ibunya berusaha tersenyum padahal dalam hatinya dipenuhi dengan perasaan cemas. "Aku akan mencoba mencari bantuan!" "Apa? Ke mana kau mau mencari bantuan?" Ibunya berusaha mencegah karena Zoey sudah akan pergi. "Aku tidak tahu, Mom. Aku tidak bisa diam saja melihat kalian berada di dalam masalah. Meskipun aku tidak tahu harus mencari bantuan ke mana tapi aku harus melakukannya. Aku tidak bisa duduk diam menunggu kehancuran kalian berdua. Tunggulah, aku yakin akan mendapatkannya!" "Jangan melakukan sesuatu yang tidak perlu kau lakukan, Zoey!" Ucap ayahnya. "Aku tahu, Dad!" Zoey sudah keluar dan lagi-lagi dia dikerumuni oleh para karyawan yang menuntut hak mereka. Zoey menghindari mereka dengan susah payah dan setelah dia berhasil meloloskan diri, dia justru bertemu dengan orang yang sangat tidak ingin dia temui. Entah apa yang dilakukan, tapi Rain berada di sana. Dia seperti mengetahui keberadaan Zoey dan sepertinya dia pun tahu apa yang telah terjadi dengan perusahaan ayah Zoey. "Kenapa kau begitu terburu-buru, Zoey? Apa telah terjadi sesuatu pada perusahaan ayahmu?" "Menyingkir. Semua yang terjadi tidak ada hubungannya denganmu!" Zoey bersikap sinis. Padahal dia tidak mau bertemu dengan pria itu lagi tapi kenapa dia berada di sana? "Apa kau yakin?" Rain tersenyum, Zoey menatapnya dengan tatapan curiga. "Apa maksud perkataanmu, Rain? Apa kau telah melakukan sesuatu pada perusahaan ayahku?" "Hei, jangan menuduh jika kau tidak ada bukti. Semua yang terjadi pada kalian akibat kesombongan yang kalian miliki. Kalian tidak mau membantu aku saat itu dan lihatlah, kalian mendapatkan karmanya. Memang sudah waktunya kalian hancur dan perusahaanku justru berkembang dengan pesat. Kalian tidak pernah membayangkan hal ini akan terjadi, bukan?" "Aku tidak mau berbasa basi denganmu!" Zoey melangkah pergi, tapi Rain belum selesai. "Tunggu, Zoey!" Permintaannya menghentikan langkah Zoey sejenak. "Aku tahu kau membutuhkan bantuan karena ayahmu terancam akan berada di dalam penjara. Jika kau mau memohon padaku maka aku akan membantu dirimu. Aku akan menyelesaikan permasalahan yang terjadi tapi dengan satu syarat, kau harus memohon dan kembali padaku!" "Aku tidak butuh bantuanmu, Rain. Dengan perusahaanmu yang baru saja berkembang, Apa kau pikir kau mampu membantu aku menyelesaikan permasalahan yang terjadi?" "Jangan meremehkan aku, Zoey. Tidak akan ada yang bisa membantu dirimu selain aku jadi pikirkanlah baik-baik. Jika kau memang ingin ayahmu berada di dalam penjara maka kau bisa menolak tawaranku tapi jika kau menyayangi kedua orang tuamu maka pikirkanlah tawaran yang aku berikan. Aku tidak meminta banyak, aku hanya menginginkan kau kembali saja!" "Jika memang tidak ada yang bisa membantu kami maka biarlah kami bertiga berada di dalam!" Perkataan Zoey membuat Rain kesal. "Jadi kau lebih rela berada di dalam penjara dari pada kembali padaku?!" Dia berteriak dengan keras. "Aku tidak sudi kembali dengan pengkhianatan seperi dirimu!" Zoey melangkah pergi, meninggalkan dirinya. Sekalipun tidak ada yang bisa membantu mereka, dia tidak akan pernah mengemis pada Rain dan kembali pada dirinya tapi entah kenapa dia jadi curiga, apakah semua itu ulah Rain? Dia akan mencari tahu nanti karena yang harus dia lakukan saat ini adalah mencari bantuan tapi ke mana dia harus mencari?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD