Chapter 6
Selalu Mengancam
Bianca sedang mengamati pohon bunga Peony yang tingginya belum ada satu jengkal, menunggu waktu tiga tahun untuk Peony berbunga rasanya sangat konyol.
Sialan! Tetapi, obsesinya menanam dan merawat bunga sendiri sudah bulat. Lagi pula menanti Peony-nya berbunga lalu bunga itu akan hidup selama lima puluh sampai seratus tahun menurutnya waktu tiga tahun terlalu singkat untuk sebuah penantian, itu sungguh sepadan.
Bianca mencatat perkembangan pohon Peony dan bunga lain di bukunya sebagai rutinitasnya setiap pagi setelah membuka toko dan Alma bertugas menjaga tokonya. Bianca juga memperkerjakan satu orang untuk membantunya mengurus tumbuhan di rumah kaca karena mustahil semua dikerjakan sendiri.
"Bianca, apa kau sudah melihat bunga Lily kita??" tanya Don, orang yang ia percaya membantunya merawat bunga.
"Aku belum melihatnya pagi ini," kata Bianca.
"Kau harus melihatnya, ada satu yang memiliki kuncup. Sepertinya ia akan berbunga!" katanya dengan penuh semangat.
Bianca bergegas menuju bunga Lily of the Valey berada, sedangkan Dpon menunjukkan pohon mana yang memiliki kuncup.
"Lihatlah!" kata Don.
"Ya Tuhan...," desah Bianca hampir tak percaya lalu senyum merekah di bibirnya.
Menanam bunga Lily of the Valey dari biji membutuhkan waktu dua tahun untuk berbunga, untungnya ia memilih menanam bunga itu dari umbinya meskipun ia hanya mendapatkan lima umbi karena mahalnya bibit dari umbi. Saat membeli umbi ia telah memperhitungkan dengan saksama sehingga menurutnya lima bibit sudah cukup untuk nantinya ia budidayakan.
Bianca mengambil bukunya untuk mencatat perkembangan bunga itu lalu mengambil ponselnya dan mengambil beberapa foto bunga Lily, kebahagiaan memenuhi setiap inchi tubuhnya. Matanya yang hijau berpendar-pendar bak bintang di langit malam.
"Don, kau harus lebih memperhatikan kelembapan tanah bunga ini. Namun, jangan terlalu banyak air agar akarnya tidak busuk," kata Bianca.
"Aku mengerti," jawab Don.
"Bianca...," kata Alma sembari berjalan ke arah Bianca. "Pria itu, dia datang lagi."
"Pria?" tanya Bianca dengan alis berkerut.
"Pria yang membeli 1001 bunga, dia bilang ingin menagih utang padamu."
"Utang?" tanya Bianca terkejut dan pendar indah di matanya seketika menghilang.
"Bi, apa kau sedang dalam masalah keuangan?" tanya Don.
Bianca mendengus. Utang apa? Evander pasti mengada-ada, batin Bianca jengkel. Memalukan saja!
Bianca segera menuju toko dan di sana Evander duduk dengan menyilangkan kakinya sambil menggeser-geser layar ponselnya.
"Ada apa kau ke sini?" tanya Bianca dengan judes.
"Kau meninggalkanku di Four Season," ucap Evander tanpa mengalihkan pandangannya dari ponselnya.
Bianca bersedekap. "Bukankah sudah ada si pirang itu yang menemanimu?"
Evander mengalihkan pandangannya pada Bianca, rambut panjang wanita itu diikat asal-asalan, bibirnya memakai lipstik warna merah muda yang samar, dan matanya yang hijau menatapnya dengan sinis.
Pemandangan seperti itu membuatnya cukup terhibur dan membuat Bianca semakin judes menjadi salah satu kegemarannya sekarang. Semakin wanita itu merengut, semakin Evander suka karena wanita yang mengenalnya apa lagi tahu jika dirinya adalah bos di Binter Canarias, semakin ingin mereka mendekat padanya dan Evandar risi dengan hal itu.
"Hari ini aku ingin kau menemaniku sarapan," kata Evander.
Dasar pendendam, batin Bianca jengkel. Kejadian ia meninggalkan Evander di restoran sudah berlalu tiga hari yang lalu kenapa masih diungkit-ungkit?
"Aku sudah sarapan," kata Bianca sambil menatap Evander malas.
"Tapi aku belum," ujar Evander seraya berdiri. "Kulihat tidak jauh dari tempat ini ada kedai kopi."
"Kau ingin sarapan atau minum kopi?" tanya Bianca tanpa menutupi kekesalannya.
"Aku ingin keduanya karena kita belum selesai mengobrol kemarin."
Bianca mendengus. "Kau lihat, 'kan? Tokoku baru buka, aku tidak bisa menemanimu mengobrol."
Evander menatap Bianca seolah mengancam dan membuat Bianca menghela napas kasar.
"Baikalah, hanya tiga puluh menit," ujar Bianca.
Keduanya keluar dari toko bunga berjalan kaki menuju kedai kopi yang jaraknya sekitar dua ratus meter dari La Luna Florist keduanya berjalan beriringan.
"Bagaimana kabar ayahmu?" tanya Evander.
"Dia baik-baik saja," jawab Bianca singkat.
"Apa dia masih mengajar?"
"Tentu saja."
Evander tersenyum karena jawaban-jawaban Bianca yang cukup singkat dan nadanya sama sekali tidak bersahabat.
"Ayolah, Bi. Bisakah kau melupakan kejadian itu?"
"Aku sudah melupakannya."
"Benarkah?"
Bianca tidak menjawab karena mereka tiba di kedai kopi dan Evander mendorong pintu kedai itu. Mereka tempat duduk yang tak jauh dari pintu masuk karena itu satu-satunya tempat yang tersisa, mungkin karena hari Sabtu sehingga banyak pengunjung dan suasanya di sana lumayan ramai dan bising. Bianca tidak menyukai suasana sepeti itu.
"Apa yang ingin kau minum?" tanya Evander seraya men-scan barcode menu yang ada di meja.
"Apa saja yang penting bukan kopi."
"Jadi, kau tidak menyukai kopi?"
"Ya."
"Kutebak kau belum pernah ke sini."
"Ya."
Evander tersenyum lagi karena jawaban-jawaban singkat Bianca yang judes. "Aku tahu apa yang kau suka."
"Teh bunga," jawab Bianca malas.
"Sudah kuduga, bagaimana dengan teh Chamomile?"
Bianca mengangguk.
"Omong-omong kenapa kau memilih bisnis bunga? Bukankah dulu kau bilang ingin menjadi akuntan publik?"
Bianca tersenyum tipis dan matanya berbinar, Evander bersumpah jika senyum Bianca sangat menawan dan mata hijau itu sangat indah membuat jantungnya berdesir.
"Merangkai bunga adalah seni bagiku, dan wanita mana yang tidak menyukai bunga?"
Namun, seingatnya Vanya pernah marah-marah saat Ares memberinya bunga mawar yang memenuhi bagasi mobil. Seingatnya Vanya hanya suka bermain Mobile Legend, berenang, dan sekarang sedang bergabung dengan club fotografi. Jadi, pemikiran Bianca jika semua wanita menyukai bunga sepertinya hanya pemikiran secara objektif saja.
"Dan kudengar dari pegawaimu kalau kau memiliki kebun sendiri di belakang toko."
"Hanya kebun kecil, aku baru membangunnya satu tahun."
Benar-benar unik karena Bianca bahkan bukan sarjana pertanian, tetapi berani mengambil langkah besar, batin Evander dan ia diam-diam mengagumi kebaranian Bianca mengambil langkah besardi luar dasar pendidikannya.
"Jadi, semua bunga yang kau jual itu hasil dari kebunmu sendiri?" tanya Evander.
Bianca menggeleng. "Kebunku belum menghasilkan apa-apa."
Seorang pelayan wanita datang dan meletakkan secangkir kopi dan teh Chamomile juga beberapa potong bread garlic yang atasnya ditutupi keju mozarela yang meleleh. Aromanya membuat Bianca ingat bread garlic buatan ibunya yang menurutnya terbaik dan ia sangat merindukan masakan ibunya. Sayang sekali ia belum memiliki waktu untuk pulang ke Barcelona dan hanya bisa berangan-angan menikmati bread garlic buatan ibunya.
"Malam ini aku ada pertemuan dengan Client, aku ingin kau pergi bersamaku."
Bianca yang baru saja hendak mengangkat cangkirnya menghentikan gerakannya.
"Aku tidak bisa," kata Bianca cepat-cepat.
"Bi...." Evander menatap Bianca dengan tatapan mengancam.
"Bisakah kau tidak kekanakan dan terus mengamcamku?"
Bersambung....
Jangan lupa komentar dan rate-nya ya biar rame kakak kakak semua.