Bab.2 Wanita Rendahan

1316 Words
  “Plak!” Lovena kembali tersadar. Dia dibangunkan dengan sebuah tamparan. Ada rasa sakit yang membara di wajahnya. Dia ingin berteriak, tapi mulutnya ditutup rapat oleh seseorang.   Matanya masih tertutupi oleh kain sutra, dia tidak dapat melihat situasi di depannya dengan jelas. Dia hanya tahu dirinya didorong keluar secara brutal dari kamar itu oleh dua orang.   Tepat saat Lovena berjalan sampai ke pintu kamar, dia berpapasan dengan seorang wanita muda dan cantik.   Wanita itu tampak arogan. Ketika wanita itu melihat kissmark yang terdapat di sekujur tubuh Lovena, ada kilat kecemburuan yang muncul di matanya.   Kalau saja rencananya untuk mendekati Gerald tadi malam berhasil, mana mungkin tiba giliran wanita ini yang tidur dengannya?   Wanita dengan kacamata berbingkai hitam mendekati wanita muda itu dan bertanya lembut, "Nona, apakah Anda ingin melihat wajahnya?"   Mendengar ini, wanita muda itu terkejut untuk sesaat. Sosok dan penampilannya memang agak mirip dengan Lovena. Namun, sesaat kemudian, dia mencibir dengan jijik, "Dia hanya seorang wanita rendahan! Tidak ada bagus-bagusnya, bawa dia pergi!"   Setelah wanita itu selesai berbicara, dia melangkah pergi dengan sepatu hak tingginya dan masuk ke kamar. Setelah memasuki kamar, dia melepas pakaiannya yang seksi dan indah, memperlihatkan jejak ambigu yang sengaja dibuat pada kulit seputih saljunya. Kemudian, dia membuka selimut dan berbaring di tempat tidur.   Ketika dia melihat noda darah gelap di seprai putih, tangannya mengepal erat sebelum dia tersenyum lagi.   Tidak masalah. Dia akan segera menjadi Nyonya Muda dari Keluarga Syahrir. Semua orang akan memandangnya dengan tatapan kagum, memuja, atau bahkan iri.   Setelah puas tertawa, air mata mulai mengalir di matanya.   Sandiwara semacam ini sangat mudah bagi seorang aktris.   Wanita itu meringkuk, tubuhnya yang ramping dan indah sedikit gemetar.   Keesokan harinya setelah kejadian ini, ayah Lovena dengan semangat memberi tahu putrinya bahwa utangnya telah dilunasi.   Lovena menandatangani perjanjian untuk melahirkan seorang anak. Setelah semuanya berkembang hingga ke tahap ini, meski Lovena bodoh, tentu dia sudah tahu apa yang sebenarnya terjadi.   Ditiduri semalam oleh pria itu adalah transaksi yang dimaksudkan di sini.   Mengingat pengalamannya tadi malam, itu bukanlah b******a, melainkan murni sebuah tindak penyiksaan. Sedari awal hingga akhir, pria itu hanya menganggapnya sebagai objek pelampiasan hasrat, tidak ada yang namanya kasih sayang dan kelembutan.   Lovena masih merasakan sisa-sisa ketakutan dari kejadian semalam. Sekali lagi, air mata duka mengalir di pipinya.   Daripada ditiduri oleh pria itu, dia lebih memilih menjadi ibu pengganti!   Sejak saat itu, orang-orang itu tidak lagi membahas tentang surogasii. Bahkan mereka seolah-olah telah lupa akan keberadaan Lovena.   Tidak ada lagi yang membuat kekacauan di rumahnya. Sang ayah juga berjanji pada Lovena dan ibunya untuk mulai bekerja dengan baik. Dia tidak akan berinvestasi besar-besaran lagi demi menjadi orang kaya dalam semalam. Kehidupan Lovena beserta keluarganya berangsur-angsur menjadi tenang.   Malam itu hanya seperti mimpi buruk dalam hidup Lovena. Setelah terbangun dari mimpi itu, dia tetaplah Lovena Kiara, putri dari orang tuanya.   Tapi Lovena tahu persis, semuanya tidak lagi sama.   Tiga hari kemudian, Lovena segera kembali ke kampus setelah tubuhnya pulih.   Setelah sepanjang hari belajar di kelas dengan tidak fokus dan dilanjutkan belajar mandiri di malam hari, Lovena tanpa sadar menuju ke tepi Danau Kekasih yang berada di area taman kampus.   Dari kejauhan, Lovena memandang seorang pemuda tinggi dan tampan yang berbalut kemeja putih. Pemuda itu berdiri di dekat jembatan yang terang benderang. Pemuda itu memandang sekeliling, seolah sedang menunggu seseorang.   Itu seniornya di kampus, Ferry Chandra!   Hati Lovena terasa sesak. Seakan ada yang menyayat hatinya hingga berdarah-darah.   Sehari sebelum kejadian itu, Ferry mengajaknya bertemu di tepi Danau Kekasih. Pria itu ingin menyampaikan sesuatu yang penting kepada Lovena.   Tepat pada sore itu, Lovena menerima telepon dari ibunya dan bergegas pulang.   Ferry Chandra adalah idola kampus di Universitas A, dia juga seorang ketua senat mahasiswa. Penggemarnya yang berjenis kelamin perempuan sangat banyak hingga tak terhitung jumlahnya.   Pada mulanya, Lovena juga tidak memiliki kesempatan untuk dekat dengan orang sesempurna Ferry. Namun, Lovena secara tak sengaja berkenalan dengan Ferry saat bergabung dalam klub sukarelawan.   Seiring berjalannya waktu, ketertarikan antara keduanya semakin menguat. Perasaan keduanya datang dengan begitu apa adanya dan jujur.   Namun, Lovena tidak lagi merasa pantas bersanding dengan Ferry. Semua ini dikarenakan dia sudah bukan Lovena yang bersih dan suci.   Sebelum air matanya menetes, Lovena berbalik dan pergi dari sana. Namun, kebetulan sekali Ferry menoleh kemari dan melihat Lovena.   "Lovena, kamu sudah datang?" Ferry berlari ke arah Lovena dengan senang, di tangannya ada seikat bunga segar.   Karena terlalu gugup, Ferry tidak langsung menyadari keanehan di wajah Lovena. Dia berkata dengan cemas, "Lovena, beberapa hari ini kamu tidak ke kampus, ponselmu juga tidak bisa dihubungi. Aku menunggu kamu di sini setiap malam. Kamu tidak apa-apa, kan? Aku sangat mengkhawatirkanmu!"   Pria ini menunggunya di sini setiap malam?   Lovena tidak bisa menahan diri lebih lama lagi dan pecahlah tangisnya.   Ferry seketika panik. Dia memberanikan diri untuk memeluk Lovena, "Lovena, kamu kenapa?"   Lovena mencengkeram bahu Ferry, seperti binatang kecil yang terluka. Dia menangis sesenggukan, air matanya tidak bisa berhenti mengalir.   Jika hal semacam itu tidak terjadi, pria sempurna ini akan menjadi miliknya. Tetapi, Lovena yang sekarang sudah tidak lagi pantas memilikinya!   Setelah Lovena selesai meluapkan emosinya, gadis itu kembali tenang dan mendorong tubuh Ferry menjauh. Matanya memancarkan keteguhan, "Ferry, kita tidak mungkin bersama! Jangan membuang-buang waktumu!"   Selama ini, Lovena selalu memanggilnya ‘Kak Ferry’. Penampilan Lovena yang riang dan ceria adalah yang paling disukai Ferry.   Kenapa Lovena tiba-tiba berubah menjadi dingin?   “Itu tidak benar!” Ferry meraih pergelangan tangan Lovena, memaksa gadis itu menerima bunga di tangannya. Wajahnya tampak sedih dan berkata, “Lovena, aku sungguh sangat menyukaimu! Aku tidak percaya kamu tidak memiliki perasaan yang sama denganku. Apa telah terjadi sesuatu padamu? Kumohon katakanlah padaku. Jika kamu tidak memberitahuku, aku akan bertanya kepada yang lain!"   Melihat keteguhan pemuda itu, Lovena pun berteriak ketakutan, "Tidak! Jangan lakukan itu!"   Jika Ferry menyelidiki hal ini, dia pasti akan mengetahui masalah keluarganya, bahkan apa yang terjadi padanya. Lovena tidak ingin meninggalkan kesan buruk di hati Ferry.   Lovena memejamkan matanya. Ketika dia membuka matanya lagi, dia menepis tangan Ferry dengan kasar.   "Ferry Chandra, kamu terlalu percaya diri! Kamu pasti tahu betapa kompetitifnya mahasiswa saat ini? Tak peduli sehebat apa dirimu, sangat sulit bagi seseorang tanpa latar belakang keluarga untuk mengejar karir. Aku tidak ingin hidup susah!"   Ferry membeku di tempat, menatap punggung ramping Lovena dengan tidak percaya, seolah-olah baru saat inilah dia benar0benar mengenal gadis ini.   Rasa terkejut dan amarah bergejolak dalam dadanya.   Dia hampir saja keceplosan mengatakan dirinya bukanlah orang miskin yang tidak punya apa pun, dia sebenarnya…   Namun, Lovena tidak memberinya kesempatan untuk menjelaskan. Gadis itu membuang bunga itu ke tanah dan pergi setelahnya.   Ferry menatap hampa ke tanah di hadapannya. Bunga segar yang sesaat tadi masih segar dan cantik, bunga yang dia petik dengan hati-hati, kini tampak rusak dan berantakan karena dibuang dengan kasar ke tanah.   Bersamaan dengan itu, hatinya juga ikut dibuat hancur berkeping-keping.   Tatapan tidak rela terlintas di mata Ferry. Dia mengepalkan tinjunya dan memukul pohon besar di sampingnya. Punggung tangannya merah seketika, tetapi dia seakan tidak merasakan sakitnya.   Dengan mata memerah, dia menatap ke arah tempat punggung Lovena menghilang, Ferry menggertakkan gigi dan berteriak, "Lovena Kiara! Aku pasti akan membuatmu menyesal dan menderita atas perbuatanmu hari ini!"   Lovena yang sedang bersembunyi di salah satu sudut, mendengar raungan marah Ferry. Dia membekap mulutnya dengan tangan untuk mencegah dirinya menangis keras.   Dia sudah sangat menderita, tetapi dia tidak akan menyesali keputusannya. Orang sesempurna Ferry, tidak seharusnya ternoda karena seorang Lovena Kiara.   Kak Ferry, maafkan aku.   Sebulan kemudian, Lovena bangun, mandi dan olahraga pagi seperti biasa. Namun anehnya, dia merasakan mual. Dia kira hanya sakit perut biasa dan tidak terlalu memedulikan hal itu.   Tetapi di minggu berikutnya, kondisinya semakin serius. Teman sekamarnya bercanda dan berkata, "Lovena, jangan-jangan kamu hamil?"   Sebuah lelucon yang membuat Lovena bagaikan disambar petir. Tiba-tiba dia teringat kejadian sebulan lalu, malam yang penuh kekacauan itu.   Setelah kejadian malam itu, Lovena sama sekali tidak melakukan tindakan pencegahan kehamilan. Saat itu keluarganya dalam keadaan kacau, pikirannya juga ikut kacau. Dia sama sekali tidak memikirkan kemungkinan dia akan hamil.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD