Matahari baru saja keluar dari sarangnya dan burung-burung baru saja bernyanyi dengan riangnya. Alfarin keluar dari kamar mandi dengan lebih segar. Alfarin menoleh sebentar ke arah ranjang ternyata Gamma sudah tidak ada, Alfarin yakin Gamma sekarang tengah mandi di kamar mandi lantai bawah.
Alfarin membuka ikat rambutnya membiarkan rambutnya bertebaran. Dia berjalan membuka pintu kamar dan bergegas untuk menyiapkan sarapan, meskipun pernikahan ini memang terkesan terpaksa, tetapi bagaimanapun juga dia adalah istri di sini dan dia akan melakukan semua kewajiban istri seperti membuatkan sarapan.
Alfarin mengoleskan selai coklat di roti yang dia pegang. Sejujurnya, Alfarin tidak tahu selai kesukaan Gamma apa. Namun, selai coklat menjadi tebakannya karena tidak ada satupun orang yang membenci coklat. Setelah selesai Alfarin meletakkan roti coklat itu ke piring lalu segera menuangkan s**u putih yang dia ambil dari kulkas tadi ke gelasnya dan juga gelas Gamma.
Alfarin tersenyum begitu melihat semuanya sudah siap. Dia terduduk di kursi meja makan sambil menunggu Gamma. Tidak lama kemudian, Gamma berjalan menghampirinya dengan jas berwarna putih di lengan pria itu. Alfarin menoleh ke arah datangnya Gamma sambil memberikan senyuman termanisnya, dia berharap agar Gamma melupakan adegan drama semalam.
"Pagi Kak Gamma," sapanya dengan ceria.
Gamma tersenyum tipis lalu duduk di kursi depan Alfarin. "Iya, pagi," balasnya. Gamma terduduk sambil menatap sepiring roti dan segelas s**u putih yang sudah tersedia di meja makan.
"Aku udah siapin. Aku enggak tahu Kakak suka selai apa, makanya aku kasih selai coklat. Kakak suka kan?" tanya Alfarin sambil memasukan helaian rambut ke samping telinganya.
"Iya suka, terima kasih." Alfarin mengangguk dengan senang lalu mereka berdua menikmati sarapan dengan keheningan. Keheningan mulai buyar karena suara gelas kaca yang diletakkan Gamma di meja menimbulkan suara berdecit. Alfarin menatap ke depan, dia tebak Gamma sudah selesai dengan sarapannya.
Gamma membuka dompet hitamnya lalu memberikan beberapa kredit card, ATM, kunci rumah, dan juga kunci mobil. "Kamu bisa pakai semua ini, saya suami kamu dan kebutuhan kamu sudah menjadi tanggung jawab saya." Alfarin belum bersuara, dia masih tidak percaya dengan apa yang diberikannya.
Melihat Alfarin yang masih terdiam membuat Gamma menyodorkan semua barang itu lebih dekat ke Alfarin. "Nih, simpan," ucapnya lagi.
Alfarin menggeleng sambil menjauhkan semua barang itu dari dirinya. "Ga perlu Kak. Aku bisa jual aset keluarga aku dan juga semua warisan papa ada ditabungan aku. Tadi pagi pengacara papa menghubungi aku dan membahas tentang itu semua," ucapnya menjelaskan.
Mengingat dirinya bukan orang yang pantas mendapatkan itu membuat Alfarin tidak enak sendiri mengambilnya. Semua itu punya kakaknya bukan punya dirinya.
"Ya sudah. Ini semua harus tetap di terima." Alfarin menatap Gamma seolah menginginkan pengertian dari Gamma.
"Iya udah. Terima kasih,"ucap Alfarin sambil menerima semua barang itu. Kali ini dia yang mengalah.
"Fa, saya mengizinkan kamu untuk menghabisikan masa remaja kamu. Saya mengizinkan kamu untuk hang out bersama teman kamu atau bermain-main bersama teman kamu pakai semua fasilitas yang sudah saya berikan, tetapi jam 8 malam kamu harus ada di rumah dan kamu harus ingat status kamu sekarang, jangan terlalu bebas dengan lelaki di luar sana. Saya menikahkan kamu agar kamu terbebas dari laki-laki jahat di luar sana. Kamu mengerti Fa?" tanya Gamma.
Ucapan Gamma yang panjang lebar membuat Alfarin masih memikirkan dan memasukan ke otaknya. Menurutnya ucapan itu semua adalah peraturan yang dibuat Gamma, dia akan berusaha menuruti semua itu. Mamanya sering bilang, istri memang sudah sepantasnya menuruti kata suami.
"Iya, Kak." Gamma tersenyum lalu bangun dari duduknya dia ingin segera berangkat ke rumah sakit karena hari sudah semakin siang.
"Saya berangkat ya ...." Alfarin mendekat ke arah Gamma lalu mengambil tangan Gamma dan menciumnya. Dia belajar dari mamanya yang sering mencium tangan papanya sebelum papa berangkat kerja.
Gamma membulatkan matanya merasakan Alfarin yang tengah mencium tangannya padahal Gamma tidak menyuruhnya. Alfarin melepaskan tangan Gamma lalu menatap Gamma dengan tatapan berbinar dan tersenyum dengan manisnya. "Hati-hati ya Kak di jalan."
"Iya," jawab Gamma lalu berjalan perlahan menuju pintu depan. Namun, langkahnya terhenti begitu dia merasakan panggilan dari belakangnya, Alfarin memanggilnya.
Gamma menoleh ke belakang,dia melihat Alfarin berjalan cepat mendekatinya. "Kak, aku takut sendirian di rumah. Kalau aku ajak teman-teman aku hang out pasti mereka enggak bisa karena mendadak," Alfarin mengaruk tengkuknya yang tidak gatal, "Kak ... aku boleh ikut Kakak ke rumah sakit enggak?" tanyanya takut-takut.
Gamma memikirkan dampak dari permintaan Alfarin barusan, dia ingin mengajak Alfarin ke rumah sakit, tetapi di rumah sakit dia pasti sangat sibuk dan pasti Alfarin akan merasa bosan di ruangannya.
"Kak Gamma ... ga boleh ya? Yaudah deh aku nunggu Kakak di cafe dekat rumah sakit aja, nanti aku cari cafe yang dekat," ucap Alfarin pasrah, biarkanlah dia pergi sendirian ke cafe dan menunggu Gamma selama berjam-jam. Mungkin Gamma merasa terganggu kalau dia ikut ke rumah sakit.
Melihat wajah Alfarin yang seperti itu membuat Gamma tersenyum dan mengusap puncak kepala Alfarin. "Boleh. Ganti baju sana."
Alfarin tersenyum lalu berlari menuju lantai atas untuk menganti bajunya. Gamma melihat itu terkekeh sendiri, tingkah Alfarin memamg sangat mengemaskan. Dia berharap agar suatu saat nanti perasaan cinta akan tubuh di hatinya.
-00-
Alfarin mengenggam tangan Gamma dengan erat. Tatapan-tatapan tajam dari para suster membuat dirinya takut, dia menatap kedua mata Gamma. Gamma hanya terdiam membalas semua tatapan-tatapan itu. Alfarin tahu Gamma memang tampan, tetapi apa tidak ada lagi dokter di sini yang ketampananbta melebihi Gamma? Bisa-bisa Alfarin terbakar cemburu apabila dia sudah mempunyai rasa cinta nanti.
Sampai di depan ruangan Gamma, Gamma membuka pintu dengan pelan lalu mengandeng Alfarin masuk ke dalam. Satu kata yang Alfarin gambarkan begitu melihat ruangan Gamma, bersih. Ya bersih, tidak ada sampah sekecil apapun bahkan debu-debu di jendela sana terlihat tidak ada sama sekali.
Gamma duduk di kursinya, dia memijit kepalanya sendiri. Alfarin mendekat ke arah Gamma lalu mengantikan tangan Gamma dengan tangannya. Alfarin memijat kepala Gamma dengan lembut.
"Kakak kenapa? Pusing? "tanya Alfarin sambil terus memijat kepala Gamma. Gamma melepaskan jas putihnya lalu menggantung jas itu di samping mejanya.
"Saya gapapa, hanya sedikit lelah membawa mobil tadi," jawab Gamma jujur. Alfarin hanya mengangguk percaya karena dari wajah Gamma memang tidak ada tanda-tanda orang sedang sakit.
Alfarin menyapu pandangannya ke berbagai sudut. Dia pencari sebuah kursi selain di duduki Gamma, namun nihil dia tidak menemukannya. Di ruangan ini yang dia lihat hanyalah, sebuah lemari yang penuh dengan buku-buku, meja yang terdapat laptop, dan ranjang kecil yang berada tepat di belakang meja Gamma. Alfarin tebak, ranjang itu di pakai untuk Gamma beristirahat atau untuk Gamma menginap di ruangannya saat jam malam.
"Kamu mau duduk?" tanya Gamma tiba-tiba. Alfarin menjatuhkan tangannya dan tidak lagi memijat kepala Gamma.
"Hmm ... iya sih, tapi enggak usah deh. Kakak kayanya yang lebih lelah kan—eh Kak!" ucap Alfarin kaget begitu pinggangnya ditarik dan menyebabkan dirinya terjatuh tepat di pangkuan Gamma. Beberapa rasa masuk ke dalam hati Alfarin saat detik itu juga, perasaan kaget, canggung, gugup,
dan malu bercampur aduk di sana.
"Katanya mau duduk, berdua saya saja," ucap Gamma berbisik tepat di telinga Alfarin, sapuan napasnya itu membuat Alfarin merinding.
"Ih Kakak mah, aku enggak mau ah kaya gini. Aku duduk di lantai aja gapapa."
"Yaudah, saya juga enggak maksa," balasnya sambil menurunkan Alfarin dari pangkuannya. Alfarin memandang Gamma dengan wajah kesal, dia tidak tahu apa jantung wanita itu berdetak kencang?Huh, menyebalkan!
Gamma melihat jam tangan hitam yang menempel di tangannya. Dia mengambil jas putih lalu memakainya. Tatapan pria itu dia arahkan untuk menatap Alfarin yang tengah cemberut dengan tangan yang melipat di d**a. Gamma mengerti wanita itu sedang mengambek sekarang. Butuh pengertian dan kesabaran ekstra untuk menghadapi tingkah Alfarin.
"Kamu ngambek lagi? Saya salah apa?Tadi kan maksud saya baik, saya enggak ada maksud apa-apa, Fa," ucapnya mencoba mengerti apa yang menjadi permasalahannya.
"TAU AH!" teriak Alfarin sambil membuang pandangannya.