Di kantor, Danan menghadapi sosok Intan yang benar-benar berbeda dari yang ia kenal. Wanita itu kini tampil elegan, tegas, dan penuh wibawa. Setiap langkahnya diiringi dengan kepercayaan diri yang membuat banyak orang menghormatinya.
Namun, bagi Danan, semua itu adalah pengingat betapa bodohnya ia telah meremehkan istrinya sendiri. Ia teringat bagaimana Intan dulu begitu menurut, manja, dan seolah tak memiliki pendirian. Danan pernah menganggap itu kelemahan, tetapi kini ia sadar bahwa itu semua adalah bentuk cinta tulus Intan untuknya.
Ia merasa dipecundangi oleh kenyataan. Bukan oleh Intan, melainkan oleh kebodohannya sendiri. Ia mengkhianati wanita yang paling mencintainya demi Rena, perempuan yang hanya memanfaatkan kelemahannya.
Sore itu, Danan memberanikan diri untuk berbicara dengan Intan di ruang kerjanya. Ia mengetuk pintu perlahan, dan Intan mempersilakannya masuk tanpa mengalihkan pandangan dari dokumen yang sedang ia baca.
“Ada yang bisa saya bantu, Pak Danan?” tanyanya dengan nada profesional, tanpa emosi.
Danan berdiri canggung di depan meja. “Intan … aku hanya ingin mengatakan sesuatu. Maaf, tapi ini bukan soal pekerjaan.”
Intan mendongak, menatapnya dingin. “Kalau begitu, saya rasa kita nggak perlu membahas apa pun. Kita hanya rekan kerja sekarang.”
“Tolong,” pinta Danan dengan suara memelas. “Aku hanya butuh lima menit.”
Intan menghela napas panjang, lalu menyandarkan punggungnya ke kursi. “Baik, lima menit. Silakan.”
Danan menelan ludah, berusaha mengatur kata-katanya. “Aku tahu aku sudah membuat banyak kesalahan. Aku tahu aku nggak pantas mendapatkan maaf darimu. Tapi, aku ingin kamu tahu, Tan. Aku benar-benar sangat menyesal.”
Intan tidak bereaksi. Ia hanya menatapnya dengan ekspresi datar, seolah kata-kata itu sama sekali tidak menyentuh hatinya.
“Aku sadar sekarang,” lanjut Danan. “Rena hanya membutakan mataku. Aku … aku nggak tahu kenapa aku begitu bodoh. Aku mengkhianatimu, padahal kamu sudah memberikan segalanya untukku.”
“Sudah selesai?” tanya Intan datar.
Danan tertegun. Ia berharap setidaknya ada sedikit emosi dalam suara Intan, tetapi yang ia dapatkan hanyalah kebekuan.
“Danan,” kata Intan dengan nada dingin. “Penyesalanmu nggak mengubah apa pun. Semua yang terjadi sudah berlalu. Aku hanya ingin melanjutkan hidupku tanpa bayang-bayangmu. Jadi, kalau nggak ada hal lain, aku minta kita fokus pada pekerjaan saja, oke.”
Danan merasakan dadanya sesak. Intan tidak memberinya ruang sedikit pun untuk memperbaiki hubungan mereka.
Malam harinya, Danan duduk sendirian di rumah yang terasa semakin sunyi tanpa Intan. Ia memandangi foto pernikahan mereka yang masih tergantung di dinding. Wajah Intan yang tersenyum bahagia di foto itu membuat hatinya semakin dilanda penyesalan.
Ia mengingat kembali semua momen yang telah mereka lalui bersama. Ia mengingat bagaimana Intan selalu ada untuknya, bagaimana ia merawat ibunya dengan sepenuh hati, dan bagaimana Intan tidak pernah mengeluh meskipun sering diabaikan.
“Aku bodoh,” gumamnya, menutupi wajahnya dengan kedua tangan. “Aku benar-benar bodoh.”
Untuk pertama kalinya, Danan menyadari betapa bergantungnya ia pada Intan. Tanpa kehadiran wanita itu, hidupnya terasa hampa. Ia telah kehilangan bukan hanya istri, tetapi juga sahabat, pendamping, dan sumber kebahagiaannya.
***
Di sisi lain, Intan berusaha keras untuk melupakan Danan. Ia tahu masih ada sisa cinta di hatinya, tetapi ia tidak ingin terjebak dalam hubungan yang menyakitkan.
Ia memfokuskan seluruh energinya pada pekerjaan, membuktikan bahwa ia bisa sukses tanpa bergantung pada siapa pun.
Namun, setiap kali ia melihat Danan di kantor, hatinya terasa bergetar. Ada perasaan campur aduk antara cinta, benci, dan rindu yang sulit ia kendalikan. Tetapi Intan tahu, ia tidak boleh menunjukkan kelemahan.
“Dia harus belajar bahwa cinta itu nggak bisa dibeli dengan penyesalan,” bisiknya pada diri sendiri.
"Lagi pula, dia menyesal bukan karena merasa bersalah, tapi karena sudah ketahuan dan ingin memaksakan kehendak agar semuanya bisa seperti dulu, seolah nggak pernah terjadi apa-apa. Maaf, aku nggak sudi jadi bucin lagi."
Hari-hari terus berlalu, dan hubungan mereka tetap berada di persimpangan yang tidak pasti. Danan terus berusaha mendekati Intan, tetapi wanita itu tetap menjaga jarak.
"Tan, aku mohon beri kesempatan untuk memperbaiki semuanya," pinta Danan lagi, saat pria itu menyerahkan berkas ke atas meja Intan di dalam kantornya.
Perempuan itu termangu sejenak, seolah sedang memikirkan sesuatu. Danan dibuat menelan ludah, gaya Intan benar-benar sangat memukau. Isu yang beredar bahwa sebenarnya istrinya ini merupakan putri dari pemilik perusahaan berembus kuat.
Ia pun semakin yakin kalau itu benar, setelah pertemuannya dengan Billy beberapa waktu lalu.
"Aku mohon, Intan. Bisakah kita berbicara lagi tentang hubungan kita?" ucap Danan lagi, mencoba untuk memberikan desakan pada Intan, agar segera memberinya kepastian untuk bertemu di luar jam kerja.
"Baiklah. Temui aku sepulang kerja, di tempat biasanya kamu menghabiskan waktu bersama kekasih hatimu," ujar Intan, menampakkan semburat ejekan jelas dari bagaimana senyumannya itu tercetak saat mendongak menatap Danan.
Pria itu pun hanya bisa menunduk, merasa tercekat untuk sekedar membalas dengan perkataan terima kasih atas waktu yang diberikan untuknya.
Sore harinya, Danan duduk di meja kafe, menggenggam secangkir kopi yang sudah dingin. Matanya terus tertuju ke pintu masuk, menanti kehadiran Intan dengan hati yang berat.
Kafe ini, yang dulu menjadi tempat ia dan Rena memadu cinta terlarang, kini menjadi saksi penyesalan terdalamnya.
Saat Intan masuk, waktu seolah melambat. Wanita itu tampil anggun, dengan raut wajah tenang dan tatapan tajam. Ia berjalan mendekati meja Danan tanpa ragu, lalu duduk di depannya.
“Apa yang ingin kamu bicarakan?” tanya Intan langsung, tanpa basa-basi.
Danan menghela napas panjang. “Aku … aku ingin meminta maaf, Intan. Aku tahu kata-kata nggak akan cukup, tapi aku benar-benar menyesal.”
Intan menatapnya dengan datar. “Mas Danan, aku sudah mendengar kalimat itu berkali-kali. Apa kamu punya hal baru yang ingin disampaikan?”
Danan terdiam, mencoba merangkai kata-kata. “Aku hanya ingin kamu tahu, aku salah. Aku buta. Aku kehilangan diriku sendiri dan melukai orang yang paling mencintaiku. Aku tahu aku nggak pantas, tapi tolong beri aku kesempatan lagi.”
Intan menggeleng pelan. “Mas, jujur saja aku lelah. Dua belas tahun aku berusaha. Dua belas tahun aku menunggu kamu berubah, menunggu kamu benar-benar melihatku sebagai istri setelah dua tahun pernikahan kita, bukan hanya seorang adik yang kebetulan berbagi rumah denganmu. Tapi, apa yang aku dapat, hah?”
Danan mencoba memotong, tetapi Intan mengangkat tangan, meminta ia mendengarkan.
“Selama dua tahun pernikahan kita, kamu lebih memilih memberikan nafkah batinmu kepada Rena. Bahkan setelah aku tahu, aku tetap berharap kamu akan berubah. Tapi, kini aku sadar, harapan itu hanya menyiksa diriku sendiri.”
“Tapi aku sudah berubah, Intan,” sela Danan dengan nada putus asa. “Aku mengakhiri semuanya dengan Rena. Aku ingin memperbaiki semuanya.”
Intan tersenyum tipis, senyuman yang tidak membawa kebahagiaan. “Kamu berubah setelah kehilangan aku. Tapi, Mas Danan, aku nggak bisa lagi menunggu. Dua tahun cukup untuk aku belajar bahwa nggak ada yang tersisa dari hubungan kita selain rasa sakit. Aku nggak ingin membebani kamu lagi.”
Danan menatapnya dengan mata memohon. “Aku nggak merasa terbebani. Aku kehilanganmu, Intan. Aku baru sadar betapa aku membutuhkanmu.”
“Mas Danan,” suara Intan lembut, tetapi tegas. “Kamu kehilangan aku bukan karena aku pergi. Kamu kehilangan aku karena selama ini kamu nggak pernah benar-benar melihatku. Dan sekarang aku hanya ingin melanjutkan hidupku tanpa terus-menerus berharap kamu akan berubah. Aku nggak akan mengharapkan cintamu lagi.”
"Tan—"
"Harusnya sejak awal aku sadar, bukan sabar, Mas Danan."
Danan memegang kepalanya yang terasa berat. Kata-kata Intan terus terngiang di benaknya. Ia tahu Intan benar, tetapi menerima kebenaran itu tidak membuat hatinya lebih ringan.
“Aku sudah resmi melayangkan gugatan cerai,” lanjut Intan dengan tenang. “Pengadilan sudah menerima permohonan itu. Sidangnya akan segera dimulai. Aku harap kamu bisa menghadiri sidang itu dan kita bisa menyelesaikan ini dengan damai.”
Danan tertegun. “Kamu benar-benar ingin bercerai?”