"Maaf, Danan," potong Intan. "Kalau ini soal perasaanmu, aku harap kita bisa tetap profesional di kantor. Aku ingin semuanya berjalan baik-baik saja. Jangan buat situasi jadi lebih rumit."
“Intan ....” Danan menunduk, suaranya lirih, nyaris memohon. "Aku cuma nggak bisa melihat kamu bersama orang lain."
Intan terdiam sejenak. Ada sedikit kilatan luka di matanya, tapi ia segera menyembunyikannya di balik senyumnya.
"Kamu sudah nggak berhak melarang siapa pun untuk dekat denganku, Danan. Kamu sudah kehilangan hak itu saat memilih wanita lain. Saat aku mengetahui bahwa selama ini kamu lebih memilih menjaga hati perempuan itu, dibandingkan istri sahmu sendiri. Menggunakan alasan lembur, hanya untuk bermanja-manja dan bercinta di apartemen yang kamu sewakan khusus untuk simpananmu itu."
Suasana sunyi. Danan kehilangan kata-kata. Jantungnya berdegup lebih cepat, seakan baru menyadari betapa dalamnya ia menyakiti perempuan di hadapannya ini.
Intan bangkit dari kursinya, ingin mengakhiri pertemuan itu lebih cepat.
"Aku harap kamu bisa menerima kenyataan ini, Danan. Semoga kita bisa tetap bekerja sama dengan baik sampai proses perceraian kita selesai. Kamu bebas bersama perempuan itu, nggak perlu lagi merasa bersalah padaku karena kita bukan siapa-siapa lagi."
"Sudah aku bilang, aku sudah putus dengannya, Intan!"
"Aku nggak pernah memintamu untuk putus dengannya, 'kan? Pernahkah aku memintamu untuk melepaskannya? Nggak! Aku menghormati pilihanmu, makanya aku memutuskan untuk bercerai agar kamu bisa bebas menikah dengannya, sama seperti yang kamu rencanakan selama ini."
"Tan—"
"Maaf, permisi. Aku harus pergi!"
Danan hanya bisa menatap punggung Intan yang menjauh, setiap langkahnya terdengar begitu mantap, begitu tegas. Seolah ia benar-benar telah melepaskan segalanya—termasuk perasaannya pada Danan.
---
Malam itu, Danan duduk sendiri di sofa rumahnya, kepalanya tertunduk lesu. Gelas kopi di atas meja sudah dingin sejak tadi.
Kilasan wajah Intan terus menghantui benaknya, membuatnya terjebak dalam pusaran penyesalan yang semakin dalam.
Danan sadar, untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia merasakan kehilangan yang sebenarnya. Perempuan yang dulu ia anggap remeh, ternyata adalah satu-satunya sosok yang ia butuhkan.
Namun, sayangnya, semuanya terasa sudah terlambat. Sangat terlambat.
---
Ruang sidang itu dipenuhi ketegangan. Suara detak jam yang menggema di dinding terasa begitu nyaring, seakan memperlambat jalannya waktu. Danan duduk di bangku tergugat, menunduk dengan wajah tegang dan penuh penyesalan.
Sementara di seberangnya, Intan duduk tegak dengan wajah yang tenang, namun sorot matanya memancarkan ketegasan yang tak tergoyahkan.
Hakim mengetuk palu, menandakan sidang perceraian dimulai. Intan berdiri dengan sikap percaya diri. Pengacaranya melangkah ke depan dan mulai menyampaikan fakta-fakta yang sudah dipersiapkan. Bukti-bukti berupa foto, rekaman percakapan, dan laporan aktivitas perselingkuhan Danan dengan Rena ditunjukkan satu per satu.
Danan merasa malu. Ia tahu betul bukti-bukti itu tak dapat disangkal. Beberapa kali ia melirik ke arah Intan, berharap bisa menemukan kelembutan di wajah perempuan itu, namun yang ia lihat hanyalah ketegaran dan sikap dingin.
“Selain bukti perselingkuhan ini, kami juga memasukkan satu dokumen tambahan,” ucap pengacara Intan, menyodorkan sebuah amplop cokelat tebal.
Hakim menerima amplop itu, membukanya, dan membaca isinya. Suasana ruang sidang mendadak hening. Semua orang seolah menahan napas, tak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya.
“Visum keperawanan?” tanya Hakim sambil menaikkan alisnya, memandang ke arah Intan.
Intan mengangguk pelan. “Iya, Yang Mulia. Visum ini membuktikan bahwa selama dua tahun pernikahan kami, suami saya tidak pernah memberikan nafkah batin. Ini bukan hanya bentuk pengabaian sebagai suami, tetapi juga bukti bahwa dia lebih memilih berzina di luar sana daripada memenuhi kewajibannya di rumah.”
Desas-desus kecil mulai terdengar di ruang sidang. Beberapa orang yang hadir terlihat saling pandang, terkejut dengan pengakuan tersebut.
Danan memejamkan mata, merasakan tamparan keras dari kenyataan yang selama ini ia abaikan. Rasa malu dan bersalah menyelimuti seluruh tubuhnya.
“Berdasarkan bukti-bukti yang telah diserahkan, termasuk visum ini, saya rasa tidak ada lagi yang perlu diperdebatkan,” ujar Hakim dengan suara tegas. “Permohonan cerai dari pihak penggugat, Intan Savanah, dikabulkan. Dengan ini, pernikahan antara Intan Savanah dan Danan Suteja resmi berakhir.”
Palu diketuk tiga kali. Suara itu terdengar begitu lantang, seperti penanda akhir dari semua perjuangan, rasa sakit, dan kebohongan yang selama ini menyelimuti kehidupan Intan.
Danan hanya bisa duduk diam, merasakan kehancuran yang tak terlukiskan. Pandangannya kabur saat melihat Intan bangkit dari tempat duduknya dan berjalan keluar ruang sidang dengan langkah anggun. Tidak ada air mata, tidak ada senyum, hanya keheningan yang menusuk.
Di luar ruang sidang, Intan menarik napas panjang. Udara segar seolah memenuhi paru-parunya untuk pertama kali dalam bertahun-tahun. Ia menatap langit yang cerah, merasa seolah beban bertahun-tahun telah lepas dari pundaknya.
“Bu Intan, bagaimana perasaannya setelah putusan sidang?” tanya pengacaranya dengan hati-hati.
Intan tersenyum tipis, meski ada kilatan kelelahan di matanya. “Saya lega. Saya akhirnya bebas.”
Sementara itu, Danan keluar dari ruang sidang dengan langkah gontai. Tatapannya kosong, wajahnya kusut.
Rasa sesal seperti pisau yang terus menusuk-nusuk dadanya. Di dalam hatinya, ia ingin berlari mengejar Intan, memohon kesempatan sekali lagi.
Namun, ia tahu semua itu sia-sia. Ia telah menghancurkan satu-satunya hal paling berharga dalam hidupnya.
Di parkiran, Danan berdiri mematung, memperhatikan Intan yang masuk ke dalam mobilnya. Dari jauh, ia melihat sosok perempuan yang pernah ia abaikan, kini tampak begitu berkelas dan berwibawa. Ia seperti melihat Intan yang benar-benar baru—seorang wanita yang bebas, kuat, dan tak tergoyahkan.
Sebelum mobil Intan melaju, Danan berani-beraninya mengetuk kaca mobilnya. Intan menurunkan kaca jendela, tatapan matanya tenang namun dingin.
“Ada apa?” tanyanya singkat.
“Intan ... maafkan aku,” ucap Danan dengan suara yang nyaris bergetar. “Aku tahu aku sudah menghancurkan semuanya. Tapi tolong, jangan benci aku selamanya.”
Intan memandang Danan lama, seolah menimbang kata-katanya.
Akhirnya, ia menjawab dengan suara tenang namun tegas, “Aku nggak membencimu, Danan. Membencimu hanya akan membuang energiku. Aku hanya menyesal pernah menyia-nyiakan dua belas tahun hidupku untuk seseorang yang nggak pernah benar-benar menghargai aku. Tapi sekarang, aku bebas. Kamu pun bebas. Semoga kita berdua bisa belajar dari semua ini.”
Tanpa menunggu jawaban, Intan menutup jendela mobilnya dan melaju pergi, meninggalkan Danan yang masih berdiri di tempat yang sama. Angin siang menerpa wajahnya, namun tak bisa menyapu pergi perasaan kosong yang semakin menguasai dirinya.
---
Malam itu setiba di rumahnya, Intan duduk di sofa sambil menatap segelas teh hangat di tangannya.
Bayang-bayang masa lalunya bersama Danan seolah muncul di benaknya. Kenangan-kenangan pahit, rasa kecewa, dan air mata yang dulu begitu mendominasi hidupnya, kini terasa seperti mimpi buruk yang perlahan memudar.
Ia menghela napas dalam. Kini, untuk pertama kalinya, ia merasa hidupnya benar-benar miliknya sendiri. Tidak ada lagi tuntutan, pengkhianatan, atau rasa sakit yang harus ia tanggung.
"Aku bebas."
Kata-kata itu berulang kali terlintas di benaknya, seperti mantra yang memberi kekuatan baru. Ia berjanji pada dirinya sendiri—tidak akan lagi membiarkan orang lain merampas kebahagiaannya
Sementara itu, Danan duduk sendirian di sudut kamar rumahnya. Foto-foto lama pernikahan mereka berserakan di lantai.
Tangannya meraih satu foto, foto di mana Intan tersenyum lebar dengan gaun pengantinnya. Senyum itu kini terasa begitu jauh dan mustahil untuk kembali.
Danan menekan wajahnya dengan kedua tangan. Air matanya jatuh, sesuatu yang jarang sekali ia izinkan terjadi. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia benar-benar merasa sendirian.
Penyesalan datang terlambat. Danan hanya bisa berharap suatu saat nanti, Intan menemukan kebahagiaan yang seharusnya ia berikan. Namun ia tahu, dirinya tidak akan pernah bisa kembali ke masa lalu untuk memperbaiki semuanya.
Di dunia ini, tidak ada harga yang lebih mahal daripada kehilangan cinta tulus yang pernah datang dalam hidupnya. Dan sekarang, Intan—perempuan yang dulu selalu memandangnya dengan kekaguman—telah pergi, menjadi wanita bebas, berstatus janda yang tak tersentuh oleh siapa pun.
Dan Danan, hanya bisa menatap kosong ke dalam kehampaan hidupnya yang ia ciptakan sendiri.