Bab 6 Cemburu atau Marah

1769 Words
Dalam sebuah Hubungan, ada keistimewaan rasa didalamnya. "Ada surat untukmu" Suci menyerahkan sebuah surat berwarna merah jambu untukku. Balutan amplop yang indah nyaris membuat hatiku menghangat. "Dari siapa Ci" tanyaku padanya "Senior kita IPS 2 De, Galang Ahmad Gunda dan orangnya keren ternyata" Suci dengan semangat menjelaskan tentang sosok senior yang memberikan surat itu padaku. Aku tersenyum melihat reaksinya. "Ayo buka aja" sambungnya  lagi. Aku membuka sebuah amplop kecil yang terbungkus dengan manis, ada hiasan-hiasan gambar mawar di pinggirnya dan kertas itu sangat harum. Sedikit menjadi aroma yang berbeda dalam hatiku. "Setidaknya kamu berani nerima cowok kali ini De, gila bener sampai lulus kamu jomblo terus-terusan yang ada nggak punya kenalan De" Suci terus memberikan argumennya padaku. “Gila, sehari ini ada dua surat cinta, ada dua cowok ganteng tentunya yang sedang berjuang” Suara Siti kali ini agak keras. Aku melototkan mataku, karena kaget dengan kata-katanya. Aku melirik ke arah Dana dan Anti yang duduk agak jauh dari tempat kami, tapi aku yakin dia mendengar pekikan suara Siti tadi. Tampak Dana hanya diam, aku yakin dia mendengarnya. Dana keluar dari kelas karena bel pertanda istirahat kedua telah usai. Mata pelajaran berikutnya akan segera dimulai. Aku menyimpan buket bunga tadi didalam laci dan juga surat itu ke dalam tasku. Penjelasan dari Ibu Susan tentang interaksi sosial disiang hari ini terasa tidak dapat kupahami, bayangan buket, surat dan pandangan Dana sekarang menghantui. Untungnya kali ini tidak ada sesi diskusi yang menguras kata-kata, pembelajaran berlalu seiring dengan bel pulang yang berbunyi dengan lantang. Desahan nafas lega aku hembuskan perlahan, aku akan segera pulang. Kali ini aku dan sahabat-sahabatku itu masih menjadi kelompok yang terakhir pulang. “Aku mau bicara denganmu” Dana tiba-tiba ada disampingku. “Kamu?” kagetku “Ya, ini aku. Aku mau bicara” Aku menarik nafas dalam-dalam “Anti, dimana dia?” aku mencoba mengerti perasaan sesama wanita yang notabenenya sekelas denganku. Aku tidak mau dikatakan perebut pacar orang dengan menerima ajakan Dana bercerita dengannya. “Maksud kamu apa?” aku sedikit marah melihatnya memaksaku masuk lagi ke dalam kelas sedangkan sahabatku setia menungguku di luar kelas. “Apa maksudnya buket bunga dan surat-surat itu?” Nampak deru nafas Dana di samping telingaku. “Apa urusannya denganmu Dan, aku perempuan jomblo lagipula sepertinya aku butuh pacar” aku menatap manik mata Dana lekat, tampak kesedihan yang mendalam, dia juga lebih sering memejamkan matanya ketika aku mengajaknya bicara. Karena tak sanggup, aku mengalihkan pandanganku ke bawah. “Kamu butuh pacar?, bukan cinta hah?” Dana meremas rambutnya dan berlalu pergi. “Kamu menyebalkan Dan, hiks hiks hiks….” air mata yang sejak tadi aku tahan akhirnya luruh juga. Hatiku sakit, Dana seenaknya saja menahanku dan juga meremas hatiku dengan sikapnya.  Moning mendekatiku dan memelukku erat. “Ikuti kata hatimu De” nasehat sahabat-sahabatku mengiang ditelingaku kali ini. Kami memutuskan segera pulang dan tidak jadi membuka isi surat dari Galang. Siti meyakinkan aku untuk membaca surat itu dirumah dengan pikiran yang jernih agar bisa fokus dengan perasaan hati yang bisa lebih jernih mengambil keputusan. Aku memutuskan untuk membacanya dirumah dan memikirkan sekali lagi kata-kata sahabatku dengan baik. Aku membaca surat itu dalam keheningan "Dear, Dea Amanda Aku nggak tau mau memulai dari mana untuk mengungkapkan semuanya, sejak aku melihatmu naik keatas panggung menerima hadiah kemenangan atas prestasimu tempo hari aku berusaha mencari jejak dirimu. Tatapanmu sempurna dimataku, kau indah saat kapanpun. Mungkin aku bukanlah harapan hatimu karena kau tak pernah mengenali kedalaman hatiku, tapi kau perlu tau aku mendambamu sejak itu. aku menginginkan dirimu mewarnai masa putih abu -abuku di sekolah. Sungguh Dea, Aku jatuh cinta padamu tanpa kau memandangku. Pandanganku akan membuatmu merasakan indahnya perlindunganku dan indahnya perhatianku dan ijinkan aku menjadi yang terindah itu dihati dan sisimu. Maukah kau menjadi pacarku Dea Amanda? By Galang, IPS 2 Kututup surat itu dan kupandangi langit- langit kamarku dengan tenang, belum mampu untuk mencerna kata- kata dengan baik. Seseorang yang bahkan aku belum kenal menyatakan cintanya padaku. 'Ah bagaimana mungkin, mencintai tanpa mengetahuiku terlebih dahulu. Rasanya ini  terlalu belebihan' pikirku. Ingatanku kembali pada Dana yang pernah menginginkanku menunggunya tanpa akhirnya datang lalu pergi dengan menggantungkan sejuta cinta dalam diriku dan dirinya. Dalam pikiran yang panjang itu, akhirnya aku tertidur dan kemudian bermimpi berjalan bersama Dana tanpa ada Anti disana. Rasanya mimpi itu terlalu singkat ketika alarm di kamarku menjerit memanggilku untuk segera bangun. Siang itu sangat panas, Dana mengajak Anti minum es krim di kantin samping kelasku. Aku masih memandanginya saat ini dan semakin kulihat rasanya hatiku semakin sakit. Kupegangi dadaku sembari berkata 'sabar hati, kau bisa bangkit lagi kok' Aku menatap netra mata Galang di depanku. Dia pria yang tampan, tinggi 174 cm postur sempurna dengan badan yang seimbang membuatnya menjadi cowok yang juga banyak di lirik wanita lainnya. Kalau mengagumi ketampanannya, akupun sama. Dia tampan, pikirku. "Minum es yuk" ajaknya padaku. Mengingat keberadaan Anti dan Dana di kantin membuatku menjadi ingin berada di sana untuk melihat mereka. Setelah aku pikir-pikir menjadi hal yang menyenangkan bisa berdua dengan Galang dan bertemu dengan Dana. Aku pun mengangguk tanda setuju dan diberikan masing-masing 2 jempol oleh sahabat-sahabatku juga pacar-pacar mereka. Galang ingin menggandeng tanganku namun secara refleks aku menjauhinya, dia kemudian mempersilahkan aku berjalan di depanku. Memasuki kantin itu, tanpa sengaja aku menyenggol es krim ditangan Dana dan mengenai bajuku. "Maaf" Dana berkata padaku yang tatapannya justru mengarah pada Galang. "Kamu nggak apa-apa De?" Galang kini bersuara. Aku menggeleng dan segera membersihkan noda es krim di depan kantin yang disediakan tempat mencuci tangan lengkap dengan sabunnya. Aku lihat aura permusuhan dimata Dana yang ditujukan pada Galang. ‘sepertinya ini menyenangkan’ pikirku. "Pacarmu De?" Dana memberanikan diri bertanya padaku yang mengikutiku mencuci tangannya. Aku menggeleng dan tidak menjawab apapun  pertanyaan Dana dan kemudian pergi mendekati Galang. "Sudah bersih De?" tanya Galang padaku sambil memegang tanganku, rasanya menyenangkan ada yang memperhatikan semanis ini. "Sudah Kak" sambil mengangguk padanya dan dia tersenyum padaku. Sangat manis senyum itu tapi pikiranku justru mengingat kata-kata Dana padaku. Aku berusaha sedikit menjaga jarak dengan Galang karena ada Dana yang masih memperhatikanku. Rasanya aku tidak ingin membuatnya sakit hati walaupun aku merasakan sakitnya melihat dia bersama pacarnya. Perjalanan menuju ruang kelas sedikit panjang karena kali ini Galang mengajakku melewati ruang kelasnya. “Hi Alex” Galang menyapa lelaki yang menatap kami lekat, apalagi ke arahku. Aku melihat Alex, lelaki tampan yang mengirimkan surat manis itu padaku. Perasaanku menghangat tiba-tiba dan menjadi salah tingkah. Namun Suci hadir dihadapanku, aku yang langsung bertemu Suci langsung berlarian ke arah sahabat-sahabatku itu dan tidak ku hiraukan panggilan Galang yang terus mengejarku dan mendekatiku. Pertemuanku dengan Galang dan juga Alex membuatku sedikitnya bisa melupakan perasaanku pada Dana. Karena statusku yang jomblo, aku bisa kapan saja menerima ajakan Galang ataupun Alex tanpa takut ada yang cemburu. Pertemuan hari ini antara aku dan Galang kembali terjadi karena sahabatku tak ingin aku berlama-lama ada dalam suasana hati bimbang karena Dana. "Aku suka kamu De" Galang memegang tanganku tiba-tiba, namun segera kutepis dan ia berusaha mengerti dan tidak menampakkan rasa kecewanya padaku. Senyum Galang begitu memabukkan bagi wanita yang melihatnya, tak terkecuali aku. "A- ku.. A- ku, Aku nggak tau mau jawab apa kak" Jawabku dengan ragu. Aku ragu menyebut cinta, pacar atau apapun yang berhubungan dengan perasaan karena tak ingin memiliki kenangan seperti dengan Dana. "Kenapa nggak tau De, tanyakan pada dirimu, kamu mau jadi pacarku nggak?" matanya berkedip-kedip di depanku sambil menunggu jawabanku. "Harus dijawab sekarang kah?, ha haaaa. Memangnya sejak kapan kakak tau aku?" aku berusaha tertawa disampingnya, dia akhirnya tertawa dan memberikan kesempatan padaku untuk berfikir atas ucapan cintanya yang sangat tiba-tiba itu. "Aku ngerti kamu pasti kaget De, tapi aku sudah memperhatikanmu sejak PraMOS" sambungnya lagi. Memang benar, aku melihat ada gelagat yang aneh dari kakak seniorku ini. selalu berusaha menolongku saat senior lain memberikan tugas yang berat padaku. menghalangi setiap hukuman yang hampir aku jalani. Tapi bagiku saat itu hanyalah permainan sesama senior yang harus berperan sebagai Protaginis dan Antagonis dalam setiap dramanya. Aku hanya diam dan menghabiskan es krimku sambil mengalihkan pandangan mataku kearah luar kantin kemudian melihat betapa mesranya Dana menggandeng Anti keluar dari kantin membawanya menuju ruang kelas. Tertawa dan saling memandang. Aku langsung mengalihkan pandanganku pada Galang. Akupun tersenyum tanpa mengeluarkan sepatah katapun. Ada kebimbangan dalam pikiranku, aku cemburu melihat Dana dan Anti namun ada keinginan juga untuk merasakan betapa romantisnya hubungan percintaan itu. 'Tapi dengan kak Galang? benarkah dia bisa menghapus rasa itu untuk Dana?' pikirku. 'Bagaimana kalau akhirnya aku tak bisa mencintainya dan hanya menjadikannya sebagai pelarian semata?' kembali aku berfikir, hingga tak terasa Galang kembali mengantarkanku pulang ke kelas dan disambut oleh sahabat- sahabatku. "Cie, yang jalan berdua" Suci menyambut kami dan menggoda ku dengan senyuman manisnya. Galang tersenyum dan mengatakan akan kembali ke kelas, mungkin dia kecewa dengan sikapku. Tapi bagiku ini baru permulaan, bila dia memang serius maka tak semudah itu untuk menyerah. "makasih kak" Siti kali ini bersuara lantang sambil melambaikan tangannya. Belum hilang pandangan Galang, tiba-tiba seseorang menabrakku hingga aku hampir terjatuh. Namun dia secepat kilat menarik tanganku kepinggangnya dan dia terjatuh dengan aku yang bertumpuk diatasnya. Hal yang paling mengejutkan adalah bibirku yang justru bertemu dengan bibir indahnya. “Oh Tuhan, amazing” Moning mengeluarkan ekspresi mengejutkan. Aku merasakan ciuman pertama itu justru dengan orang yang tidak pernah aku harapkan. Bahkan kali ini pa-yudaraku terasa sakit karena menabrak d**a pria itu. “Maaf” lirih pria tampan itu, kemudian dia menjauhkan badanku dan membantuku bangun. Wajahku pastilah pucat karena malu atas kejadian itu. Aku terpana melihat wajah manisnya, seakan saat ini aku lupa bahwa ada Galang dan Dana yang menghiasi ceritaku beberapa hari ini. “Nggak apa-apa. Namaku Dea. Aku mengulurkan tanganku padanya” “A A Alex” jawabanya pelan. “Apa?” Sontak kami bertiga berteriak dan saling berpandang-pandangan. “Jadi…? Buket itu?” Alex mengangguk “Maaf jika aku tidak sopan, tapi itulah perasaanku. Sekali lagi maaf” Alex menatap Dea sangat tajam dan penuh cinta. Saat aku akan berlalu pergi, tanganku tiba-tiba ditarik mendekat ke arah Alex “Aku serius De, aku mencintaimu” dia memperjelas lagi di samping di telingaku dan rangkulan tangannya masih erat memegang pinggangku. Debaran hatiku terasa lebih kencang daripada saat di dekat Galang. Kupejamkan mataku dan berusaha melepas rangkulan itu perlahan. Alex mengerti dan sepertinya dia tak ingin memaksaku. Aku berlalu pergi. Pandangan dan ungkapan cinta Alex semakin membuatku mengingat kenangan kebersamaan dengan Dana, semakin mengingat kata-kata Alex maka bayangan Dana semakin kuat dalam ingatannya. Cinta memang lucu dan aneh, tidak ada hubungan dan ikatan namun rasa itu ada antara kami. Namun apakah rasa itu masih di hati Dana? Entahlah. Yang jelas saat ini ingatannya tentang Dana masih terekam jelas. Bersambung..
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD