###.
Malam itu, aku tertidur dengan napasnya di leherku.
Bukan napas biasa. Napas yang sengaja dihembuskan pelan, seperti dia ingin memastikan aku tahu persis di mana dia berada—tepat di lekukan antara bahu dan rahangku, tempat paling aman yang dia temukan dalam beberapa bulan terakhir. Aku tidak bertanya kenapa. Aku hanya membiarkan dia menggali lebih dalam, menekan wajahnya ke kulitku sampai tidak ada jarak tersisa.
"Bukan mageran," bisiknya serak malam itu, bibirnya menyentuh bibirku sebelum aku sempat membalas. "Aku hanya ingin bersarang di dekatmu."
Sarang.
Aku hampir tertawa. Tapi dia sudah menarik selimut tebal ke atas kepala kita, menciptakan dunia versi kami sendiri di bawah kain itu. Dan aku—aku yang seharusnya mencari sesuatu, aku yang sebenarnya punya rencana malam itu—aku diam saja. Membiarkan dia mengubur kepalanya di dadaku.
*Ada sesuatu yang harus aku cari,* pikirku. Tapi ketika dia mendengus puas dan melingkarkan kedua lengannya di pinggangku, aku memutuskan bahwa benda itu bisa menunggu.
---
Sinar matahari pagi tiba-tiba ada di mana-mana.
Bukan cahaya yang menyilaukan—tirai kamar ini terlalu tebal untuk itu. Tapi cahaya yang menyelinap, kuning pucat, memanaskan sudut-sudut ruangan yang semalam terasa dingin. Aku menggeliat tanpa benar-benar ingin bangun, merasakan berat lengannya yang masih melingkar di perutku.
Dia sudah bangun.
Aku tahu dari napasnya. Bukan napas tidur—panjang, dalam, tanpa kesadaran. Napasnya sekarang lebih pendek. Terjaga. Dan dia menatapku. Aku bisa merasakan tatapan itu di kelopak mataku yang masih terpejam, di dahi, di bibirku.
"Pagi," bisiknya serak.
Aku membuka mata pelan-pelan. Wajahnya persis di depanku—matanya masih setengah mengantuk, rambutnya berantakan, senyum tipis yang baru muncul setelah dia yakin aku benar-benar sadar.
"Eung... Pagi juga, sayang." Suaraku serak. Aku masih mengantuk. "Kau sudah bangun? Sejak kapan?"
Dia terkekeh, napasnya hangat di leherku. Tangannya mengusap punggungku perlahan, seperti menenangkan anak kecil yang baru terbangun dari mimpi buruk. "Aku baru bangun saat kau bergerak."
Dia mengecup puncak kepalaku. Lama.
"Tidurlah lagi sepuasmu, sayang. Aku akan tetap di sini memelukmu."
Aku mengerjap. Otakku masih setengah tidur, tapi ada sesuatu yang mengganjal. Sesuatu yang mengapung di permukaan kesadaranku seperti gelembung kecil.
"Kau tak ada jadwal kah hari ini?"
Dia diam. Tangannya berhenti sejenak di punggungku.
"Bahkan sejak aku mematikan ponselmu kemarin malam sampai hari ini, kau juga belum mengaktifkannya kembali?" Aku melanjutkan, suaraku masih berat karena kantuk. "Kau yakin tak ada yang penting?"
Dia mendengus pelan. Alih-alih menjawab, dia menarik wajahku lebih dalam ke dadanya, menekan kepalaku ke tulang rusuknya, di mana detak jantungnya bergema terlalu cepat untuk seseorang yang baru bangun tidur.
"Biarkan saja," bisiknya. Lengannya mengerat di pinggangku. "Tidak ada jadwal yang lebih penting daripada kau. Aku sengaja mematikannya supaya tidak ada yang berani mengganggu kita."
Dia mengecup leherku. Kulitku menghangat di tempat bibirnya menyentuh.
"Tidurlah lagi, sayangku."
Aku tidak membantah. Aku terlalu lelah untuk membantah. Tapi aku juga tidak bodoh. Aku tahu dia menghindar. Aku tahu ponsel yang sengaja dimatikan bukan tentang melindungi waktu kita—tapi tentang melindungi dia dari sesuatu yang tidak ingin dia hadapi.
Tapi aku hanya menghela napas, memejamkan mata, dan merapatkan pelukanku.
"Baiklah. Aku akan tidur lagi. Jika kamu lapar atau apa, bangunkan aku. Tak perlu sungkan."
Aku sudah setengah tenggelam kembali ke dalam kantuk ketika bibirnya menyentuh dahiku sekali lagi.
"Tidur yang nyenyak."
---
Aku tidak tahu persis kapan aku benar-benar tertidur lagi. Yang aku tahu, ketika aku setengah sadar berikutnya, sinar matahari sudah bergeser—tidak lagi kuning pucat, tapi putih, berarti sudah menjelang siang.
Dia masih memelukku.
Tapi sekarang dia tidak bergerak. Tidak mengelus punggungku, tidak mendengus pelan, tidak melakukan apa pun yang biasa dilakukan orang yang terjaga. Tubuhnya benar-benar diam kecuali napas yang naik turun di bawah pipiku.
Aka pura-pura tidur.
Aku mendengar sesuatu. Suara yang sangat lirih, nyaris tidak terdengar, seperti angin yang tersangkut di sela-sela jendela. Butuh beberapa detik untuk menyadari bahwa itu adalah suaranya.
"Aku sangat mencintaimu."
Gumaman itu keluar bersamaan dengan hembusan napas panjang, seperti kata-kata yang lepas tanpa izin dari otaknya yang setengah tidur. Tangannya meremas pinggangku sedikit lebih erat tanpa sadar, bibirnya menekan puncak kepalaku.
Aku diam. Tidak bergerak. Tidak membuka mata.
Karena aku tahu—aku tahu—dia tidak akan pernah mengatakannya jika dia sadar aku mendengarnya.
Detak jantungnya melambat. Napasnya kembali teratur. Dia tertidur lagi, tenang, dengan tanganku masih terkunci di perutnya.
Aku membiarkan kata-kata itu menggantung di udara di antara kita, tidak tersentuh.
---
Aku benar-benar terbangun karena dia bergerak.
Dia menggeliat perlahan, meregangkan kaki panjangnya di bawah selimut, dan ketika aku membuka mata, dia sudah menatapku lagi. Kali ini matanya benar-benar terbuka. Sadar. Terjaga.
Dia tersenyum tipis.
"Bangunlah sebentar," bisiknya, mengecup keningku. "Aku ingin mendengar suaramu pagi ini."
Aku menggeliat malas, wajahku masih menempel di dadanya. Dia tertawa kecil—getaran rendah yang bergema di tulang rusuknya.
"Masih mengantuk, hm?"
Ibu jarinya mengusap bibir bawahku yang sedikit terbuka. Sentuhannya pelan, hampir seperti dia sedang memeriksa apakah aku nyata.
"Kalau begitu aku akan membangunkanmu dengan cara lain."
Dia mendekat. Perlahan. Memberiku waktu untuk menarik diri jika aku mau. Tapi aku tidak mau.
Bibirnya bertemu dengan bibirku. Ciuman pagi yang manis, panjang, seperti dia sedang meneguk sesuatu yang dia simpan semalaman. Tangannya mengusap pipiku, dan aku merasakan kehangatan yang menjalar dari ujung jarinya ke seluruh rahangku.
"Bangun dulu," bisiknya di sela ciuman itu. "Aku ingin melihat matamu."
Aku membuka mata.
Dan di sana, di pagi yang sunyi, dengan rambut yang berantakan dan napas yang masih bercampur, aku melihat sesuatu di matanya. Sesuatu yang tidak dia katakan semalam. Sesuatu yang dia gumamkan ketika dia pikir aku sedang tidur.
"Selamat pagi," bisiknya serak. Dia mengecup ujung hidungku. "Aku sudah menunggu sangat lama untuk melihat pandangan matamu."
"Aku baru bangun," gumamku.
Dia tersenyum. "Aku tahu."
Tanganku terangkat tanpa berpikir, menyentuh pipinya. Dia memejamkan mata sejenak, menekan wajahnya ke telapak tanganku, seperti kucing yang haus akan belaian.
"Kau benar-benar menggemaskan," bisiknya.
Dia menciumku lagi. Kemudian dia duduk, melepaskan pelukannya, dan berbalik menghadapku dengan senyum malas yang hangat.
"Ayo bangun. Aku akan menyalakan airnya."
Dia berdiri. Berjalan menuju kamar mandi. Berhenti di ambang pintu, menoleh ke belakang.
"Ayo."
Aku duduk. Rambutku berantakan, mataku masih berat. Tapi aku bangkit, mengikuti langkahnya.
Lalu dia berkata: "Mandi bersama."
Aku berhenti.
"Ah... apa? Mandi bersama?" Aku menggeleng, kesadaran penuh akhirnya menyambar. "Yang benar saja. Lebih baik kamu yang mandi lebih dulu. Aku akan menunggu kamu selesai."
Langkahnya terhenti.
Dia berbalik. Perlahan. Senyum di bibirnya bukan lagi senyum pagi yang hangat—tapi senyum miring, senyum yang membuat perutku menegang.
Dia mendekat.
Langkah kakinya pelan, tidak tergesa-gesa, seperti seseorang yang punya banyak waktu. Aku mundur selangkah. Lututku menyentuh tepi ranjang. Aku tidak bisa mundur lagi.
Dia menekan tubuhku perlahan ke atas kasur. Tangannya di kedua sisi bahuku, wajahnya persis di atasku—begitu dekat sehingga napasnya menyapu bibirku.
"Menolakku?"
Suaranya serak. Lebih dalam dari sebelumnya.
Aku menelan ludah. "Apa yang ingin kau lakukan? Segeralah pergi mandi sana."
Dia tertawa. Tawa rendah yang bergetar di dadaku.
"Mandi?" bisiknya. "Aku sudah mandi semalam."
Ibu jarinya mengusap bibir bawahku lagi. Gerakan yang sama seperti sebelumnya, tapi kali ini ada sesuatu yang berbeda. Ada niat di balik sentuhan itu.
"Sekarang," katanya, nadanya hampir bisu, "giliran aku yang ingin bermain dulu."
Selimut masih melingkar di kakiku. Berat tubuhnya menekan pinggulku. Di luar, entah pukul berapa—aku tidak peduli.
Di dapur, ponselnya mungkin masih mati. Di luar sana, dunia masih berputar tanpa kita. Tapi di sini, di bawah sinar matahari yang semakin meninggi, dengan napasnya yang menyapu bibirku dan ibu jarinya yang masih bergerak lambat di kulitku, tidak ada yang lebih penting daripada detik ini.
Aku tidak bertanya lagi tentang ponselnya.
Aku tidak bertanya lagi tentang apa yang dia sembunyikan.
Karena aku tahu—pada akhirnya—dia akan memberitahuku.
Tapi sekarang, dengan matanya yang gelap dan senyum itu, aku membiarkan dia bermain.