-Menerima Kenyataan-

1017 Words
Karena pada saat ke pos satpam tadi Davian menaiki motornya, ia pun kembali ke rumah untuk mengambil mobilnya. Karena, ia sudah mendapatkan jawaban, dengan siapa Lauren pergi. Namun, baru saja Davian mengeluarkan mobilnya dari garasi, ia melihat Lauren keluar dari mobil seseorang. Hal itu, nyaris membuat emosi Davian meledak. Namun, Davian langsung sadar dan berusaha menahannya. “Hati-hati, Nai!” ucap Lauren sembari melambaikan tangannya ke arah mobil Naira yang mulai menjauh dari sana. “Dari mana saja?” tanya Davian sembari menatap Lauren dari ujung kakinya sampai ujung kepalanya. “Bisa kamu lihat sendiri pakaian aku,” jawab Lauren dengan ketus. Kemudian ia berjalan masuk ke dalam rumah. Namun, ketika ia mendorong pintu utama, Lauren mendapati pintu itu telah dikunci. “Kenapa pintunya dikunci?” tanya Lauren. “Tadi saya mau pergi,” jawab Davian. Lalu ia membuka kunci pintunya dan berjalan lebih dulu masuk ke dalam rumah. Lauren mendengus kesal sebelum ia juga masuk ke dalam rumah. Gadis itu dengan sengaja berjalan di belakang Davian. “Pak Satpam bilang kalau kamu nyariin aku,” ucap Lauren. “Iya! Kenapa memangnya kalau saya nyariin kamu?!” tanya Davian. “Aku kaget aja. Kayak...agak nggak percaya kalau kamu nyariin,” sahut Lauren. “Gimana saya nggak nyariin. Kalau kamu pagi-pagi sudah nggak ada di rumah. Handphone ditinggal, mobil ditinggal. Ciri-ciri diculik,” ucap Davian panjang lebar. “Aku pikir kalau kamu bakalan siang banget bangunnya. Makanya aku pergi gitu aja,” sahut Lauren. “Tapi, bukannya kamu bilang kalau akan lebih baik lagi kita urus kehidupan masing-masing, ya?” tanyanya dengan nada bicaranya yang sengaja ia pelankan. “Harus berapa kali saya bilang?” tanya Davian yang langsung menghentikan langkahnya dan membalikkan tubuhnya agar berhadapan langsung dengan Lauren. “A-apa?” tanya Lauren tergagap. “Orangtua kamu, orangtua saya. Mereka bisa menelfon saya kapan saja dan menanyakan kamu! Saya harus jawab apa kalau sampai terjadi apa-apa sama kamu?!” bentak Davian. Tidak ada kata lain yang bisa Lauren ucapkan selain kata maaf. Seharusnya ia memahami itu. Bukan mengemukakan keegoisannya. “Lebih baik kamu mandi, setelah itu bikin sarapan. Saya lapar,” ucap Davian sebelum dirinya masuk ke dalam kamarnya. *** "Tadi pas jogging, aku ketemu sama Aura," ungkap Lauren di tengah keheningan antara dirinya dengan Davian. "Lalu?" tanya Davian acuh. "Aura cuman bilang, kenapa kamu cuek pas Aura kasih aku wine. Padahal, mantan kamu sebelumnya nggak pernah kamu kasih minum itu," ungkap Lauren. "Terus, kamu sahutin apa?" tanya Davian lagi. "Aku nggak ngomong apa-apa. Karena Naira tarik aku untuk pulang," jawab Lauren apa adanya. "Awas aja kamu kalau bohong sama saya," ancam Lauren. "Tanya aja sama orangnya langsung!" sahut Lauren kesal. Davian pun meraih ponselnya yang semula ia letakkan di atas meja makan. Ia langsung menelfon ke nomor Aura. "Hallo...Kenapa, Dav?" "Lo habis jogging?" "Iya. Nggak sengaja ketemu sama istri lo juga tadi. Pasti...dia ada cerita, ya?" "Lo ngomong apa aja?" "Gue cuman sedikit cerita tentang Sabrina." "Lebih tepatnya, lo ngarang cerita, Ra." "Gue cuman mau lihat reaksi Lauren aja. Tapi, gue nggak sempat tadi. Temannya keburu narik." "Apa lo bisa ulangi, kata-kata apa yang lo ucapkan di hadapan Lauren tadi?" "Gue heran, kenapa semalam lo dibiarkan gitu aja minum wine. Padahal, Davian ada di hadapan lo. Juga...Davian nggak pernah membiarkan mantannya minum-minuman yang bisa bikin mabuk. Lebih tepatnya, mantan Davian sebelum akhirnya dia menikah sama lo. Gitu gue bilang." "Lain kali, kalau ngarang cerita yang bagusan dikit." Setelah mengatakan itu, Davian langsung memutuskan sambungan telfonnya. Sorot matanya langsung ia arahkan kepada Lauren yang sedang tertunduk di hadapannya. "Kenapa hal begitu aja harus mengarang?" gerutu Lauren. "Aura memang begitu. Apalagi, dia tahu alasan kenapa kita bisa sampai menikah. Mungkin, dia juga mau ngetes kamu. Apa kamu cemburu mendengarnya," ucap Davian. Lauren pun menaikkan pandangannya, menatap Davian dengan tatapan berani, lantas berkata, "Aku nggak akan patah hati hanya perkara segelas wine." Kemudian, Lauren beranjak dari tempat duduknya, lalu berjalan menuju kamarnya dengan langkah yang cepat. "Makanan kamu belum habis, Ren!" teriak Davian. Namun, teriakan itu tidak membuat Lauren menghentikan langkahnya. Hanya berselang 5 menit, Lauren kembali ke lantai dasar, namun dengan membawa kunci mobilnya. "Mau ke mana kamu?!" tanya Davian. "LAUREN!" teriaknya ketika Lauren tidak menjawab pertanyaannya. Namun, Lauren terus tidak menghiraukan pertanyaan Davian. Ia malah mempercepat langkahnya menuju garasi dan mengeluarkan mobilnya. TIIIINNNN!!! Lauren menekan klakson mobilnya ketika Davian berdiri di depan sana. Gadis itu pun menurunkan kaca jendelanya dan mengeluarkan kepalanya. "Minggir nggak?!" "Kamu mau ke mana sih?! Hah?!" tanya Davian yang sedari tadi tidak bisa menahan emosinya. "Ke rumah Mami," jawab Lauren. Davian pun menghampiri Lauren, kemudian berdiri di samping pintu mobil Lauren. "Kamu bilang apa ke Mami kalau ke sana?!" tanya Davian lagi. "Tinggal bilang kalau lagi pengin. Apa susahnya?" sahut Lauren. "Nggak ada ya! Mami pasti nyangka kita lagi berantem," ucap Davian lagi. "Bagus dong kalau Mami tahu. Biar Mami juga sadar, kalau pernikahan yang dipaksakan ini, nggak baik!" sahut Lauren dengan nada tinggi. Namun, seketika Lauren seperti tidak punya tenaga lagi. Bahkan, ketika menatap Davian, ia melihat seperti Davian tidak hanya ada 1 orang saja. Melainkan, ada 2. Davian jelas menyadari kalau tidak ada yang beres dari Lauren. Karena, Lauren mendadak memegang kepalanya seperti orang kesakitan. Davian pun membuka pintu mobil gadis itu dan menggendongnya ala bridal, masuk kembali ke dalam rumah. "Aku mau ke rumah Mami, Dav," ucap Lauren dengan lirih. "Kamu pikir aja sendiri. Mau dibilang apa nanti saya sama Mami kamu?" tanya Davian. "Makanya, jangan kebanyakan teriak. Pusing kan jadinya," sambungnya. "Benar...Davian hanya akan bersikap baik ketika gue lemah. Apa gue harus menerima kenyataan? Bahwa Davian nggak akan pernah suka dengan kehadiran gue. Karena, dari sikapnya saja sudah kelihatan jelas. Bahwa dia hanya kasihan dan takut gue meninggal di sini," Lauren membatin. "Saya ambil HP ke bawah sebentar. Sekalian cabut kunci mobil kamu," ucap Davian setelah ia meletakkan Lauren ke atas ranjangnya. Setelah mengatakan itu, Davian pun keluar dari kamar Lauren. Sepeninggal Davian, Lauren berusaha duduk dan membuka laci nakas yang ada di samping tempat tidurnya. Gadis itu mengambil tablet obatnya dan meminum 1 kapsul obat penambah darahnya. "Pelarian gue beneran gagal perkara darah rendah doang, sial!" rutuk Lauren.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD