Gosip Hangat

1788 Words
Kejadian singkat memalukan kemarin itu menjadi perbincangan hangat di kelas bahkan sampai di perbincangkan oleh siswa kelas lain, dan sampai sekarang ia tidak terima tentang penolakan itu. Kali ini ia akan membuktikan seberapa gagahnya ia hingga ia tidak patut di tolak oleh wanita mana pun. Telah Rangga rencanakan semalam, menghubungi semua anggota geng motornya agar datang pagi-pagi ke rumahnya dan melakukan sebuah aksi gila di sekolah. Salah siapa juga kenapa dia menolak cinta sang pemimpin dari geng motor Supelveda yang terkenal bisa menjinakkan wanita-wanita Jakarta, maka Olivia harus siap-siap melihat penampilan dan aksinya. Rangga memang cukup gila mengenai hal cinta, semasa musim semi kemarin, hanya sekali itu saja, selain itu tidak ada lagi wanita yang berani menolak cintanya. Namun kali ini ada lagi, dan tentu jurus maut akan ia keluarkan sebagaimana musim lalu ia keluarkan untuk Novia teman sekelasnya di sekolah dulu. Jam enam pagi sekarang di sibukkan oleh bebunyian motor dari geng Sepulveda di depan rumah Rangga, suara bising itu memekak telinga para tetangga, namun para tetangga rumahnya seakan mulai akrab dengan bunyi bising hingga mereka tidak lagi menegurnya. Semenjak Geng motor Sepulveda ini di pimpin Rangga, selain terkenal perayu wanita mereka juga kerap kali menciptakan keonaran. Dulu saat tetangga rumah menegur suara bising motor mereka, malah-malah mereka tambah mengeraskan suaranya di depan rumah tetangga yang menegurnya itu. Tetapi jika di lihat sisi kebaikannya, geng motor Sepulveda ini rata-rata anggotanya santun kepada orang tua mereka. Anggota yang berjumlah dua puluh orang itu mulai berangkat rombongan memenuhi jalan, membunyikan sirene dari toa hingga pengendara lainnya bergeser mengira mereka adalah kelompok Polisi yang sedang melintas. Pagi-pagi itu mereka bagai penguasa jalanan, dan pengendara lainnya mau tidak mau harus bergeser agar mereka dengan cepat sampai tujuan. Setengah jam berlalu, mereka pun sampai di depan gerbang sekolah, memblokade pagar itu dengan motor-motor mereka hingga semua siswa keluar berlarian melihat mereka. Saat Security sekolah itu keluar mencegah aksi mereka, bisa di bilang anak buah Rangga mulai bergerak mencegahnya, menghalaunya dan mencoba merayunya dengan beberapa lembar uang agar Security itu diam menyaksikan pertunjukan. Akhirnya Security bisa di amankan, dan pertunjukan singkat itu akan segera Rangga lakukan. Di balik gerbang sekolah para siswa telah berkumpul dan beberapa dari mereka ada yang merekam menggunakan handphone. Rangga pun membuka helm, mengambil toa dan berdiri di atas motor yang mereka telah jejer. Dia berkata dalam toa itu, “Pertama, maafkan ke kurung ajaran kami ini. Kedua, bagi yang merasa bernama Olivia segera datang kesini!” “Olivia...” teriaknya. “Aku cinta kamu...” lanjutnya. Mendengar itu dari semua siswa yang melihat bersorak dan ada yang teriak. Dan mereka sibuk merekam kembali dan bahkan ada yang siaran langsung di media sosial mereka. Kemudian Rangga mengeluarkan secarik kertas yang telah ia siapkan semalam, sebuah puisi yang ia rangkai sendiri, dan mulai membacakannya. Saat-saat itu semua wanita teriak histeris, seolah-olah mereka melihat aksi dari seorang jenaka sang ahli cinta. Puisinya begitu centil dan sangat lihai dalam memainkan kata-kata. Setiap baitnya mengandung unsur keromantisan yang tiada tara. Dari mereka ada yang cemburu kenapa harus Olivia yang Rangga cinta, kenapa tidak dia yang lebih berkilau bagai mutiara. “Olivia... Keluarlah!” teriak Rangga kembali di akhir puisinya. Namun tiba-tiba mereka di kagetkan oleh siraman air dari balik tembok pagar sekolah hingga membuat Rangga basah kuyup dan seketika menghentikan aksinya. Siraman itu bagai hujan deras membuat ia terpelesat dan jatuh dari atas motornya. Yah siapa lagi yang melakukan itu selain Olivia, wanita cantik berlesung pipi itu sama sekali tidak menganggap aksi yang dilakukan Rangga itu hal yang romantis, bahkan dia sangat jijik dan menganggap hanya orang gila saja yang melakukan tindakan bodoh seperti itu. Seketika semuanya bubar dan bertepatan dengan bunyi bel masuk jam pertama di mulai. Setelah puas menyiram Rangga dengan selang di sebelah tembok, Olivia tersenyum kecil dan meninggalkannya tanpa merasa berdosa. Lalu Rangga memerintahkan anggotanya untuk bubar dan kembali sekolah ke sekolahnya masing-masing. Dia akan menyelesaikan misinya meskipun dalam keadaan basah kuyup. Sekolah telah sepi, semua siswa telah masuk ke kelasnya masing-masing. Saat pintu kelas mereka di tutup oleh guru yang terakhir datang, Rangga datang menghentikan. Tetapi Ibu Yeti, guru Ekonomi itu meminta Rangga untuk pulang saja. Namun Rangga memohon sambil memasang muka sedih. Dia berkata, “Izinkan aku masuk kelas sebentar saja, aku ingin mengatakan cintaku pada seseorang di dalam sana. Aku mohon, Ibu!” Ibu Yeti tidak langsung menjawab, menggeleng kepala dan akhirnya mengizinkan Rangga masuk. Saat di depan kelas, di lihat para siswa dan guru, tanpa berkata apa-apa, Rangga menarik spidol dan langsung melukis wajah Olivia di papan tulis, meski jauh beda dengan wajah aslinya, ia masih percaya diri menulis kalimat “Aku cinta kamu, Olivia” di bawahnya. Lagi-lagi ia membuat heboh seluruh siswa di dalam kelas, dan beberapa dari mereka tidak menduga bahwa Rangga sedang di mabuk cinta dan cinta itu telah membuatnya gila. Mana ada pria yang di tolak Olivia selama ini melakukan hal segila dia, sebodoh dan keterlaluan seperti dia yang membajak ruang waktu Ibu Yeti menjadi guru ajar di kelas itu. Ibu Yeti sendiri hanya bisa pasrah meskipun Rangga telah keterlaluan membuat seluruh isi kelas senyum-senyum dan geleng-geleng termasuk dia. Dan akhirnya ia mendukung Rangga, memanggil-manggil nama Olivia agar maju ke depan menjawab cinta Rangga, dan semua siswa ikut dalam kebisingan memanggil-manggil nama Olivia itu. Tetapi Olivia mulai bergerak, bangkit dari tempat duduknya, membawa penggaris besi. Saat di hadapan Rangga, ia lambaikan penggaris itu dan ia pukulkan ke lengan Rangga hingga semuanya diam dan kaget. Rangga tidak menghindar kali ini, ia hanya pasrah menjadi bahan pelampiasan amarah Olivia. Pukulan keras ke lengannya itu bukan hanya sekali, tetapi hampir berkali-kali. Dan Olivia sendiri menangis sambil memukulnya, lalu melepas penggaris itu dan lari keluar dari kelas. Sehabis tragedi menyedihkan itu terjadi, Ibu Yeti meminta Rangga untuk duduk saja ke bangkunya meski agak sungkan sendiri. Namun bagi Rangga itu adalah awal cerita dari cinta mereka nanti, hatinya sama sekali tidak sakit, bahkan ia senyum-senyum dan tertawa lalu menggeleng kepala menyebut-nyebut nama Olivia. Lalu dia berkata, “Tubuh dan semua yang ada padaku ini adalah milik Olivia, jadi dia bebas memperlakukan aku semaunya.” Perkataan singkat itu membuat seisi kelas diam menganga, dan mencoba mencari kesimpulan dari arti kalimat itu dalam masing-masing kepala mereka. Sehabis itu Rangga keluar kelas tanpa mengucapkan sepatah izin kepada Ibu Yeti yang dari tadi mempertanyakan kepada dirinya sendiri mengenai kebenaran cinta kedua muridnya ini. Rangga mengejarnya sambil mengingat kembali apa yang telah ia ceritakan semalam kepada kelompok geng motornya, bahwa ia berjanji demi apa pun yang paling dilarang untuk akan ia dapatkan cinta Olivia, bagaimanapun caranya. Diam-diam dia katakan pada Doni teman yang paling ia percaya dalam kelompok geng motornya bahwa ia merasa nyaman dan tidak bisa di jelaskan bagaimana rasa lainnya ketika berada di sebelah Olivia, seakan tujuan semesta ini tercipta dan segala siang dan malamnya hanya untuk mereka berdua. Namun Olivia telah hilang, mungkin bersembunyi entah kemana. Rangga cari ke kantin, perpustakaan dan menerobos toilet wanita namun Olivia masih saja tidak ditemukan, tetapi ia masih yakin bahwa Olivia masih di lingkungan sekolah. Dia menanti kemunculan Olivia dengan berjemur agar seragamnya yang basah setengah kering. Namun di bawah perlindungan bendera merah putih di ujung tiang sana, sampai bel jam istirahat datang, baru ia lihat Olivia bermata sembam berjalan memasuki kelas dengan cepat. Dan merasa saat sekarang ini tidak pantas untuk mendekatinya lagi, ia akan berikan jeda untuk itu sampai jam pulang nanti ia akan dekati lagi. Sementara ini ia akan bersembunyi di balik perpustakaan membaca buku sebagai pengganti dari mata pelajaran yang telah ia tinggalkan demi Olivia. Saat jam pulang tiba, setelah semua seisi kelas mempertanyakan Rangga pergi kemana, tiba-tiba dia muncul di belakang Olivia tanpa sepengetahuannya. Menguntinya pelan-pelan yang berjalan keluar dari gerbang sekolah. Namun langkah Olivia seketika terhenti, dan berlindung di balik tembok gedung sambil menatap pria di luar sekolah yang duduk di atas motor Vespa merah. Rangga langsung mencurigai pria yang tidak ia kenal itu sebagai peneror Olivia, namun sebenarnya dia adalah Roki yang sering kali mengajak Olivia bergabung dengan kumpulan diskusinya. Rangga mencurigai Roki juga memiliki misi yang sama dengannya merebut hati Olivia dan Olivia juga menolaknya. “Kurang hajar,” ucapnya sambil meninju tangannya sendiri. Kemudian dia terus berjalan melewati Olivia yang tengah bersembunyi tanpa berkata apa-apa. Gayanya bagai preman yang mengusir hama di sekitar wilayahnya. “Kamu sedang apa disini?” Tanya Rangga saat di hadapannya. “Kamu kenal Olivia, aku sedang mencarinya!” jawab Roki dengan jujur. “Aku calon pacarnya,” kata Rangga. “Oh... Masih calon kan, dan belum tentu menang. Tetapi Bro, aku bukan sainganmu, tujuanku kepadanya hanya untuk mengajaknya bergabung ke kelompok diskusi kami.” Jawab Roki. “Apa pun yang kamu katakan, aku tidak percaya.” Kata Rangga dan langsung menghajar wajahnya. Tak terima, Roki berdiri melompat dan langsung menendang hingga mengenai perut Rangga. Dan pertengkaran mereka seketika membuat siswa berkumpul mengelilingi mereka, saling menjagokan satu sama lain dan bahkan ada yang bertaruh siapa pemenang di balik pertengkaran mereka. Diam-diam Olivia keluar pagar memanfaatkan pertengkaran mereka, ia langsung memasuki mobil pribadi yang dari tadi menantinya. Sementara pertengkaran antara Rangga dan Roki semakin sengit, keduanya saling mendapatkan luka, dan pada akhirnya Security yang baru saja keliling sekolah itu datang melerai mereka, meminta kepada Roki dari SMA tetangga itu untuk terlebih dahulu pergi meninggalkan tempat, dan untuk Rangga, namanya telah tersebar ke seluruh penjuru sekolah hingga ke dalam ruang-ruang kerja guru bahkan terdengar oleh Kepala Sekolah. Pak Imam, Security sekolah itu membawa Rangga ke ruang BK, menuntutnya agar Rangga segera di berikan sangsi berupa skorsing atau langsung mengeluarkannya dari sekolah, sebab dalam sehari, ia telah berulah dua kali. Tetapi Rangga sendiri tidak terlalu percaya hal itu akan terjadi, dan dia baru saja bertanya dalam hati kenapa orang seperti Pak Febri ini menjadi Guru BK. Melihat tampangnya saja seakan perut menjadi kocak. Kacamata tebal dan besarnya berulangkali jatuh di hidung peseknya, dan bagaimana lagi aturan gaya rambutnya, tersisir rapi ke sebelah kiri. Oh ternyata bukan hanya dia guru BK satu-satunya, namun ada lagi Ibu Aan yang baru tiba. Kalau ini, Rangga baru percaya bahwa ini memiliki sifat yang tegas, terlihat dari bentuk tubuh dan mukanya seperti singa pemangsa. “Anak ini kenapa, Pak?” tanya Ibu Aan pada security. “Di depan pagar sekolah ia melakukan perjanjian dengan anak sekolah lain lalu bertengkar.” Kata Security. “Oh... Kamu yang bernama Rangga itu?” tanya Ibu Aan. “Iya, Bu. Tetapi kalau boleh aku luruskan apa yang di katakan Pak Imam itu salah. Anak dari sekolah itu datang sendiri tanpa ada perjanjian sebelumnya denganku. Karena aku mengira dia adalah ancaman bagi cintaku pada Olivia, maka aku hajar saja dia.” Kata Rangga. “Astaga...” kata Ibu Aan. Namun setelah di interogasi dan di tanya berbagai hal lainnya, akhirnya Rangga hanya mendapatkan teguran kecil agar dia jangan sampai mengulanginya kembali.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD