Aku merasakan tepukan ringan di bahuku. Sayup-sayup aku dengar seseorang memanggil namaku. Tidak terlalu keras, tidak pula terlalu pelan. Aku mengerjapkan mataku pelan, leherku terasa sakit karena tidur dengan posisi menunduk di ujung brangkar. Sekejap aku terbangun dan menegakkan punggungku. Sebuah tangan kekar memalingkan wajahku ke arahnya. Wajah yang terlihat lega dan pancaran mata yang penuh kasih sayang menyambutku. Siapa lagi kalau bukan Arghani, pria yang tadi sempat terlibat acara drama denganku. "Kamu gak papa Di?" tanya Arghani. Aku menganggukkan kepala pelan, langsung saja aku peluk tubuh kekar itu. Aku memberikan sebuah kursi bulat kosong di sebelahku. Membiarkan Arghani mendaratkan pantatnya di sana. Pandangan mata kami bertemu sejenak, kemudian aku memalingkan wajah dan m

