Dokter baru selesai menangani luka Andrean ketika Marsha masuk ke dalam ruang uks. Raut khawatir tampak di wajah wanita itu. "Kau terluka? Kenapa bisa?" tanya Marsha, ia belum tahu penyebab Andrean terluka. Banyak dari orang-orang yang tahu kejadian itu tak Andrean izinkan untuk berbicara. Apalagi kejadian tersebut, belum terbukti kebenarannya. Sengaja atau tidak sengaja. "Hanya luka kecil," jawab Andrean enteng. "Tidak mungkin luka kecil, lilitan perbannya banyak." Andrean terkekeh. "Besar kecilnya luka, tidak bisa dilihat dari lilitan perban atau kain kasa ini, Marsha." "Benar, Nyonya. Saya di sini hanya melakukan pertolongan pertama. Lebih jelasnya lagi, setelah ini Tuan Andrean harus memeriksakan diri ke dokter. Sejauh yang saya lihat, Tuan Andrean kesusahan menggerakkan tangan ka

