Empat Puluh Sembilan

1089 Words

"Andrean jangan marah." Marsha mengungkap kekesalannya. Ia kesal Andrean sedari tadi diam sejak keluar dari restoran. "Tidak." "Tidak marah tapi diam. Wajahnya kaku kayak patung," deskripsi Marsha asal. Sengaja. Supaya Andrean balik jadi manusia normal. Andrean tidak menanggapi perkataan Marsha. Malah, mengalihkan pada hal lain. "Mau beli ice cream di mana?" Kekesalan Marsha semakin bertambah. Rasanya ia ingin menangis. Jangan salahkan mood ibu hamil yang suka berubah-ubah ya. Tergantung suasana saja. "Enggak usah beli! Aku mau pulang!" Marsha memalingkan muka saat Andrean melihatnya. Semenit.. Dua menit ... dan Sepuluh menit menunggu ... Andrean tak kunjung bersuara lagi, membujuknya pun tidak. Jadi ini beneran enggak jadi beli ice cream. Ia 'kan mau. Mata Marsha mulai berkaca,

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD