Tak ingin meninggalkan Cio terlalu lama, Andrean mengantar Marsha kembali ke ruang rawatnya. Baru membuka pintu, ada seseorang yang sepertinya dari tadi mengintip ke ruangan Ara dan Izy akan berlari pergi. Andrean tidak tinggal diam, dengan cepat pria itu menarik tangan orang tersebut. "Hei, kau siapa?" "Lepaskan aku! Lepas!" "Ibu." Marsha terkejut. Ia melihat ibunya yang telah lama tak ia jumpai. Wanita itu tak lagi berontak saat Marsha memanggilnya. "Ibu, ada di sini. Ibu bersama siapa? Mana kakak dan Adik?" Andrean melepaskan cekalan di tangan wanita paruh baya itu pakaiannya tampak lusuh, warnanya pun telah memudar. "Aku bukan ibumu. Kau tidak pantas memanggilku ibu!" "Kau ibuku. Aku tidak mungkin melupakan ibuku," lirih Marsha. Walau ibunya pernah tega mengusirnya, Marsha teta

