Dua Belas

1626 Words

Andrean menatap rumah tertutup di depannya ini dalam diam. Ia bingung. Haruskah ia jujur? Atau tetap Egois dengan memilih diam? Andrean mengurut pangkal hidungnya, terlalu larut dalam pikirannya sendiri, ia tidak sadar pintu di depannya terbuka. "Papa Andle!" "Ara." Andrean menunduk, ia memegang kedua lengan atas anaknya. "Ara kenapa keluar?" Tidak menjawab pertanyaan sang Papa, Ara malah bertanya pada Andrean. "Papa Andle sakit?" Mendapat perhatian kecil dari anaknya, Andrean tersenyum kecil. Kemudian menggeleng. "Tidak. Papa baik-baik saja, Sayang." "Papa bohong telus. Nenek selalu pegang hidung kalau pusing. Papa juga tadi." Gemas, Andrean mengelus puncak kepala Ara. "Tadi iya, Papa pusing. Sekarang tidak, 'kan sudah bertemu Ara. Papa jadi sehat." "Hmm ..." Ara bergumam, ia ag

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD