Empat Puluh

1511 Words

"Andrean bangun!" Andrean tersentak, lengannya di goyang dari belakang. Posisinya tidur memang membelakangi anak-anak. Ia masih setengah sadar. "Andrean cepat bangun!" Andrean membuka mata sepenuhnya, begitu mendengar Marsha berteriak untuk kesekian kalinya. "Ada apa, Marsha?" gelagap Andrean, karena terkejut. "Izy dan Ara demam tinggi, Andrean!" Sontak Andrean langsung beranjak dari tidurnya. Pening melanda, tak ia hiraukan. Ia tempelkan punggung tangannya di kening Ara dan Izy. Panas sekali. "Kita harus membawanya ke rumah sakit!" "Apa?!" "Ayo, cepat Andrean!” Teriak Marsha. Andrean pun menggendong kedua anaknya, di masing-masing pundak, tangannya ia gunakan menyanggah tubuh mereka agar tidak jatuh. "Ma, Pa." Cio memelas, ia bingung memandang kepanikan kedua orang tuanya. "Ci

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD