Marsha tak hentinya mondar mandir di depan jendela kamarnya. Ia menginginkan satu hal tapi hari sudah sangat malam sekali. Apa iya, ia harus pergi sendiri? Tapi percuma. Kunci utama dari keinginannya ini adalah Andrean dan Andrew. Kalau ia meminta Andrew pasti Andrean akan tahu. Seperti ngidamnya beberapa bulan yang lalu. Sedangkan dirinya tidak ingin merepotkan pria itu. Pria yang empat jam yang lalu mengantarkannya pulang. Sungguh. Ia jadi gelisah sendiri sekarang. Dengan keyakinan penuh. Marsha menghubungi Andrew. Tiga kali di hubungi. Pria itu tidak mengangkatnya. Ya, kali ngangkat. Ini udah tengah malam. Hmm, boleh enggak sih ia nangis sekarang? Udah capek nahan rasanya. Marsha pun mencoba sekali lagi. Tidak ingin menyerah. Kembali menelusuri kontak dan menelpon Andrew. Tapi seketi

