"Tante, bagaimana keadaan Kiara?" Tanya Daniel begitu dia sampai di rumah Kiara.
"Sedang di periksa dokter nak, kenapa nak Daniel lama sekali?" Jawab Liana.
"Maaf tante, macet." Jawab Daniel singkat. Seperti mengerti keinginan Daniel, Liana mengajak Daniel menuju kamar Kiara. Terlihat Kiara terbaring lemah tak sadarkan diri. Dokter sedang memeriksa denyut nadi Kiara dan meraba sepanjang punggungnya.
"Maaf bu, tapi anak ibu keadaannya baik baik saja. Tak ada kelainan apapun. Denyut nadinya juga normal." Kata sang dokter sambil bersiap pergi.
"Lalu kenapa anakku, tadi dia benar benar kesakitan." Kata Liana mulai terisak.
"Ini obat pereda rasa sakit. Berikan 2 butir setiap anak ibu kesakitan. Tapi sungguh saya tidak menemukan penyakit atau kelainan apapun pada anak ibu." Kata dokter itu. Mama Kiara hanya mengangguk mengerti.
"Ya sudah saya pamit dulu bu." Kata sang dokter.
"Nak Daniel, bagaimana ini?" Tanya Liana penuh khawatir.
"Daniel akan coba bertanya pada teman Daniel dulu tante. Daniel juga kurang tahu tentang masalah ini." Kata Daniel.
"Cepatlah nak, tolong Kiara."
"Baik tante, Daniel pergi dulu." Kata Daniel sambil mengangguk hormat.
"Alden." Bisik Daniel pelan. Dan seketika cahaya putih menelan Daniel dan menghilang dari kamar Kiara.
........
"Veon! Apa kamu sadar apa yang kamu katakan." Terdengar ratu Kayla sedang membentak Veon yang terlihat terduduk lemah tak berdaya. Sudah berhari-hari Veon dikurung di Istana. Dan hampir setiap hari ratu Kayla mempertanyakan pertanyaan yang sama pada Veon.
Apa yang sedang terjadi disini. Daniel baru saja tiba di dunia peri dan sekarang dia disuguhi drama keluarga yang memilukan.
"Daniel?" Sapa Caith dan Alden yang juga ada disana. Belum sempat Daniel menjawab sapaan Caith, ratu Kayla sudah menyambutnya terlebih dahulu.
"Kebetulan kamu datang Daniel, sekalian jelaskan padaku kenapa kamu dan kamu Veon bisa lancang mencintai ratu Kiara?" Kata ratu Kayla dengan tatapan tajam menusuk pada Daniel dan Veon.
Apa ini? Bagaimana dia bisa tahu perasaanku?
"Daniel?" Terdengar rintihan Veon yang tampak terkejut dengan ucapan ratu Kayla.
"Maaf ratu Kayla, tanpa mengurangi rasa hormat saya. Tapi sekarang ada hal yang lebih penting yang harus kita dahulukan. Kiara sedang sekarat. Saya kesini untuk memanggil Caith dan Alden."
"Apa yang terjadi pada Kiara Daniel?" Tanya Veon lemah, wajahnya diliputi kekhawatiran.
"Aku juga tidak tahu, Ayo cepatlah Caith, Al." KataDaniel tergesa.
"Aku ikut, kak aku ingin ikut. Aku ingin melihat keadaan Kiara." Kata Veon.
"Sampai kapan kamu akan terus melanggar aturan seperti itu Veon!" Bentak raja Eferhard pada Veon.
"Aku tidak peduli ayah, setelah ini ayah boleh menghukumku atau memenjarakanku. Tapi sekarang aku hanya ingin melihat keadaan orang yang kucintai." Kata Veon sambil mencoba berdiri. Caith dengan sigap memegang Veon agar tidak jatuh. Dan tiba tiba mereka menghilang.
Apa apaan itu? Caith berani membawa Veon melewati gerbang antar dunia di depan ratu Kayla? Ahhh, setelah ini pasti ada bencana besar!!
Daniel dan Alden juga segera undur diri dan berpindah ke tempat Kiara.
Saat mereka tiba di kamar Kiara, terdengar isak tangis tante Liana.
“Sayang... apa yang bisa mama lakukan?"
"Sakit ma.." Terdengar suara Kiara merintih menahan sakit. Dia sudah sadar dari pingsannya.
"Kiara, kamu kenapa?" Tanya Veon sambil mengusap sayang kepala Kiara.
"Veon??" Tanya Kiara disela tangisnya.
"Iya kiara, aku disini." Jawab Veon mencoba menenangkan Kiara.
"Tolong balikkan badanku ma, punggungku sangat sakit. Rasanya seperti terbakar. Sangat panas." Kata Kiara kesakitan.
"Biar saya saja." Kata Alden mendahului tante Liana. "Pronus." Kata Alden dan seketika tubuh Kiara terbalik, sekarang posisinya tengkurap.
Tante Liana terbengong melihat putrinya tiba tiba berubah posisi dengan sendirinya. Tapi itu tak begitu dipedulikannya. Tante Liana mengelus pelan punggung Kiara berharap sakitnya dapat berkurang.
"Jangan sentuh ma, sakit." Pekik Kiara kesakitan.
"Maafkan mama sayang." Kata Liana dengan tangis yang semakin deras.
"Ahhhhhhhh." Tiba tiba saja Kiara menjerit kencang. Mereka semua di buat terlonjak dengan teriakannya.
Perlahan.. Keluar sesuatu dari punggung Kiara dengan di iringi teriakan Kiara yang semakin kesakitan. Hingga akhirnya terkembang sebuah sayap berwarna putih cerah.
ya... Sayap putih yang bersinar perak menyilaukan...
Detik berikutnya, terlihat Veon jatuh tersungkur. Tak sadarkan diri.
"Veon.." Terdengar suara Caith yang memanggil adiknya dengan panik. Reflek Kiara langsung menoleh ke arah sumber suara. Meski sakit masih menguasai punggungnya. Namun nama yang keluar dari bibir Caith begitu mengusik dirinya.
Terlihat Veon tergeletak pingsan di samping ranjang Kiara. Segera saja Kiara ingin turun dari ranjang dan menghampirinya.
Prangggg.....
Tiba tiba vas bunga di samping ranjang pecah karena terkena sayap milik Kiara.
Kiara terlihat bingung. Jadi rasa sakit tadi karena akan keluar sayap dari punggungku? Hahhh... Apa hari saat aku jadi ratu sudah dekat? Kenapa fisiku mulai berubah...
"Ratu,, kamu baik baik saja?" Tanya Alden.
"Ah,, iya." Jawab Kiara masih bingung.
Namun saat dia melihat Veon.. Sekarang veon lebih penting daripada sayapku.
"Caith, cepat baringkan Veon di ranjang." Kata Kiara sambil berdiri dari ranjangnya.
"Tidak ratu, lebih baik aku bawa Veon pulang sekarang." Kata Caith sambil merengkuh Veon ke dengan kedua tangannya.
"Aku ikut." Kata Kiara cemas. "Mama, Kiara pergi dulu ya." Kata Kiara lalu mereka berlima segera hilang dari kamar Kiara dan sekarang berada di dalam kamar Caith.
Caith langsung membaringkan Veon di ranjangnya. Veon terlihat sangat lemah. Bibirnya kering, matanya terlihat hitam dan bengkak. Tubuhnya kurus dan tak terawat. Sakit apa dia?
"Aku mau memanggil peri hutan dulu." Kata Caith sambil keluar dan terbang entah kemana.
"Veon sakit apa?" Tanya Kiara lebih kepada dirinya sendiri.
"Dia tidak sakit ratu, hanya sedikit... merindukanmu." Jawab Alden enteng seakan itu hal sepele. Apa maksudnya? merindukanku sampai seperti ini? Veon?
"Apa yang terjadi?" Terdengar suara ratu Kayla dari arah pintu bersama raja Eferhard.
Mereka hanya diam membiarkan ratu Kayla melihat sendiri kondisi Veon.
"Veon.." Kata ratu kayla terisak. Air matanya mengalir deras melihat kondisi putranya.
"Cepat panggil Alix kemari." Kata raja Eferhard
"Caith sedang memanggilnya raja." Jawab Alden kalem. Ketenangannya benar benar luar biasa.
Tak berapa lama Caith datang bersama peri kecil yang mungkin hanya sebesar telapak tangan. Wajah dan tubuhnya sama seperti manusia, tapi sayapnya bening transparan seperti sayap capung, warnanya hijau muda segar, bentuknya seperti sayap kupu kupu hanya saja sedikit meruncing di tiap ujungnya.
"Alix, cepatlah periksa putraku." Kata ratu Kayla pada peri hutan kecil itu.
Peri itu terbang mendekat ke Veon. Turun di pergelangan tangannya, sepertinya sedang memeriksa nadinya. Lalu terbang lagi, sekarang peri itu turun di wajah Veon, membuka sedikit mata Veon dan bibirnya.
Peri hutan itu lalu terbang menuju ratu kayla dan membisikkan sesuatu di dekat telinga ratu.
"Caith, cepat cari bunga weish dan armei. buah pir ungu dan biji deint." Kata ratu Kayla yang langsung di sambut Caith dengan terbang secepat kilat.
"Ratu, Veon kenapa?" Tanya Kiara yang tak sanggup lagi menahan rasa khawatir.
"Ratu Kiara..." Ratu Kayla tampak ingin mengatakan sesuatu tapi urung. "Veon tidak apa apa, hanya kekurangan tenaga." Jawab ratu kayla dengan hormat. Kiara tidak suka di perlakukan seperti itu. Dia merasa kalau dia hanya anak kecil. Tak perlu menunduk seperti itu padanya.
bkk bkk bkkk, Suara kepakan sayap kiara membuyarkan keheningan. Sayap Kiara terus mengepak pelan di belakang punggungnya. Kenapa sayap ini terus bertenger. Peri yang lain bisa mengeluarkan dan memasukkan sayap mereka sesuka hati, kenapa sayapku terus eksis di balik punggungku.
"Ibu, ini." Kata Caith yang baru tiba menyerahkan nampan berisi bunga bungaan, buah dan biji.
Ratu kayla mencelupkan bunga bunga itu ke dalam wadah berisi air lalu membasuhkannya ke wajah Veon. Ajaib! Berangsur angsur wajah Veon mulai terlihat segar, tidak seperti tadi.
Perlahan, Veon mulai membuka matanya..
"Kiara.." Rintihnya pelan.
"Makan ini." Kata ratu Kayla sambil memberikan buah dan biji bijian pada Veon. Veon menurut dan langsung memakan semuanya.
"Bagaimana? Sudah enakan?" Tanya ratu Kayla ketika Veon sudah menghabiskan makanannya.
"Sudah tidak apa apa ibu." Jawab Veon lembut.
"Veon." Kata Kiara pelan. Semua yang ada di ruangan itu menoleh ke arah Kiara.
"Kiara.." Gumam Veon. Kembali terpancar kesedihan di mata Veon saat dia melihat Kiara, lebih tepatnya sayapnya.
Kiara ingat betul. Peri selalu berjodoh dengan mereka yang bersayap sama. Dan sayapnya berbeda dengan Veon. Artinya... Kiara bukan jodohnya....
Apa ini?
Kenapa aku sedih? Apa aku.... Suka Veon?
Ahh,, tidak tidak. Perasaan ini berbeda, meski aku belum pernah jatuh cinta...
Aku yakin ini bukan perasaan cinta.
Tapi kenapa rasanya begitu menyakitkan.
Semua yang ada di ruangan ini diam melihat Kiara menangis. Entah apa yang mereka pikirkan. Veon berdiri dari ranjangnya dan menghampiri Kiara. Lalu mengusap pelan kepalanya.
“Nona manis? Kenapa kamu menangis?" Tanya Veon lembut.
Kiara menatap lekat mata coklatnya. Mata yang selalu bisa menenangkan Kiara. Aku tak yakin apa yang sebenarnya ku rasakan. Tapi.. Aku... Aku hanya tidak suka melihat Veon sedih. Apalagi dia sampai sakit karenaku.
"Veon.." Hanya itu kata yang mampu diucapkan Kiara.
"Iya ratuku.. Ada apa? Kenapa menangis?" Tanya Veon penuh pengertian.
"Maaf.. kamu sakit karena aku kan." Kata Kiara sambil masih menatap matanya.
"Ini bukan salahmu Kiara. Aku sendiri yang mencintaimu. Memang tak seharusnya." Katanya sambil mengelus sayap Kiara pelan.
bkk bkk bkk.
Tiba tiba Kiara melayang rendah.. “ahhh bagaimana ini, sayapku bergerak sendiri.”
Untung Veon cepat menarik tangan Kiara dan menurunkannya kembali menjejak lantai.
"Kamu harus belajar mengendalikan sayapmu Kiara." Kata Veon.
"Benar. Bagaimana kalau sementara waktu ratu tinggal disini saja sampai ratu bisa mengendalikan sayap ratu? Akan sangat berbahaya kalau sampai ada manusia yang melihat ada orang memiliki sayap." Usul Caith.
"Ah,, benar juga. Itu lebih baik ratu." Kata Alden mengiyakan.
"Bukankah mama menunggu ratu pulang? Dia pasti khawatir sekarang." Kata Daniel tampak tak setuju.
"Daniel.. memang lebih baik kalau ratu Kiara ada disini. Bukankah kamu bisa menyampaikan pada orang tuanya kalau ratu harus belajar disini untuk beberapa hari?" Kata Ratu Kayla.
"Baiklah.. Saya permisi dulu." Kata Daniel sambil menghilang. Wajahnya melukiskan ketidaksukaan yang sangat jelas. Dia benar-benar tidak suka kalau Kiara harus tinggal di dunia peri dan banyak menghabiskan waktu dengan Veon.
Sesampainya dirumah Daniel langsung membanting pintu kamarnya dengan keras dan menguncinya rapat-rapat. Suasana hatinya benar-benar buruk.
"Ahhhhhhhhh"
Apa apaan itu? Kenapa Kiara menangis? Untuk Veon? Hahhh Jadi mereka saling mencintai?
Lucu sekali!
Apa? Kalian mau bilang aku pengecut? Ini salahku sendiri? Aku memang tak pernah berani mendekati Kiara, lalu kenapa?
Sekarang aku menyesal?
Mungkin...
Ya... Aku menyesal...
Aku takut kehilangannya...
Kiara,
Aku mencintaimu.
Aku ingin memilikimu, untukku.
**********
"Baiklah, sepertinya saya juga harus undur diri. Sampai bertemu lagi ratuku." Kata Alden sambil tersenyum dan segera kembali ke dunia kegelapan.
Alden termenung sendiri dikamarnya. Perkembangan ratu benar-benar diluar dugaan. Sekarang fisiknya juga sudah berubah. Tapi yang berubah bukan hanya ratu kan?
Kenapa semua jadi seperti ini?
Apa perang benar benar akan terjadi lagi?
Ratu.... Gadis rapuh itu... Entah bagaimana dia sudah membuat kami seperti itu.
Aku yakin sekali, perubahan sikap Daniel tadi. Dia pasti akan berusaha keras untuk memiliki ratu. Dan Caith... Dia juga akan mati matian melindungi adiknya. Tak kan membiarkannya sakit hati lagi.
Huuftt
Ratu memang mempesona.
Apakah duniaku juga harus turut memperebutkan ratu?
Aku benar benar tidak ingin perang itu terulang lagi..
Aku harus melakukan sesuatu..
Tok tok tok
Terdengar ketukan dari pintu kamar Alden. Ah,,, baru saja aku ingin tidur. Ada saja yang mengganggu.
"Siapa?" Tanya Alden dengan malas.
"Aku kak, Elden." Jawabnya sambil melongokkan kepalanya dari balik pintu.
"Masuklah." Kata Alden sambil berbaring.
"Kakak lelah ya? Ayah memanggilmu kak. Tadi kami menunggumu di meja makan, tapi kakak tidak datang datang." Kata elden.
"Ada perlu apa ayah mencariku?" Tanya Alden malas. Sejak mereka bertengkar malam itu, Alden belum bicara pada ayahnya sama sekali.
"Mana ku tahu. Ayo kak, ayah menunggu di ruang keluarga." Ajak elden sambil menarik kakaknya agar bangun.
Dengan malas Alden ikuti elden dari belakang menuju ruang keluarga. Alden sudah dapat menebak apa yang ingin di bicarakan ayahnya.
"Kemari nak." Kata ibu Alden ketika mereka sudah berada di ruang keluarga. Alden duduk di samping ibunya dan Elden lebih memilih berdiri bersandar di tembok.
"Al.. sudah saatnya kamu mengajak ratu berkunjung kemari." Kata ayahnya tepat sesuai dugaan Alden.
"Nanti." Jawabku malas.
"Kenapa harus nanti? Dia sudah bolak balik ke dunia peri tapi sekalipun belum pernah kemari. Sudah seharusnya kita mengundang ratu kita Alden." Kata ayah Alden.
"Kondisi ratu sedang tidak memungkinkan." Jawab Alden sekenanya.
"Apa ratu sakit kak?" tanya Elden.
"Tidak. Sayapnya baru saja keluar, dia belum bisa mengendalikannya." Jawab Alden.
"Sayap ratu sudah keluar? Jadi sebentar lagi hari pengangkatan tiba ya?" Tanya raja dunia kegelapan dengan mata berbinar yang menurut Alden, sangat menyebalkan.
"ehmm.. Begitulah." Sahut Alden acuh.
"Kalau begitu sampaikan saja pada ratu bahwa aku mengundangnya. Kapan harinya dia ingin kemari itu terserah pada ratu, yang penting secepatnya." Kata raja kemudian. Bilang terserah tapi harus secepatnya? Hahhhh, itu sama saja dengan memaksa!
"Kalau sudah selesai aku mau tidur." Kata Alden sambil melangkah menuju kamarnya.
"Aku juga mau tidur ayah." Kata Elden sambil menggapit tangan kakanya.
"Kakak apa benar sayap ratu sudah keluar?" Tanya elden berbisik di telinga Alden.
"Iya." Jawab Alden singkat.
"Apa warnanya?" Tanya El antusias. Dia memang tidak berubah. dari kecil rasa ingin tahunya benar benar sangat besar.
"Putih terang, bercahaya." Jawab Alden.
"Wahhh, sudah kuduga sayap ratu pasti berbeda dengan peri biasa. Sayap peri kan tak ada yang bercahaya." Kata Elden dengan mata berbinar.
"Tentu saja." Jawab Alden sambil merebahkan diri diranjangnya. Lelah sekali rasanya. Banyak beban yang menumpuk di pikiranku.
"Kakak lelah ya? padahal aku masih ingin ngobrol." Kata elden cemberut.
"Besok kan bisa, sekarang kakak ingin tidur."
"Yahhh besok aku sangat sibuk kak, perisai di bagian timur hutan centrum berlubang sampai 15 meter. Besok aku akan memperbaikinya bersama tim keamanan." Tutur Elden.
"Berlubang lagi?" Tanya Alden heran. Perisai di dunia kegelapan di buat dengan sihir yang sangat kuat, perisai itu sudah ada sejak beribu ribu tahun lalu. Bahkan ayahnyapun tak bisa membuat atau merusaknya. Hanya elden dan beberapa orang pilihan yang menguasai sihir itu.
"Iya, karena kerusakan yang dulu, mungkin perisai baru buatanku tak terlalu kuat seperti buatan para leluhur, jadi lebih mudah rusak." Jelas elden.
"Apa kali ini rusak karena ulah Filia lagi?" Tanya Alden. Filia, adik perempuan mereka, sangat suka bereksperimen. Mencoba mantra apa saja yang di ketahuinya tanpa berpikir akibatnya. 6 bulan lalu dia berhasil menjebol perisai langit dengan mantra yang entah ia temukan dimana. Akibatnya dia pingsan dan koma sampai hampir sebulan. Jika para Iblis asal memakai sihir, kadang memang sihir itu berbalik ke badan mereka dan dapat melukai diri sendiri. Untung Filia selamat. Kalau bukan anak raja, dia pasti sudah di penjara.
"Tidak, perisai itu memang memudar dengan sendirinya. Berarti aku harus belajar lagi untuk membuatnya agar lebih sempurna. Ya sudah kakak tidur saja. aku mau ke kamarku dulu." Kata elden sambil berbalik ke kamarnya.
Begitu Elden pergi, Alden langsung memejamkan mata dan tak butuh waktu lama sampai dia terlelap.
********
-to be continue-