Bab 2

797 Words
Dering bel masuk sekolah yang panjang dan tegas segera memutus keriuhan di koridor, menandai dimulainya jam pelajaran pertama. Semua siswa kembali ke tempat duduk masing-masing, buku-buku dikeluarkan, dan kelas XI IPA 2 perlahan hening. Versus menarik napas pelan, mencoba menenangkan sisa-sisa kegugupan setelah melihat Lia di gerbang tadi. Pintu kelas terbuka, dan sosok Pak Hartono masuk dengan langkah yang teratur. Guru Fisika itu meletakkan tas kulitnya di meja, menyesuaikan letak kacamata, lalu menatap seluruh kelas dengan pandangan disiplinnya yang khas. "Selamat pagi. Semuanya, buka buku catatan kalian," suara Pak Hartono memecah kesunyian. "Hari ini kita akan melanjutkan pembahasan mengenai penerapan Hukum Newton pada bidang miring. Saya harap catatan minggu lalu sudah lengkap." Versus secara otomatis merogoh tasnya. Tangannya meraba-raba bagian dalam tas yang biasanya berisi tumpukan buku, namun ia hanya menemukan buku paket Matematika dan Biologi. Jantungnya mulai berdegup kencang. Ia menggeledah lebih dalam, bahkan sampai ke kantong depan, namun buku bersampul cokelat dengan label 'Fisika' itu tidak ada di sana. "Sial," bisiknya tertahan. Ia baru teringat, akibat terburu-buru mencari dasi di balik tumpukan buku yang berserakan di lantai kosannya tadi pagi, ia lupa memasukkan buku catatan yang tertinggal di atas meja belajar pendeknya. Pak Hartono mulai menuliskan rumus-rumus di papan tulis dengan kapur yang berdecit nyaring. Versus menoleh ke arah Budi yang duduk di sebelahnya. "Bud, pssst... Bud," bisik Versus sambil menyenggol lengan temannya itu. Budi menoleh dengan wajah yang masih tampak mengantuk. "Apaan?" "Gue ketinggalan buku catatan Fisika. Boleh liat punya lo nggak? Gue mau nyontek rumus yang kemarin," pinta Versus penuh harap. Budi menghela napas pasrah lalu menyodorkan bukunya ke tengah meja mereka. "Liat aja, tapi jangan protes ya. Gue sendiri nggak yakin bisa baca tulisan gue semalam. Gue nyatet sambil merem-melek pas Pak Hartono ngejelasin." Versus menatap buku Budi dan seketika merasa lemas. Tulisan tangan Budi benar-benar berantakan, coretan di sana-sini, dan beberapa bagian terlihat terputus seolah penanya sempat terseret karena pemiliknya tertidur. Beberapa variabel Fisika tampak seperti cacing yang sedang menari. Versus mencoba memicingkan mata, berusaha mengartikan satu per satu simbol itu, namun ia merasa justru semakin bingung. Ia terpaksa pasrah, hanya bisa mendengarkan penjelasan Pak Hartono yang membosankan sambil mencoba mencatat poin-poin seadanya di selembar kertas buram yang ia temukan di tasnya. Tepat di depannya, Lia duduk dengan postur tubuh yang tegak dan tenang. Versus bisa melihat dari sudut matanya bagaimana tangan Lia bergerak lincah di atas kertas, menuliskan setiap penjelasan guru dengan sangat rapi. Gadis itu seolah berada dalam dunianya sendiri, fokus sepenuhnya pada papan tulis. Versus tanpa sadar menghela napas panjang, meratapi kecerobohannya. Kegelisahannya mungkin terlihat jelas, karena tiba-tiba, ia melihat gerakan kecil dari arah depan. Lia, tanpa menoleh sedikit pun ke belakang, menggerakkan tangan kirinya ke sisi bangku. Di antara jemarinya, terselip selembar kertas fotokopian yang dilipat rapi. Gerakannya sangat halus, seolah ia hanya sedang membetulkan posisi duduknya, namun arah kertas itu jelas tertuju pada meja Versus. Versus terpaku sejenak, menatap kertas itu dengan ragu. Apakah itu untuknya? Ia melirik ke sekeliling, memastikan Pak Hartono sedang sibuk menghadap papan tulis. Dengan cepat, Versus mengambil kertas itu. Ketika membukanya, Versus mendapati sebuah rangkuman materi Fisika yang sangat terorganisir, lengkap dengan diagram dan penjelasan tambahan di pinggir kertas. Itu adalah fotokopian dari catatan pribadi Lia. "Makasih," bisik Versus sangat pelan, hampir tak terdengar. Lia tidak membalas, tidak pula menoleh. Ia tetap fokus ke depan, hanya pita biru di kuncir rambutnya yang sedikit bergoyang saat ia memperbaiki posisi duduknya. Versus merasa ada kehangatan yang menjalar di dadanya. Ia segera mengambil pulpen dan mulai menyalin poin-poin penting dari catatan itu ke kertas buramnya. Waktu berlalu dalam keheningan yang produktif. Sesekali Versus mencuri pandang ke arah punggung Lia, mengagumi betapa tenangnya gadis itu meskipun suasana kelas terasa sangat kaku di bawah pengawasan Pak Hartono. Tidak ada percakapan yang terjadi di antara mereka, hanya bantuan bisu yang sangat berarti bagi Versus. *Kring!* Bel istirahat pertama berbunyi nyaring. "Sampai di sini dulu materi kita. Pelajari lagi di rumah," ucap Pak Hartono sambil merapikan barang-barangnya lalu keluar kelas. Versus segera melipat kembali kertas catatan itu. Ia menarik napas dalam-dalam, mengumpulkan keberanian untuk berdiri dan menghampiri meja di depannya guna mengucapkan terima kasih secara langsung. Namun, sebelum ia sempat bangkit, teman-teman perempuan Lia sudah lebih dulu mengerumuninya. "Li, ayo ke kantin! Katanya hari ini ada menu baru di stan Bu Siti," ajak salah satu temannya. Lia tersenyum, lalu berdiri dan mengikuti mereka keluar kelas. Versus hanya bisa terpaku di tempat duduknya, memegang erat kertas catatan itu sambil menatap punggung Lia yang menjauh. Rasa terima kasihnya masih tersangkut di tenggorokan. "Woy, Ver! Malah bengong. Jadi makan nggak?" tegur Budi sambil menepuk bahu Versus. Versus tersentak. "Ah, iya. Jadi." Versus memasukkan kertas milik Lia ke dalam saku seragamnya dengan hati-hati agar tidak kusut. Mereka berdua kemudian mengikuti arus siswa yang keluar kelas, menuju ke pusat keramaian sekolah: kantin. --
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD