Bab 12

777 Words
Cahaya pagi menyusup lembut melalui celah tirai kamar Lia. Jam dinding menunjukkan pukul 05.50. Udara di loteng masih hangat, bercampur aroma lavender yang samar dan bau seks semalam. Versus membuka mata perlahan. Ia merasakan kehangatan yang luar biasa di sekitar pinggulnya. Penisnya masih tertanam dalam-dalam di dalam v****a Lia, masih setengah keras meski semalaman. Tubuh mereka tetap menyatu persis seperti saat tertidur, Lia tergolek menungkup di posisi atas, d**a menempel d**a, kaki saling bertaut. Lia kembang-kempis pulas, napasnya pelan dan teratur di leher Versus. Rambutnya acak-acakan menutupi separuh wajahnya. Versus tersenyum kecil, tangan kirinya mengusap punggung telanjang Lia dengan lembut. Ia mencoba bergerak pelan, tapi begitu pinggulnya bergeser sedikit, Lia langsung menggeliat. Dinding vaginanya berdenyut pelan sekali, seolah bereaksi otomatis meski pemiliknya masih tidur. “Hmm…” gumam Lia tanpa membuka mata. Suaranya serak dan manja. “Masih di dalem… jangan dicabut dulu…” Versus tertawa pelan di telinga Lia. “Gue kira lo masih tidur beneran.” Lia akhirnya membuka mata, pupilnya masih sedikit kabur karena baru bangun. Ia menunduk, menyadari posisi mereka yang masih menyatu sempurna. Pipinya langsung memerah, tapi senyumnya lebar. “Dih.. anjir… Beneran nggak misah semaleman ya?” bisiknya sambil menggigit bibir. Ia menggerakkan pinggulnya pelan sekali, merasakan gesekan di dalam. “Masih… penuh banget. Lo… masih keras juga.” Versus menghela napas panjang, menahan sensasi nikmat yang langsung menjalar. “Lo yang ngunci bikin gue susah cabut. Semalaman lo pegang pinggang gue erat-erat.” "Aha.. ah." Lia tertawa kecil, lalu mengecup bibir Versus singkat. “Enak kok… rasanya aman. Anget. Kayak… nemenin gue di dalem.” Mereka saling pandang sebentar dalam keheningan pagi yang intim. Versus mengusap pipi Lia dengan ibu jarinya. Mereka diam saling tatap. Lia teringat sesuatu, meraih sesuatu ke meja samping kasur, mengambil selembar pil kontrasepsi yang beberapa butir sudah kosong. “Ini…” Lia menunjukkan pil itu ke depan wajah Versus. “Semalam sebelum lo dateng, gue minum ini. Gue kira vitamin anti ngantuk buat begadang try out. Ternyata Kak Tiwi baru bilang tadi sore… ini pil KB. Dia kasih ke gue ‘buat jaga-jaga’ katanya.” Versus mengerutkan dahi, tapi tak terlihat panik. “Lo… udah minum berapa butir?” “Belakangan hari ini udah tiga butir,” jawab Lia sambil tersenyum miris. “Kak Tiwi ketawa-tawa bilang ‘daripada lo hamil pas try out, mending minum ini’. Gue baru nyadar semalam setelah lo… sembur dua kali di dalem.” Versus diam sebentar, lalu mengusap pinggang Lia. “Lo nggak marah?” Lia menggeleng. “Nggak. Malah… agak lega. Seenggaknya gue nggak perlu panik pagi ini. Tapi… lain kali bilang dulu ya kalau mau dalem-dalem gitu.” “Iya,” jawab Versus lembut. “Maaf. Semalam… gue juga kebawa suasana.” Lia tersenyum nakal. “Gue juga sih… yang minta di dalem terus.” Mereka tertawa pelan bersama. Lia meletakkan kembali lembar pil itu di meja. Sebelum badan mereka benar-benar berpisah, Versus memegang pinggul Lia lebih erat. Dengan gerakan pelan tapi tegas, Versus mendorong naik pinggulnya ke atas, membenamkan p***s lebih dalam lagi hingga ujungnya menyentuh bagian paling dalam di v****a Lia. “Ha.. Ahh…!” Lia menahan desahan kecil. Tubuhnya otomatis terangkat sedikit, p****t naik dari kasur karena dorongan Versus yang dalam. Lia tidak tinggal diam, mulai mendenyut-denyutkan dinding vaginanya dengan ritme pelan. Kontraksi lembut itu memijat p***s Versus, seperti sedang memeluk dan meremasnya secara bergantian. "Mgh.." Versus mengejan pelan, mata setengah terpejam. “Li… Lo sengaja ya…” Lia hanya tersenyum manja, matanya setengah terpejam juga. Ia terus berkontraksi tanpa menggerakkan pinggulnya terlalu banyak, hanya denyutan halus dan kuat, berulang-ulang, seolah ingin menahan Versus agar tetap berada di tempat yang paling dalam. “Hhh… enak…” ucap Lia hampir tak terdengar. “Rasanya… lo berdenyut juga di dalem gue… kayak saling jawab…” Mereka saling menatap dalam diam, hanya ada suara napas yang semakin berat dan denyutan pelan yang terus berlangsung. Kontraksi Lia semakin ritmis, sementara Versus sesekali mendorong pelan dari bawah, membuat ujung penisnya menekan lebih dalam lagi. Beberapa saat kemudian, Lia mengecup bibir Versus lembut. “Cukup… ntar kita telat masuk kelas,” bisiknya meski pinggulnya masih sedikit bergoyang pelan. Versus mengangguk berat. Dengan perlahan, ia menarik diri hingga penisnya keluar sepenuhnya. Cairan putih kental mereka langsung mengalir keluar dari v****a Lia yang masih sedikit terbuka, membasahi kerut a**s. "Haaa.. ah." Lia merasakan kekosongan yang tiba-tiba. “Rasanya… aneh sekarang. Kosong.” Versus tertawa pelan sambil memeluk Lia erat. “Nanti malam kita isi lagi, Strong." Lia menepuk pinggang Versus pelan. “Nih udah n***e banget." Mereka berbaring sebentar. Meski tubuh mereka sudah berpisah, rasa hangat dan keintiman semalam masih terasa kuat, ditambah rahasia kecil pil KB yang baru saja terungkap. ---
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD