Bab 4

1001 Words
Di sini, di antara tekanan ibu jari Versus dan napas pelan klien, semuanya terasa lebih teratur. Ia tidak sekadar mencari uang. Ia belajar membaca tubuh orang, belajar sabar, belajar bahwa kelelahan itu wajar, asalkan ada yang mau menanggungnya dengan tangan yang tepat. Jam delapan malam, Versus kembali ke kos berkendara motor. Hujan turun lagi, lebih lembut kali ini, membasahi genteng dan daun pisang di halaman depan. Ia menaruh tas kerja di sudut, membuka kemeja, dan duduk di tepi kasur. Ponsel bergetar sekali lagi: `Transfer Masuk: Rp 85.000` `Terima kasih telah menggunakan SentuhSehat. Rating Anda: ★★★★★` Versus menatap layar itu, lalu meletakkan ponsel di samping bantal. Ia menarik napas dalam, merasakan otot bahunya sendiri yang menegang seharian. Besok masih ada seragam yang harus dikenakan. Masih ada gerbang sekolah yang harus dilewati. Masih ada jalan pulang yang sama, diulang hari demi hari. --- Jarum jam dinding kamar Lia menunjuk pukul 22.45. Lampu belajar berwarna kuning redup masih menyala, menerangi tumpukan buku biologi, lembar latihan soal yang sudah penuh coretan, dan secangkir teh yang permukaannya sudah ditumbuhi lapisan tipis uap dingin. Lia menghela napas panjang, jari-jarinya meremas pelan tengkuk yang kaku sejak tiga jam lalu. Matanya perih, tapi ia belum berani menutup buku. Try out nasional tinggal menghitung waktu, dan target nilai masih belum tercapai. Di luar kamar, suara tawa lembut Kak Tiwi terdengar dari teras. Lia bisa membayangkan kakak perempuannya itu sedang duduk di kursi rotan, kaki disilang, mengobrol santai dengan pria yang minggu ini sudah ketiga kalinya datang menjemput. Kak Tiwi tidak pernah protektif. Baginya, kehidupan Lia adalah urusan Lia sendiri. *“Kamu tahu kapan harus istirahat, kok,”* begitu kata Kak Tiwi suatu sore, sambil melempar handuk bersih ke tempat tidur. Lia hanya mengangguk. Ia memang tahu. Tapi tahu dan melakukan adalah dua hal yang berbeda. Ponsel di atas meja bergetar ringan. Layar menyala, menampilkan ikon aplikasi *SentuhSehat*. Lia mengetuknya. Halaman utama menampilkan daftar terapis di radius tiga kilometer. Ia langsung mencari nama langganannya: *Bella Fing*. Statusnya merah. *Closed*. Lia mendesah pelan. Ia sudah terbiasa dengan ritme tangan Bella yang tahu persis titik pegal di bahu kirinya. Jempolnya bergeser ke bawah. Daftar terapis terus berjalan. Hingga satu profil berhenti di tengah layar. `Nama: Dinda` `Status: Open` `Rating: ★★★★★ (48 ulasan)` `Foto Profil: Wanita berambut pirang terurai, tersenyum sopan ke arah kamera.` Lia mengerutkan dahi sejenak. Foto itu tampak seperti stok profesional, bukan selfie. Tapi ratingnya tinggi, dan statusnya terbuka. Ia tidak punya banyak pilihan. Lia menge-tap *Pesan Sekarang*. Layar menampilkan: Durasi: 60 menit. Jenis: Pijat Bahu & Leher. Alamat: Jl. Melati Dalam No. 12. Konfirmasi. Notifikasi masuk: *Terapis sedang dalam perjalanan. Estimasi tiba: 23.15.* --- Di kamar kos yang berukuran tiga kali empat meter, Versus baru saja menutup buku paket kimia. Ponsel di samping bantalnya bergetar, memotong kesunyian malam. `Pesanan Baru: SentuhSehat` `Klien: Lia` `Lokasi: Jl. Melati Dalam No. 12` `Terapis: Dinda (Akun Anda)` Versus menatap layar itu, lalu berdiri. Ia tidak mengubah nama akun itu karena algoritma aplikasi lebih responsif terhadap profil perempuan untuk layanan pijat relaksasi. Foto profilnya Versus ambil dari galeri stok tiga tahun lalu, dan sejak itu ia belajar menyesuaikan ekspektasi klien dengan kualitas kerja, bukan wajah yang terpampang di aplikasi. Versus mengganti kaus sekolah dengan kemeja polos berlengan tiga perempat, menyisir rambut yang masih lembap karena habis mandi, dan memasukkan handuk bersih, minyak esensial lavender, serta rol kayu ke dalam tas kain. Sebelum mengunci pintu, Versus mengecek ulang alamat. Hanya lima belas menit naik motor dari kosnya. Udara malam terasa lebih dingin. Suara jangkrik dan gemericik air dari selokan mengiringi langkahnya menuju parkiran. Mesin motor hidup pelan. Versus menyusuri jalan sepi yang diterangi lampu jalan kuning pucat. Di persimpangan ketiga, ia belok ke jalan kecil yang diapit pagar tembok dan pohon trembesi. Rumah itu persis di depan. Terasnya masih menyala. Seorang wanita muda duduk di kursi plastik, kaki disilang, tertawa kecil sambil mendengarkan pria di sebelahnya yang sedang menggerak-gerakkan tangan saat bercerita. Keduanya tampak santai. Tidak ada tanda-tanda akan segera berpisah. Versus mematikan mesin, menarik tas dari bahu, dan berjalan mendekati teras. “Permisi, Mbak,” sapa Versus pelan, mengangguk sopan. Pria itu menoleh, lalu bangkit berdiri. “Ya? Ada apa?” “Saya dari SentuhSehat. Pesanan untuk Lia. Benar alamat ini, ya?” Pemudi itu—Kak Tiwi—menyapu pandang ke wajah Versus, lalu ke ponselnya yang tergeletak di meja kecil. “Oh, iya. Pesanan pijat, kan?” Versus mengangguk pada Tiwi dan juga pada pria di sebelahnya. “Lia di atas, di kamar dalam. Pintunya nggak dikunci. Masuk aja, ya. Jangan lama-lama, dia besok masih harus sekolah pagi-pagi," Tiwi bicara lebih banyak. “Siap, Mbak. Terima kasih.” Pria yang bersama Tiwi pun hanya mengangguk singkat sebelum kembali ke percakapan mereka. Versus tidak menunggu lebih lama. Ia menaiki dua anak tangga, mengetuk pintu kamar yang memang tersisa celah, lalu membukanya pelan. “Permisi, saya terapis dari...” Kalimat Versus terpotong di tengah. Lia baru saja menutup buku dalam duduknya di tepi kasur, ada bantal yang baru saja ia taruh. Lia menoleh ke arah pintu, matanya melebar begitu melihat anak sebayanya berdiri di depan pintu. “Ver?” Suara Lia keluar pelan, hampir seperti bisu. Buku di pangkuannya hampir jatuh. Lia menatap kemeja lengan tiga perempat, tas kain di bahu, lalu ke tatapan Versus yang familiar di kelas XI IPA 2. Otak Lia berputar cepat, mencoba menyelaraskan dua informasi yang sama sekali tidak cocok: pesanan terapis perempuan bernama Dinda, dan Versus yang berada di rumah. Versus menelan ludah. Ia sudah menyiapkan skenario ini berkali-kali di kepala, tapi kenyataan selalu punya cara sendiri untuk membuatnya kaku. Ia tetap berdiri tegak, suaranya dijaga tetap profesional meski detak jantungnya berpacu. “Saya Dinda, dari aplikasi SentuhSehat. Maaf kalau mengejutkan. Foto profil di aplikasi memang... bukan representasi langsung. Tapi layanan dan teknik yang saya tawarkan tetap sama. Kalau Kak Lia merasa tidak nyaman, saya bisa membatalkan dan mengembalikan pembayaran penuh.” Lia tak langsung menjawab. Matanya bergerak dari wajah Versus ke tas kain di bahunya, lalu ke ponsel yang masih menampilkan notifikasi *Terapis dalam perjalanan*. ---
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD