■♡■♡■♡■♡■♡■♡■♡■ “Seperti ingin menjauh, namun kaki bak terikat. Angan mengaburkan fakta yang jelas-jelas bisa dilihat oleh mata telanjang. Hingga kelak jiwa tersadar oleh tamparan Tuhan.” ~Febriansyah Ramadhan ■♡■♡■♡■♡■♡■♡■♡■ ■♡■ “Kenapa nggak masuk? Masih musuhan sama Yudhis?” tanya Restia. Mereka berdua tengah duduk di bangku koridor rumah sakit yang agak jauh dari kamar Yudhis. “Sudah ada Arum, Mbak, di dalam,” jawab Juna. “Memangnya kenapa? Bukannya kalian bertiga akrab?” “Aku nggak bisa ganggu hubungan mereka sekarang.” “Oh, gitu ternyata. Jadi kamu belum mengaku di depan dia?” Restia tergelak. “Maksud Mbak, mengakui apa?” “Ya, mengakui keduanya. Pertama, mengakui bahwa kamu adalah teman masa kecilnya. Kedua, mengakui bahwa kamu mencintainya. Benar, kan?” Juna diam saja.

