“Nama lengkap?”
“Rama Arjuna Wicaksono,” jawab Juna dengan malas untuk interogasinya yang ketiga pagi ini di kantor polisi. Kali ini ia ada di bagian tindak kriminal ringan, setelah sebelumnya ia harus menjalani pemeriksaan alibi dan barang bukti yakni berupa kunci duplikat dan sebuah kopor.
“Panggilan?”
“Juna.”
“Tanggal lahir?”
“Bukankah saya sudah menjawabnya tadi di ruang sebelah, Pak?”
“Tanggal lahir?” ulang polisi itu dengan geram.
“De-delapan belas Juni, sembilan satu.”
“Alamat?”
“Sudah saya bilang, kan, Pak, saya tinggal di rumah besar yang tadi itu. Saya pemilik rumah itu,” kata Juna memelas.
“Jika memang benar Anda tinggal di rumah itu, tunjukkan buktinya. Karena alibi Anda tidak cukup kuat untuk membuktikan bahwa Anda tidak bersalah. Nomor telepon wali Anda juga tidak bisa dihubungi. Kebohongan apa lagi yang ingin Anda utarakan, HAH?” bentak polisi itu. Mulai geram dengan tingkah Juna yang masih saja mengutarakan pembelaan diri tak berdasar.
“Sudah saya bilang juga, kan, Pak, kalau saya baru pindah rumah. Jadi, saya belum sempat menyapa para tetangga. Wajar kalau tidak ada yang mengenali wajah saya. Tapi meskipun begitu saya sudah memperbarui KTP saya. Dan di situ tercantum alamat lengkap rumah saya yang sekarang. Saya mohon percayalah, Pak. Saya bukan maling, rampok apalagi pencuri.”
Juna memohon belas kasihan pada polisi yang tengah menginterogasinya saat ini.
“Sekarang mana KTP-nya? Tunjukkan kalau memang benar,” tantang polisi itu. Galak.
Juna mendesah frustrasi. “Aku bisa gila,” gumamnya.
“Sudah saya bilang juga, kan, Pak, saya baru kehilangan dompet saya kemarin sore waktu saya ada di luar kota. Jadi KTP saya juga ikut hilang.”
Juna menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal. Tubuhnya capai. Ia sangat ingin menghenyakkan punggungnya di atas matras.
“Kami tidak bisa begitu saja percaya dengan alasan-alasan tanpa dasar semacam itu,” kata si polisi bersikeras menjunjung tinggi hukum yang berlaku.
Juna menendang kaki meja. Cukup keras hingga sebuah bolpoin jatuh menggelinding. Ia kembali mengacak rambutnya karena kesal. Sudah begitu frustrasi. Tidak tahu harus membela diri dengan pernyataan yang bagaimana lagi. Otaknya sudah terlalu lelah untuk dipaksa berpikir.
“Jadi, apa yang sebenarnya Anda incar dari rumah itu?” tanya si polisi melanjutkan interogasinya.
“Kasur,” jawab Juna sekenanya. Pandangan matanya kosong.
“Maaf?” Sebelah alis si petugas naik.
“Kasur, Pak. Saya mengincar kasur,” jawab Juna sedikit mendramatisir.
“Jangan main-main Anda dengan aparat kepolisian!” bentak si polisi yang juga mulai kesal dengan jawaban Juna.
“Saya tidak main-main, Pak. Saya serius. Apa tampang saya kurang bisa meyakinkan Bapak? Saya capek. Saya butuh kasur untuk beristirahat setelah perjalanan yang melelahkan semalaman. Tolonglah Pak, saya ingin pulang ke rumah saya.”
“Baik, kalau begitu Anda saya bebaskan—”
“Beneran, Pak? Saya dibebaskan? Terima kasih, Tuhan!” Juna bersorak penuh haru atas keputusan yang tidak terduga dari si petugas.
“Saya belum selesai bicara! Dengarkan dulu sampai selesai!” bentak polisi itu. Wajahnya garang. Seketika air muka Juna berubah menjadi lebih frustrasi dari sebelumnya.
“Baik, Pak.” Juna tertunduk. Pasrah.
“Anda saya bebaskan untuk memilih—”
“Baik, Pak. Saya memilih untuk damai. Saya memilih menyelesaikan masalah ini dengan jalan kekeluargaan.”
“Saya belum selesai bicara!”
Polisi itu menggebrak meja di hadapannya. Cukup membuat Juna dan dua orang polisi di samping kanan dan kiri Juna berjingkat.
“Ma-maaf, Pak. Silakan lanjutkan.” Nyali Juna ciut seketika.
“Anda saya bebaskan untuk memilih kasur yang Anda sukai di tiap sel penjara di gedung ini. Bukankah Anda bilang Anda lelah?” ujar polisi itu dengan senyum sinis penuh kemenangan.
Juna merasakan rahangnya nyaris lepas dari tempatnya setelah mendengar penawaran sepihak dari polisi itu. Pandangannya kosong, sementara rahangnya tak bisa kembali menutup.
“Mari ikut saya. Bawa dia ke sel!”
Dua polisi yang sedari tadi berada di kanan-kiri Juna bergegas menyeretnya keluar ruangan atas perintah atasannya.
“Tu-tunggu, Pak! Saya mohon jangan penjarakan saya, Pak. Please, Pak. Please.”
Juna memberontak dari cengkeraman dua polisi yang kini menyeretnya paksa. Memohon belas kasihan pada mereka dengan tampang semelas yang ia bisa.
“Oh!”
Tiba-tiba datang seorang gadis berambut ikal. Ia menunjuk ragu pada pemuda yang tengah diseret di sepanjang koridor kantor polisi. “Err— Rama, ya?”
“Oh? Kamu, kan, yang waktu itu…” Juna terperangah atas kehadiran gadis yang ia temui kemarin sore di toko buku Surabaya.
“Apa Anda mengenal pemuda ini, Mbak?” tanya salah satu polisi yang tadi menginterogasi Juna.
“Err— ti-dak.” Arum menggeleng ragu.
Juna terbelalak. Jelas-jelas gadis ini mengenalnya. Yah, walau itu semata-mata hanya anggapan Juna. Gadis itu sama sekali tidak beranggapan serupa.
“Saya hanya membaca nama orang ini di KTP-nya.”
Segera Arum mengeluarkan selembar KTP dari dalam tasnya dan membaca ulang nama lengkap yang tertera di sana.
“Rama Arjuna Wicaksono. Benar, kan, ini KTP Anda?”
Juna hanya bisa mengangguk berulang kali tanpa ada sepatah katapun yang keluar. Ia begitu terharu dengan keajaiban yang terjadi tepat di depan matanya. Arum merogoh isi tasnya sekali lagi untuk mengeluarkan sebuah dompet berwarna hitam.
“Saya menemukan dompet orang ini. Ke bagian mana saya harus melapor?” Arum mengacungkan dompet di tangan kanannya dan KTP di tangan kiri seraya tersenyum simpul kepada Juna.
Walau sulit dipercaya tetapi Juna merasa sangat tertolong dengan apa yang baru saja terjadi. Apapun itu, ia sangat berterima kasih pada gadis itu hingga rasanya kata terima kasih saja tak cukup untuk membayar kebaikannya.
“Mas Juna!” seru seorang laki-laki paruh baya.
Laki-laki itu tergopoh-gopoh memasuki kantor polisi. Ia ditemani seorang wanita paruh baya di belakangnya. Juna yang tengah duduk untuk menyelesaikan penyelidikan terakhir bersama Arum, seketika menengok ke arah sumber suara.
“Pak Aryo!” pekiknya. Juna kegirangan. Ia segera menghambur menghampiri abdi setianya itu dengan penuh rasa syukur. Wajahnya menunjukkan kelegaan lebih dari ketika gadis itu menemukan dompetnya. Pak Aryo segera menjelaskan duduk permasalahan yang sebenarnya secara singkat namun gamblang kepada petugas.
“Mbok Umi?” Kali ini Arum yang bersuara. Arum tidak menyangka akan bertemu dengan pemilik rumah kos di kantor polisi.
“Sekar? Gusti Pangeran16 (Ya Tuhan), apa yang kamu lakukan di kantor polisi, Nduk?”
“Oh, ini. Aku sedang melaporkan barang yang hilang, Mbok. Dan—”
“Barang hilang? Opomu sing ilang17 (Apa yang hilang), Nduk?”
“Ah, ndak kok, Mbok. Bukan aku yang kehilangan, tapi pemuda ini yang kehilangan dompet. Dan kebetulan aku yang menemukan dompetnya. Jadi aku berniat ke kantor polisi terdekat untuk melaporkan dompet itu. Aku lihat alamat di KTP-nya kalau dia tinggal di sekitar kota ini, jadi aku mampir dulu kemari.”
“Jadi begitu. Syukur kamu ndak apa-apa. Mbok tadi sudah cemas kalau-kalau terjadi sesuatu sama kamu.”
Tak henti-hentinya tangan Bu Umi menepuk punggung tangan Arum dengan perasaan lega.
“Tapi, kenapa Mbok bisa ada di sini?”
“Oh, soal itu. Itu karena saya yang mengajaknya kemari sebagai saksi untuk membebaskan Tuan Muda saya dari tuduhan pencurian di rumah ibu ini,” terang Pak Aryo kepada Arum. Aksen medhok-nya persis seperti logat Bu Umi.
“A-apa p-pe-pencurian?” Arum menatap nanar pada Juna. Sungguh di luar dugaan, batinnya.
Juna keras menggeleng berusaha mengelak dari tuduhan. Ia menyilangkan tangan di depan d a d a dengan wajah memelasnya yang tadi.
“Jadi, ini semua hanya kesalahpahaman saja. Mas Rama Arjuna sekarang sudah boleh meninggalkan kantor polisi dan terbebas dari tuduhan pencurian,” kata polisi itu seraya menjabat tangan Juna dan yang lainnya.
Footnote:
16 Ya Tuhan
17 apa yang hilang
# # #