“Pertemuan ini bukan kebetulan. Jika memang hanya kebetulan, bagaimana dengan Adam dan Hawa yang dipertemukan di Gunung Kasih Sayang berabad-abad silam? Apakah menurutmu Tuhan gemar merancang kebetulan?” - anonim -
# # #
Gadis itu terpekur. Dahi yang tertutup poni menggambar segaris kerut. Ujung rambut ikal yang nyaris mencapai pinggang sebagian dipermainkan dalam pilinan telunjuk tangan kiri. Mulutnya sibuk mengeja tiap deret judul buku yang tersapu jemari. Garis kerut di keningnya kian bertambah. Ia mulai gelisah. Sudah ingin menyerah.
Sudah dua puluh menit berlalu.
Ia tengah mencari sebuah buku incarannya di salah satu toko buku ternama di hiruk pikuk kota Surabaya. Sebuah kacamata yang ia kenakan membuat sosoknya mirip seorang kutu buku yang pemalu dan polos. Padahal sebenarnya tidak. Sama sekali tidak.
Jemarinya telah menelusuri tiap inchi rak buku di toko itu dengan teliti, hingga jemarinya membekas abu-abu karena debu. Namun hasilnya nihil. Buku yang ia cari tidak ada di rak bagian fiksi remaja. Kecil kemungkinan jika novel itu dikelompokkan dalam kategori bisnis atau semacamnya. Baiklah, tak ada pilihan lain. Akhirnya, ia bergegas menghampiri meja kasir untuk menanyakan database buku kepada si petugas.
Di sisi lain, seorang pemuda yang dua puluh lima menit lalu berkutat mencari sebuah buku di toko yang sama, tiba-tiba tersenyum kecil.
Eureka!
Pemuda jangkung itu menemukan satu buku yang ia cari. Tergesa-gesa menghampiri meja kasir untuk membayar, hingga tak menyadari ada seorang gadis yang juga hendak menuju meja kasir. Si gadis bertanya tentang sebuah buku yang ia cari kepada petugas kasir yang tengah melayani transaksi pembayaran buku milik si pemuda.
Setelah mengecek database, petugas itu mengatakan dengan sangat menyesal kepada gadis-kacamata bahwa buku yang dicarinya sudah habis terjual. Kemudian si petugas menunjuk buku yang telah dibayar oleh si pemuda dan mengatakan bahwa itulah stok buku yang terakhir.
Tertulis sebaris judul Lukisan Sang Kupu-kupu di sampulnya yang bernuansa biru. Di pojok kanan atas tertulis sebaris nama: Kaka Klavieri. Seketika gadis itu tersenyum. Ia pergi setelah mengucapkan terima kasih kepada petugas kasir yang sebelumnya telah meminta maaf kepadanya karena buku yang dicari gagal didapatkan.
# # #
Jalanan kota ramai lengang. Menjelang senja, hilir mudik pejalan kaki memadati kedua sisi trotoar. Kendaraan di jalan utama saling bersahutan menyalakkan klakson.
Arum melangkah riang keluar dari toko buku. Tetapi ia berusaha menutupi kegembiraannya dengan bersikap biasa saja. Ia tidak suka meluap-luap atau menanggapi sesuatu secara berlebihan.
Sebuah benda tersimpan di saku jaket sebelah kanan. Benda yang telah banyak membantu penyamarannya hari ini. Sebuah kacamata dengan lensa netral. Ia harus senantiasa berhati-hati jika bepergian ke mana saja. Khususnya di tempat-tempat umum, seperti hari ini.
Rambut yang tadinya ia gerai segera diikatnya ke belakang. Kemudian ia tutup kepalanya menggunakan tudung kepala yang menempel pada jaketnya. Setelah menghela napas panjang, Arum berjalan melewati kerumunan tukang becak dengan raut yang sama sekali datar. Sekali lagi, ia memilih menyembunyikan emosinya.
“Hei, yang di sana! Tunggu!”
Terdengar teriakan seseorang dari belakang. Entah siapa yang dipanggil suara tadi, Arum tidak terlalu ambil peduli. Tidak juga ingin tahu atau sekadar menoleh untuk mengetahui siapa pemilik teriakan itu. Menurutnya suka ikut campur urusan orang lain bukanlah budaya yang cukup bagus. Ia bergegas menuju zebra-cross karena lampu penyeberang jalan sudah cukup lama menyala hijau. Tepat sebelum Arum melangkahkan kaki di marka penyeberangan, tangan kirinya serasa ditarik ke belakang.
BRUG! SRAK!
Sesuatu terjatuh dan membentur trotoar. Tepat pada saat itu lengkingan klakson kendaraan saling bersahutan. Lampu lalu lintas kendaraan sudah mulai menyala hijau.
Arum membeku di tempat. Jantungnya nyaris saja melompat ke luar. Apa yang baru saja terjadi cukup membuatnya terguncang. Terlebih lagi sekarang ia berada dalam pelukan seseorang. Parahnya, dalam pelukan laki-laki!
Mata itu nyalang.
Seluruh tubuh Arum menegang. Tudung jaket yang ia kenakan tersibak akibat terpaan angin kencang senja itu. Membuat poni di keningnya berkibar berantakan. Pemuda itu masih mendekapnya erat, seperti tak berniat melepaskannya. Wajah Arum tersembunyi dalam dekap si pemuda.
Apa-apaan ini orang? batinnya sedikit kesal.
Tiba-tiba pemuda itu mengaduh kesakitan. Arum menginjak kaki kiri si pemuda dengan kasar. Spontan pemuda itu melepaskan Arum.
“Njenengan1 (Anda) siapa?” Arum waspada. Menjaga jarak beberapa senti menjauhkan diri dari jangkauan si pemuda tak dikenal.
“Kamu gila, ya? Nekat sekali langsung menerobos lampu penyeberang jalan yang sudah menyala merah,” komentar si pemuda. “Dan lagi, apa tadi kamu melamun? Sampai-sampai nggak dengar aku memanggilmu. Ya ampun,” keluh pemuda itu dengan agak terengah. Ia meraih buku-buku miliknya yang tadi terjatuh dan terserak di trotoar akibat usahanya menyelamatkan Arum.
Arum terbelalak. Tidak terima.
Dasar edan! Siapa yang dia pikir sudah gila?
Seenaknya saja manusia itu mengatai orang yang bahkan tidak saling mengenal satu sama lain. Bukankah seharusnya Arum yang berkata ‘gila’ kepada orang ini?
“Njenengan ngomong apa barusan? Gila?” dengusnya sinis dan nyaris mengeluarkan makian. Tetapi hal itu berhasil ditahannya. Harga diri dan citra sebagai gadis baik-baik masih harus dijunjung tinggi. Arum menepuk-nepuk lengan kirinya. Mencoba membersihkan bekas pelukan pemuda itu.
“Ini,” kata pemuda itu sembari menyodorkan sebuah buku.
Arum terdiam. Bingung memandangi sebuah buku yang disodorkan padanya. Tertulis sebaris judul di sampulnya yang berwarna biru pudar: Lukisan Sang Kupu-kupu. Itu adalah novel yang diincarnya tadi sewaktu di toko buku.
Arum tetap bergeming.
Tidak serta merta mengambil buku itu dari tangan si pemuda. Arum bergantian menatap pemuda di hadapannya, kemudian kembali menatap buku itu lagi. Tanda tanya besar tersirat di wajahnya. Ia sama sekali tidak mengerti apa maksud pemuda itu.
Pikirannya mencoba mencerna runtutan kejadian sebelum ‘pelukan paksa’. Seorang pemuda yang baru pertama kali ia lihat hari ini dan kemudian berani menghadangnya di jalan, lalu tiba-tiba memberinya sebuah…
Tunggu! Jangan-jangan… Oh, tidak!
Mungkinkah penyamaranku hari ini ketahuan?
“Tanda tangan?” gumamnya lirih seraya mengerutkan dahi. Kemudian cepat-cepat membekap mulutnya sendiri di balik kedua telapak tangan setelah secara tidak sadar mengucapkan apa yang begitu saja terlintas di pikirannya.
“Maaf?” Pemuda itu mengernyit. Bingung.
“Ah, nggak. Maksud saya, njenengan salah paham dengan ini. Saya bukan—”
“Sudah, nggak perlu sungkan,” potong si pemuda. “Ini, ambil saja. Buku ini untuk sampeyan2 (kamu).”
Diraihnya tangan Arum untuk kemudian meletakkan buku itu di atasnya.
“Kenapa ini untuk saya?” Arum seperti mengeja tiap suku kata yang keluar. Suaranya terpatah-patah. Lidahnya terbata-bata. “Uhm, maksud saya—” Arum mulai salah tingkah. Ia mengulangi hal yang sama; bergantian memandangi buku di tangannya kemudian kembali menatap si pemuda. Namun, Arum masih saja tidak mengerti. Sama sekali tidak.
“Bukannya sampeyan lagi nyari buku itu di toko buku yang tadi?”
Pemuda itu kembali tersenyum. Ia menekankan kata ‘itu’ seraya menuding buku di tangan Arum dengan dagunya. Senyum itu bagai pukat. Begitu memikat. Ya, setidaknya Arum bisa menyadari hal itu.
Arum kembali salah tingkah. Bingung mencari alasan yang tepat untuk melarikan diri dari pemuda asing di hadapannya. “Nggak. Saya nggak… maksudku… aku bukan—”
“Bukan gadis yang tadi?” terka si pemuda.
Arum terdiam. Gimana dia bisa tahu apa yang mau kukatakan?
“Hei, ayolah. Bukannya kita tadi ketemu di meja kasir. Ingat?”
Sekali lagi, senyum bagai pukat yang memikat itu tergaris jelas di sudut bibir si pemuda. “Jadi, ini. Ambil saja.”
Belum sampai mulut Arum menyanggah, pemuda itu kembali menyelanya.
“Baiklah, aku lagi buru-buru sekarang. Sudah dulu, ya!” seru si pemuda setelah melirik jam tangan pada pergelangan tangan kiri. Kemudian berbalik memunggungi Arum dan buru-buru pergi.
“Tapi ... ini ...”
Arum menarik sisi bawah jaket pemuda itu untuk menahannya sejenak guna memberikan penjelasan lebih lanjut.
“Sudah, nggak usah khawatir soal uangnya. Baca saja. Itu buku langka yang menarik. Sudah, ya!” Pemuda itu kembali melambaikan tangan dan tersenyum. Lagi-lagi senyum pukat itu.
Arum mematung seraya memandangi kepergian si pemuda hingga sosoknya menghilang di ujung jalan. Gawat, matanya lupa berkedip. Napasnya tertahan secara tidak sadar. Sepertinya karena terbawa suasana. Ia terlalu sibuk memenjarakan senyum pemuda tadi hingga melupakan sesuatu yang penting.
“Ah, dasar bodoh! Aku lupa bilang terima kasih.” Cukup keras tangannya menampar dahi, seperti saat seekor nyamuk hinggap di sana.
“Tapi aku, kan, nggak menginginkan buku ini,” desahnya. Lantas sekenanya menjejalkan buku itu ke dalam tas. “Apa boleh buat.”
Lampu penyeberang jalan telah cukup lama menyala hijau. Arum bersiap menyeberang di zebra-cross ketika ia menyadari bahwa kakinya menginjak sesuatu. Benda itu berbentuk persegi dengan warna gelap.
Arum memungut benda itu. Menjejalkannya ke dalam kantong jaket, lalu bergegas lari menyeberang jalan selagi lampu penyeberangan masih menyala hijau. Ia memakai tudung jaketnya kembali agar orang-orang tidak bisa melihat wajahnya.
Sebuah dompet, tapi ...
“Dompet siapa?” gumamnya setelah sampai di seberang jalan.
Ia membuka dompet itu untuk melihat identitas si pemilik. Sebuah foto tersemat di salah satu sisi. Foto laki-laki yang kira-kira seumuran dengannya.
Sepertinya aku pernah melihat wajah ini, batinnya.
Agaknya Arum sedikit kesulitan mengenali wajah laki-laki di foto itu. Ia melihat foto itu lebih dekat lagi. Memastikan bahwa matanya tidak salah lihat. Dan sekarang ia sangat yakin foto siapa itu.
Ini, kan, cowok yang tadi!
# # #
Footnote:
1 Anda (Bahasa Jawa Krama Inggil)
2 kamu (Bahasa Jawa Krama)