“Andaikan ...” Juna memulai pertanyaannya, “...andaikan Una masih hidup sampai detik ini, apa yang akan kamu lakukan setelah bertemu dengannya?” Arum serasa ditohok. Matanya terbelalak sempurna. “Kenapa kamu menanyakan itu?” “Karena sepupuku yang bertanya. Aku cuma ingin menyampaikan amanatnya ke kamu.” Juna berbohong. Itu hanya alasan saja untuk menutupi sandiwara karangannya sendiri. “Aku cuma ingin memandanginya dari jauh, lalu pergi,” jawab Arum. Nada bicaranya ia paksakan semengalir mungkin. Karena saat ini ia juga tengah membohongi dirinya sendiri. “Tapi kenapa?” Juna melancarkan protes. “Karena aku ini cuma gadis pembawa sial. Aku sudah lelah. Aku nggak ingin lagi melihat orang yang aku sayangi tertimpa petaka karena aku.” “Kenapa kamu terus saja menyalahkan dirimu sendiri?”

