Hembusan nafas yang berkabut membuat Betty kembali mengeratkan mantelnya. Sesekali kaca mata tebalnya turun ke hidung yang membuatnya mendengus tidak suka. "Kenapa Max selalu membiarkanku pulang malam seperti ini?" gumamnya sambil mengecek kembali apa pintu perpustakaan sudah terkunci dengan rapat. Setelah benar-benar terkunci, Betty mengedarkan pandangannya ke seluruh Curzon Street yang tampak sepi. Tentu saja, selain karena malam hari, letak perpustakaan ini juga begitu menyudut tapi masih menjadi wilayah kota besar London. Betty melangkah dengan kepala yang menunduk, sudah menjadi kebiasaannya. Bukannya apa, tapi dia harus selalu bersikap waspada akhir-akhir ini. Lingkungan yang berjarak 2 blok dari perpustakaan terkenal rusak dan berbahaya. Sering kali mayat tanpa identitas ditemuka

