DUA PULUH DELAPAN

2389 Words
“Makhluk apa itu tadi!” Sahut Dylan saat Agra meletakkan tubuh Sarah yang membatu diatas tanah. “Dimana Tomi?” Tanya Aruna, Agra menggeleng dengan tatapan sendu, Dylan terjatuh di tempatnya berdiri, sahabat yang selama ini menemaninya saat berada di The Unknown ternyata harus pergi tanpa memberikan salam perpisahan padanya. “Percayalah pada tim mu Dylan, jangan terus menerus menyimpan ragu.” Dylan termenung mengingat perkataan terakhir yang di dengarnya dari Tomi. “Untung saja sebelum kau mati, kau masih bisa memberikanku satu nasihat terakhir.” Gumam Dylan yang tidak terdengar oleh teman-temannya yang lain. “Bisa kau pulihkan dia Aruna?” Ucap Agra, Aruna menganguk walaupun kondisi nya saat ini sudah berada di ujung tanduk. “Baik! Kita akan memenangkan peperangan ini demi Tomi! Maafkan aku yang selama ini meragukan kemampuan kalian. Aku hanya takut kehilangan orang-orang yang ku sayang seperti saat ini.” Ucap Dylan sambil menangis. “Sarah! bawakan kami kepala b******n yang menjadi awal mula penderitaan kita selama ini! Aku akan menjaga mu dari sini.” Ucap Dylan dengan pesawat tempur King Dylan – 01 yang terbang melintas menuju istana tepat di atas mereka. Sarah langsung bergerak kembali ke Istana melalui pintu timur sedangkan Agra beranjak menuju sisi barat untuk melawan Rai. Dari atas langit Frans dan pasukan pesawat tempurnya menembaki Rai dengan harapan besar Rai dapat di lumpuhkan dengan peluru-peluru panas tersebut. Namun semuanya sia-sia, tubuh Rai tetap berdiri kokoh tanpa merasakan sakit sedikitpun. “Spesimen ini berbeda.” Ucap Frans. “Baca buku berwarna ungu di tas Tomi. Buka halaman yang berwarna hitam!” Bentak Sarah saat menyadari sesuatu. Dengan cepat Aruna meraih tas hitam milik Tomi, dan membuka buku harian milik Elisabeth sesuai dengan yang di perintahkan Sarah. “Serum hitam ini dapat menciptakan Specimen dengan kekuatan yang bermacam-macam, namun memiliki HP yang tak terbatas pada saat ia berubah menjadi wujud kekuatannya.” Ucap Aruna sambil membaca tulisan milik Elisabeth. “Dia tidak akan mati dalam bentuk itu.” Gumam Dylan. “Jadi apa yang harus kita lakukan?” “Aku akan mencari Arka. Makhluk itu pasti akan menuruti semua perintah rajanya.” Ucap Sarah. “Kau yakin? Aku tidak bisa melindungi mu selama kau di dalam nanti.” Ucap Aruna dengan berat hati. “Tidak apa, HP ku sudah pulih kembali, dan MP ku juga masih tersisa banyak.” “Fokuslah pada pekerjaan mu saat ini Aruna,  lindungi sisi selatan, serahkan Sarah pada ku.” Ucap Dylan dengan tatapan penuh keyakinan. Aruna mengangguk semangat, walaupun persentase HP miliknya saat ini sudah sangat rendah, melihat semangat Dylan yang tidak pernah terpancar sebelumnya, membuat Aruna yakin kalau mereka akan memenangkan peperangan ini dan mengakhiri penderitaan yang selama ini mereka rasakan. “Aku percaya pada mu Dylan, semangat!” Sahut Aruna. “Aku akan menyerang monster bernama Rai itu sampai MP miliknya habis. Disaat dia kembali ke wujud aslinya, langsung tembakkan seluruh peluru yang kalian miliki.” Ucap Agra pada seluruh pasukan melalui gelang miliknya. “Ayo, aku bawa kau masuk kedalam Istana.” Ucap Agra pada Sarah. “Agra!” Agra menatap Dylan dengan kesal, bisa-bisanya disaat genting seperti ini dia menghalangi Agra untuk pergi. “Apa lagi?” “Atur penggunaan MP mu, dan jaga jarak mu dengan Rai, aku tidak mau kehilangan seorang teman lagi.” Ucap Dylan serius. “Kau kira aku bodoh? Tanpa kau bilang aku juga tau.” Ucap Agra sambil membawa Sarah terbang menuju Istana. “Jaga diri mu baik-baik. Bunuh Arka untuk ku.” Ucap Agra saat Sarah berhasil masuk kedalam sebuah ruangan di istana melalui sebuah jendela. “Siapa kau?” Sahut Hana dengan sebuah pistol ditangannya. “Hai.” Ucap Sarah dengan senyuman tipis di bibirnya. “Maaf aku tidak punya banyak waktu, aku harus membantu temanku melawan monster yang di ada luar.” Dengan cepat Sarah menendang tangan perempuan itu dan berhasil menjatuhkan pistol di genggamannya. Tubuhnya dengan lincah melumpuhkan perempuan di depannya, Sarah mengunci gerakan perempuan itu dengan menekankan kepalanya ke dinding begitu kuat hingga berdarah. “Sekarang katakan padaku, dimana Raja berengsek itu berada!” Di udara Agra melesat dengan cepat mengitari Rai yang sedang memandangnya dari kejauhan. “Kau tidak akan bisa melawan ku.” Ucap Rai dengan suara yang sangat besar. “Oh ya?” Balas Agra dengan kesombongan miliknya. “Bagi ku kau hanya sepotong arang.” Sambil tertawa Agra menghindari serangan bertubi-tubi milik Rai, bagus, rencananya berhasil dengan mudah, semakin sering Rai menggunakan kekuatannya maka semakin cepat MP nya terkuras, hal yang harus ia lakukan saat ini adalah menghindari serangan Rai sebisa mungkin, sekali saja terkena, tubuhnya dapat hangus menjadi debu dalam hitungan menit. “Menghindar dari medan perang! Masuk kedalam Istana dan bantu Sarah mencari Arka, aku akan menghadapi berdebah ini sendirian.” “Baik!” Tanpa menunggu aba-aba lagi seluruh pasukan bergegas masuk kedalam Istana untuk mencari dalang dari peperangan yang hampir memusnahkan seluruh manusia yang tinggal ditempat ini. “Aruna, lindungi aku.” Ucap Agra bersamaan dengan munculnya sebuah tameng kasat mata yang membungkus tubuhnya. “Apa yang kau lakukan?! Aku sudah bilang jangan terlalu dekat.” Sahut Dylan. “Diam! Aku tau apa yang ku lakukan. Frans, tembak dia.” Sesuai dengan perintah Agra, Frans dan timnya menembaki Rai dengan brutal. “Lalat-lalat kecil seperti kalian benar-benar membuat ku muak!” Geram Rai “Terpujilah Dewa Zoroas!!” Ledakan dahsyat dari dalam tubuh Rai sesaat ia berteriak memuja Dewa nya. Dengan sangat cepat Agra terbang menjauhi Rai, untung saja ada Shield yang begitu kuat dari Aruna, kalau tidak ia sudah pasti menjadi debu saat ini. “Kau tidak apa?” Ucap Dylan pada Aruna. “Aku baik-baik saja. Ternyata jika aku yakin, shield ku dapat menahan ledakan dahsyat yang dikeluarkan makhluk itu.” Ucap Aruna sambil tersenyum, sama seperti yang lain. Dia juga harus berjuang sebisa mungkin untuk melindungi teman-temannya. Bahkan walaupun harus mempertaruhkan nyawanya. “Setiap ada ledakan MP nya pasti akan turun dengan drastis. Kita akan mengulangi hal ini berkali-kali sampai dia berubah! Persiapkan diri kalian. Kita akan menang.” Ucap Agra semangat. “Maafkan aku, aku tidak bisa berbuat banyak untuk kalian.” Ucap Dylan saat menyadari tugasnya hanya untuk memantau keadaan teman-temannya melalui komputer dan melindungi mereka dari jarak jauh. “Ya, kau memang tak berguna.” Balas Agra. “Pantau terus MP ku atau aku akan membunuh mu nanti! Ayo kita lakukan lagi!” Ucap Agra dengan tertawa lalu kembali menyerang Rai. “Dimana Arka.” Ucap Sarah sambil merubah bentuk tubuhnya menjadi Maria. “Ibu?” Ucapnya yang berhasil membuat Hana menjerit ketakutan. Darimana Sarah bisa tau kalau dirinya adalah ibu dari putri Maria. “Dimana laki-laki berengsek itu?!” Sahut Sarah penuh amarah sambil menyerang Hana dengan sangat cepat lalu memotong urat nadi di leher sang Ratu, setelah menyembunyikan mayatnya dengan baik. Sarah merubah bentuk dirinya menyerupai Hana dan bergegas mencari Arka. “Aku sudah membunuh Ratu dan sekarang sedang mencari Arka dengan wujudnya.” Ucap Sarah pada pasukan lainnya. “Apa yang anda lakukan disini yang mulia? Yang mulia Raja memerintahkan anda untuk tetap berada diruang kerja miliknya. “Aku tidak bisa membiarkan Arka sendirian disaat seperti ini. Aku ingin menemaninya. Sekarang atas perintah ku. Bawa aku ke persembunyian Raja.” Ucap Sarah dengan suara Hana. Sang pengawal yang sebelumnya merasa ragu, terpaksa membawa sang Ratu palsu untuk menemui Raja, bagaimanapun juga ia tidak di benarkan untuk menolak perintah seorang ratu. “Lindungi pintu selatan, aku akan membawa ratu menemui Raja.” Ucap pengawal itu pada pengawal istana yang lainnya. “Oh jadi selama ini kau ada di selatan. Tempat yang bagus untuk bersembunyi Arka.” Gumam Sarah dengan sedikit tawa. “Ikuti saya yang mulia.” Ucap pengawal bodoh itu dan membawa Sarah menemui Arka. “Mau berapa kali lagi kita lakukan ini?!” Sahut Frans mengingat peluru yang dimilikinya sudah mulai habis. “Aku juga tidak tau!, jangan buang peluru mu terlalu banyak, kita coba sekali lagi, kalau masih belum ada perubahan darinya. Kita cari cara lain.” Ucap Agra. Frans mengangguk refleks dan mereka menyerang Rai kembali. “Jadi sudah berapa banyak manusia yang mereka bunuh untuk mendapatkan mu?” Ucap Agra sambil mengitari tubuh Rai. “Diam!” “Apa kau pernah bertemu dengan orang tuamu?” “MP nya.” Gumam Dylan. “Agra akan jatuh jika dia terlalu cepat mengitari Rai.” Ucap Dylan pada Aruna. “Agra! MP!” “Tidak!” Sahut Frans saat melihat Agra terjatuh diikuti ledakan terakhir yang di keluarkan Rai sebelum laki-laki itu terjatuh ke tanah. “AGRA!” Jerit Aruna sekuat tenaga dan tanpa sadar berlari menuju medan perang meninggalkan Dylan sendirian di tempat persembunyian mereka. “Aruna!” Sahut Dylan, laki-laki itu mengerahkan pesawat tempur yang sebelumnya ia gunakan untuk menyerang Rai ke arah Aruna guna melindungi sang Tuan Putri yang ia cintai dari serangan tentara Istana yang masih hidup. “Zoroas Zoroas kepalamu!” Sahut Agra dari permukaan setelah Aruna berhasil melindunginya dari serangan Rai. “Terimakasih Arun.” Ucap Agra saat melihat temannya itu berjalan melewati dirinya menuju ke arah Rai. “Ara! Mau kemana kau?” Agra menarik tangan Aruna dan membuat perempuan itu berhadapan dengan Agra. Aruna menatap Agra dengan matanya yang sudah berubang menjadi putih total, bahkan kedua bola mata itu memancarkan sedikit cahaya dari dalamnya. Agra melepaskan genggamaannya dari tangan Aruna, ia ingat kapan terakhir kali Aruna berubah seperti saat ini. Saat itu dirinya merasakan sendiri kekuatan dari ledakan yang di keluarkan Aruna saat dirinya dan Beatriz dulu hampir saling membunuh di hutan pinus. Dalam kondisi seperti ini Aruna tidak dapat mendengarkan perkataan siapapun, dia hanya terpaku pada pemikiran-pemikiran yang saat ini berputar-putar di kepalanya. “Aku harus menyelamatkan Agra.” Ucap Aruna tanpa sadar. “Aku harus membunuh monster gunung berapi itu.” Aruna beranjak dari tempatnya dan Agra berdiri. Perlahan kakinya berjalan menuju Rai yang saat ini sedang berapi-api. “Kenapa kau datang ke sini? Aku tau kau bukan masyarakat asli Nusantara” Ucap Aruna pada Rai yang saat ini berdiri didepannya. “Berani sekali kau berdiri didepanku seperti ini?” Ucap Rai dan langsung menyembur Aruna dengan cairan Lava yang keluar dari mulutnya. “TIDAK!!” sahut Dylan dari kejauhan dan langsung memeriksa kondisi HP dan MP milik Aruna dari layar laptopnya. “Seratus persen? Bagaimana bisa?” Gumam Dylan. “Dylan! Bagaimana keadaan Aruna apa dia mati?!” Sahut Agra melalui gelangnya pada Dylan. “Aruna mati? Bagaimana bisa?” Sambung Sarah. “A—aku tidak tau bagaimana menjelaskannya, tapi, HP dan MPnya.” “Kenapa?! Bicara yang jelas lah!” “Seratus persen.” Ucap Dylan terpana disusul dengan suara ledakan sangat dahsyat dari tempat Aruna dan Rai berdiri. Ledakan bercahaya putih itu berhasil membuat malam mereka terlihat seperti siang hari dalam sepersekian detik. Tubuh Rai terhempas jauh dari tempat ia berdiri. Apa-apaan ini? Kenapa kekuatannya sedahsyat ini? Rai mendarat sempurna dengan bertumpu pada kakinya, seluruh isi kepalanya dipenuhi dengan pertanyaan tentang siapakah perempuan didepannya ini, kenapa kekuatannya terasa seperti kekuatan miliknya, apa perempuan ini juga termasuk pemilik serum hitam? Tapi kenapa dia bisa menggunakan wujud manusianya saat mengeluarkan kekuatannya. “Namaku, Aruna Dineshcara Widjanarka. Putri dari Raja Arjuna Dewa Widjanarka dan Pelayan Istana Ardella Dineshcara. Sebagai makhluk rendahan. Kau harus tunduk di hadapan Yang Mulia!” Sahut Aruna disusul ledakan bertubi-tubi untuk menghancurkan Rai. “Ayo pergi dari sini! Kita tidak akan selamat jika terkena ledakan itu.” Ucap Frans lalu membawa Agra yang saat ini sudah kehabisan MP lagi masuk ke dalam pesawatnya. “Kau lihat ini Dylan?” “Ini lah kekuatan Aruna yang selama ini kau ragukan.” Ucap Agra sambil tersenyum. Dylan menatap Aruna dari kejauhan tanpa berkedip sedikitpun, berani-beraninya dia sok menjadi pahlawan bagi Aruna? Pesawatnya sudah pasti hancur berkeping-keping jika terkena ledakan itu. “Aku tidak akan kalah dari mu! Orang-orang jahat seperti kalian harus mati agar bumi ini dapat kembali seperti sedia kala.” Ucap Rai sambil bangkit berdiri. “Sudah ku bilang.” Aruna menyentuh bahu Rai dengan tangan kosongnya, aroma terbakar langsung tercium saat dia menyentuh tubuh yang dibaluti api itu. Namun anehnya tidak ada ekspresi kesakitan yang terlukis di wajah Aruna, perempuan itu menatap Rai dengan matanya yang bersinar. “Kalau di hadapan Yang Mulia.” Ucap Aruna sambil menekan Rai dengan kekuatan besar entah dari mana agar ia kembali bersujud. “KAU HARUS TUNDUK!” Teriak Aruna dengan sekuat tenaga lalu kembali meledakkan tubuh Rai. *** Sarah memasuki ruangan yang dipenuhi oleh pengawal terbaik kerajaan dan seorang laki-laki yang dicarinya selama ini. Ruangan ini benar-benar dijaga dengan baik, pintu baja berlapis-lapis, pengawal dengan persenjataan lengkap, dan senjata-senjata canggih yang menempel di dinding. Sarah tidak akan bisa melawan mereka sendirian. Satu-satunya cara adalah memainkan perannya sebagai Hana dengan baik lalu membunuh Arka dari dekat. Ya walaupun setelah itu dia yakin dia tak akan keluar dalam keadaan hidup dari ruangan ini. “Yang mulia.” Ucap Sarah dengan anggun sambil membungkukkan badannya untuk memberi hormat pada monster didepannya. “Sedang apa kau disini. Aku menuruh mu untuk bersembunyi di ruang kerja ku. Beraninya kau menentang perintahku!” Ucap Arka murka. “Maafkan aku. Aku sangat ketakutan. Aku tidak ingin jauh-jauh dari mu.” “Semakin hari kau semakin banyak permintaan.” “Aku mencintai mu Arka. Aku ingin selalu bersama mu apa itu salah? Aku sudah kehilangan putriku, aku tidak mau kehilangan mu lagi.” “Mereka akan mengincar ku disini, kau bisa mati jika ada—“ “Aku tidak peduli! Lebih baik aku mati daripada harus ketakutan seperti tadi.” Bukannya memberikan belas kasihan kepada sang Ratu, Arka yang saat itu duduk di tahta hanya tertawa dan bertepuk tangan melihat akting sempurna yang di perankan oleh sang Shape Shifter ciptaannya. Arka tau, orang pertama yang akan meninggalkannya di situasi tidak menguntungkan seperti saat ini adalah Hana. Perempuan yang hanya mau menerima kemewahan dan hidup bahagia, tidak akan mau menemaninya di saat-saat seperti ini, lalu tiba-tiba saja perempuan itu datang dengan rasa khawatir yang teramat sangat terhadap keselamatan nyawa suaminya. “Bahkan saat Putri Maria mati saja, Hana tidak mengeluarkan air matanya.” “Jika kau ingin berperan sebagai Hana, harusnya kau melakukan riset terlebih dahulu. Saat ini di mataku kau terlihat seperti orang idiot.” Ucap Arka dengan tatapan dingin pada Sarah. “Bunuh dia.” Perintah Sang Raja, seluruh pengawal-pengawak yang terbaik di Nusantara, maju serempak dengan tujuan yang sama yaitu untuk menghabisi nyawa Sarah.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD