Satu pukulan keras mendarat di pelipis mata Sarah, tubuhnya terhuyung menjauh dan pandangannya memburam, baru kali ini dia dipukul seseorang sekuat ini.
“Kau tau aku tidak akan mengalah saat bertarung kan?” Ucap Tomi yang berdiri didepannya.
Sesaat setelah fokusnya membaik, dengan kecepatan yang tinggi Sarah berlari menghantam kepala Tomi dengan tinjunya, namun sayangnya gerakan Sarah sudah terbaca terlebih dahulu oleh Tomi. Laki-laki itu dengan mudah mengelak dari serangan Sarah lalu tangannya dengan kuat mencengkram kerah baju Sarah, mengangkat tubuh ringan perempuan yang disayanginya itu dan membantingnya ke belakang.
Dengan tangkas Sarah bertumpu pada kedua kakinya, kedua tangannya mendekap kepala Tomi lalu menendangnya dengan kuat menggunakan lutut kanan.
Tomi memukul Sarah menjauh demi mengontrol kesadarannya.
“Tendangan mu boleh juga.” Ucap Tomi dengan tawa seraya mengusap darah yang keluar dari hidungnya.
“Ya, aku rasa hidung mu patah tuh.” Balas Sarah. perempuan itu tidak siap saat Tomi menyerang kaki nya hingga ia terjatuh.
Tatapan pembunuh terpancar dari kedua mata Tomi, laki-laki itu melompat ke atas Sarah untuk menginjak kepalanya, untung saja perempuan itu berguling ke samping tepat pada waktunya, kalau tidak kepalanya sudah jadi perkedel sekarang.
Rasa takut sedikit memenuhi hatinya, dari tatapannya saja Tomi mampu menunjukkan pada lawannya kalau dia benar-benar ingin membunuhnya, tatapan yang sangat menyeramkan bagaikan hewan buas yang kelaparan.
Saat itu juga Sarah menyadari, walaupun Tomi sangat diandalkan dalam menggunakan senjata api, kemampuannya dalam bertarung dengan tangan kosong tidak dapat di remeh kan.
“Kalau kau sedang bertarung, jangan berpikir untuk menang.” Ucap Tomi.
“Tapi berpikirlah bagaimana caranya untuk membunuhnya.”
“Meskipun aku sudah tak sadarkan diri, apa kau akan terus memukul ku?” Ucap Sarah dengan sedikit harapan Tomi akan berucap bahwa ia akan mengampuninya.
“Ya.” Ucap Tomi singkat lalu menyerang Sarah, namun sebelum pukulan Tomi mendarat ke wajahnya, Sarah berhasil menunduk lalu memberikan pukulan yang sangat keras dari dagu Tomi, laki-laki itu terjatuh tepat di bawah kaki perempuan yang berhasil mengalahkannya.
“Ini karena kau menjawab iya.” Ucap Sarah.
“Bagus Tomi, setidaknya kemampuan mu berkembang sedikit. Tinju mu tadi terlihat sangat kuat loh?” Ucap Dylan sambil tertawa. walaupun Tomi dapat menggunakan kemampuan bertarungnya dengan sangat baik, kekuatan itu belum mampu mengatasi kecepatan tubuh Sarah.
“Sudah selesai bermain-mainnya?” Sambung Dylan menghampiri Tomi yang sudah tak sadarkan diri akibat pukulan Sarah.
Aruna datang dengan senyuman menghampiri Sarah. perempuan itu menggelengkan kepalanya tidak percaya, walaupun yang terlihat adalah Tomi sangat ingin membunuh lawannya, sebenarnya yang terjadi dalam pertarungan tadi, Sarah lah yang tidak akan memberikan pengampunan sedikitpun pada Tomi.
“Kan sudah ku bilang jangan terlalu keras padanya, mentang-mentang kau lebih mahir bertarung dalam jarak dekat, kau seenaknya membuatnya tak sadar seperti ini. Bahkan kau mematahkan hidungnya?!” Ucap Aruna sambil mengobati Tomi dengan kekuatannya.
“Kan ada kau.” Balas Sarah dengan singkat tanpa rasa bersalah sedikitpun.
Tangannya menarik tangan Tomi, setelah menatap Sarah yang penuh dengan luka memar Tomi lansung tertawa terbahak-bahak.
“Ternyata aku bisa membuat mu sekacau ini ya?”
“Diam kau.” Ucap Sarah sambil tersenyum. Tanpa di suruh Aruna dengan sukarela menyembuhkan luka-luka memar di tubuh Sarah sambil memulihkan HPnya hanya dalam 5 detik.
“Kemampuan mu juga bertambah Aruna.” Ucap Tomi pada Aruna, perempuan itu mengangguk dan tersenyum sebagai ucapan terimakasih.
“Maaf aku memukul mu terlalu keras.” Ucap Tomi.
“Biar begitupun kau masih belum bisa mengalahkan ku.”
“Bagaimana kalau kita berlatih pertarungan jarak jauh? Kau boleh berlari secepat yang kau bisa, dan aku hanya punya kesempatan sekali saja untuk menembak mu. Kalau kau menang, aku akan menjadi babu mu seumur hidup, tapi kalau aku yang menang, kau harus menemaniku membaca diary Elisabeth.” Ucap Tomi geram.
Sarah tersenyum mendengar tawaran gila dari Tomi.
“Jangan, kau tau Tomi bisa membunuh seseorang yang jarak berkilo-kilo meter dengan pistolnya, kalau kau setuju sama saja kau—“
“Ayo!” Sahut Sarah semangat mengabaikan perkataan Dylan.
“Aku tidak akan membiarkan mu melakukannya Estomihi Bornslav!” Sahut Dylan.
“Aku tidak mau Sarah mati konyol hanya karena taruhan gila kalian.” Sambungnya.
“Ayolah Dylan, aku juga perlu memastikan kecepatanku, kalau aku bisa mengelak dari bidikan Tomi, berarti kemampuanku sudah bisa dikatakan sempurna kan?”
“Mau sampai kapan kau terus ketakutan seperti ini?” Ucap Tomi.
“Ayo pak tua, tembak aku.” Ucap Sarah lalu berlari di lapangan.
Tomi beranjak mengambil senapannya di atas meja, sedangkan Dylan dan Aruna hanya berdiri disana memandangi mereka dengan degup jantung yang tak karuan.
“Ayolah Tomi, jangan terlalu serius begitu, kau bisa benar-benar membunuh Sarah kalau begini.”
“Diam lah Dylan kau menghancurkan fokus disini.” Ucap Tomi serius.
“BAGUS LAH!” Ucap Dylan lalu bernyanyi dengan suara sumbang.
“Diamlah sebelum aku mengubah bidikanku ini ke kepala mu.” Ucap Tomi pelan namun berhasil membungkam mulut Dylan.
DOR!
Suara tembakan yang begitu keras mengagetkan Dylan dan Aruna, peluru panas itu terbang tepat ke arah kepala Sarah, untung saja peluru tersebut tidak berhasil melubangi kepala Sarah karena terlindung Shield tak kasat mata milik Aruna.
“Kerja bagus Aruna!” Sahut Sarah dari kejauhan sambil tertawa puas, diikuti oleh tepuk tangan yang diberikan Tomi pada Aruna.
“Kalau suara jelek mu itu terus menerus kau keluarkan, Sarah sudah pasti mati di tangan ku saat ini.” Ucap Tomi pada Dylan.
“Percayalah pada tim mu Dylan, jangan terus menerus menyimpan ragu.” Ucap Tomi lalu beranjak pergi dari tempat itu.
Dylan menunduk malu, entah apa yang telah ia berikan bagi kelompok ini, bahkan Sarah dan Tomi saja sangat percaya dengan Aruna sampai-sampai ingin membunuh satu sama lain demi membuktikan kemampuan melindungi yang dimiliki Aruna. Sedangkan Dylan hanya mampu duduk di samping Aruna lalu mengekor kesana kemari.
“Hei.” Ucap Aruna seraya memukul pundak Dylan.
“Maafkan aku. Aku akan berusaha menjadi lebih baik lagi demi kelompok ini.” Ucap Dylan dengan rasa bersalah didalam hatinya.
“Kenapa kau diam begitu, kemana mulut ayam mu yang selalu berisik?” Tanya Tomi pada Agra yang sedang merenung.
“Ada yang sedang ku pikirkan.”
Agra menunjukkan halaman The Book Of Strengths yang menjelaskan tentang kekuatan Listrik milik Beatriz.
“Terakhir kali aku bertemu dengannya, aku melihat Beatriz bisa terbang. Padahal disini tidak ada penjelasan kalau Beatriz memiliki kemampuan levitasi sepertiku.”
“Kau meihatnya terbang?” Ucap Tomi. Agra menangguk, tak salah lagi, dia benar-benar yakin kalau Beatriz ikut terbang mengejarnya.
Banyak kemungkinan yang terlintas dalam benak mereka, apa kah mungkin Arka melanjutkan eksperimennya kepada Beatriz?
“Apa Beatriz di suntikkan serum milikmu?” Ucap Tomi sesuai dengan pemikiran Agra.
***
Seorang laki-laki berjas putih dengan mata sayu sedang duduk meratapi hidupnya yang menyedihkan, Dengan pikiran kosong ia menatap lautan bunga mawar yang ada didepannya. Sudah sebulan sejak kepergian putri kesayangannya, kalau saja putri Maria masih hidup, Arka tidak akan melewatkan sedikitpun kesempatannya untuk menghadiri pesta minum teh di kebun mawar milik sang putri.
“Kau mulai lagi.” Ucap Hana menghampiri Arka.
“Aku merindukan putri kecil ku.”
“Ya, aku tau perasaan mu. Tapi bukankah lebih baik kita mencari pembunuh Maria? Kita harus menghukumnya dengan berat bukan?”
“Kau benar. Aku akan membuatnya menderita sampai ia tak mengenal lagi apa itu kebahagiaan.”
“Itu baru suami ku. Ayo kita harus menghadiri rapat sekutu.”
“Mereka sudah tiba?”
“Sejak sepuluh menit yang lalu.”
“Baik lah, ayo kita kesana.”
“Bagaimana keadaan Beatriz?” Tanya Arka sambil berjalan menuju ruang rapat yang biasa ia pakai untuk pertemuan-pertemuan penting di Istana.
“Keadaanya terus membaik namun belum sadarkan diri.”
“Setelah pertemuan ini kita akan melihat keadaannya.” Ucap Arka dan dibalas anggukan patuh dari Hana.
Arka melangkahkan kakinya masuk kedalam ruangan tersebut, dan dengan tersenyum lebar ia melihat seorang laki-laki berpakaian serba hitam sedang duduk disana.
***
“Kita akan menyerang Istana besok.” Ucap Frans.
“Kenapa begitu mendadak?” Ucap Sarah
“Aku tidak ingin membuang-buang waktu lagi, dan menurut ku pasukan dan kekuatan senjata yang kita miliki sudah cukup kuat untuk melawan kerajaan, mengingat mereka sudah tidak memiliki Beatriz lagi.
“Ya, kali ini aku setuju dengan tua bangka itu, semakin lama kita menunggu kemungkinan mereka semakin kuat akan bertambah tinggi.” Ucap Agra.
“Tapi, aku masih belum yakin dengan kemampuan ku.” Ucap Aruna yang baru saja pulih.
“Tenanglah, kau lebih kuat dari yang kau kira.” Agra tersenyum menyemangati Aruna.
“Baik, kita akan membagi pasukan menjadi 4, satu berada di sisi timur, satu di barat dan dua pasukan di utara.” Ucap Tomi.
“Dan kau akan mengabaikan selatan begitu saja?” Ucap Agra.
“Bagian selatan ku serahkan pada mu.”
“Aku?”
“Ya. Apa kau butuh bantuan?” Ucap Tomi dengan segala perkiraan yang telah ia perhitungkan.
Pintu selatan kerajaan sangat dekat dengan rumah sakit istana dan laboratorium,. Tomi masih belum bisa percaya kalau Beatriz benar-benar sudah mati. Jika memang benar Beatriz masih hidup, kemungkinan besar ia akan berada di sisi selatan kerajaan dan hanya Agra lah yang sepadan untuk melawan Beatriz.
“Tidak, aku bisa mengatasi semuanya sendiri, semakin banyak orang yang membantu, akan semakin merepotkan.” Ucap Agra santai.
“Bagus, aku tau kau pasti akan menjawab seperti itu.”
“Bagaimana dengan pasukan yang kau latih?” Ucap Tomi.
“Ahli pedang?” Balas Frans.
“Ya, pasukan yang ketinggalan jaman itu.”
“Hei, Elisabeth adalah salah satu anggota dari pasukan itu. Kau sudah melihat kemampuannya dalam membunuh bukan?”
“Berapa orang yang kau miliki?”
“Sekitar 126 orang.”
“Medis?”
“34 orang perawat dan 13 dokter.”
“Aku akan membagi pasukan pedang mu di sisi timur dan barat bersama masing-masing 2 Thunder, sedangkan untuk utara, akan di tangani oleh pasukan Jaguar dan 4 orang Thunder.”
“Jadi aku di sisi timur atau barat?” Ucap Frans semangat.
“Kau terlalu tua untuk bertarung dan nyawa mu terlalu berharga untuk mati. Kalau kau mati, semangat dan fokus anggota Ghost saat bertempur akan menjadi berantakan. Kau akan ku tempatkan di sisi selatan bersama Agra.”
“Dan duduk manis begitu saja?” Desis Frans.
“Kau akan memakai senapan milik ku untuk melindungi Agra dari jauh, aku tau kemampuan menembak mu juga cukup baik walaupun tidak sebaik diri ku.”
“Hentikan omong kosong mu, aku akan ikut bertempur dengan memimpin sisi Timur.”
“Hei pak tua! Kau ini bodoh atau bagaimana? Sebenarnya aku juga enggan untuk satu medan tempur dengan mu, tapi mengingat posisi mu yang sangat di kagumi dan dihormati oleh orang-orang disini, menurut ku kau lebih baik diam dan ikut aku ke selatan. Kalau kau mau mati besok, lebih baik aku bunuh saja kau sekarang, aku sudah muak mendengar mu mengoceh terus-menerus dari tadi.” Omel Agra.
“Apa kau tidak pernah diajarkan sopan santun?”
“Tidak, aku bahkan tumbuh besar tanpa orang tua, apa yang kau harapkan?”
“Bagaimana denganku?” Ucap Aruna.
“Kau akan berada di sisi utara untuk melindungi pasukan dari belakang bersama dengan Dylan. Dylan akan memonitor HP dan MP milik Agra dan Sarah, jika HP mereka sekarat, kau harus memulihkan mereka tanpa beranjak dan menghilangkan perlindungan mu untuk pasukan yang lain.”
“Aku tidak yakin.”
“Kau harus yakin. Jika kau gagal melindungi kami, misi kali ini hanya akan menjadi misi bunuh diri masal.”
“Baik.” Ucap Aruna sambil menunduk ketakutan.
“Hei, kau harus mulai percaya dengan diri mu sendiri.” Bisik Dylan dengan lembut.
“Aku takut tidak bisa melindungi kalian semua.”
“Tidak perlu takut, lakukan saja sebisamu, percayalah kata-kataku, kau itu sangat kuat.”
“Dan sangat cantik juga.” Gumam Dylan sambil tertawa pelan.
“Apa?”
“Tidak apa-apa.” Jawab Dylan gelagapan.
“Aku ingin kau terus berada di sisi ku.” Ucap Tomi pada Sarah.
“Kenapa?”
“Kita akan menyelinap masuk untuk membunuh Adam dan Arka.”
“Dengan senang hati.” Ucap Sarah sambil terseyum.
***
Berasama dengan Ratunya, Arka memasuki ruang rapat tersebut dengan penuh wibawa, sambil mengibaskan jubahnya yang dipenuhi dengan batu berlian, Arka mengambil tempat duduknya tepat di ujung meja raksasa yang telah dipenuhi oleh para penguasa-penguasa dengan kekuatan dan kekuasaan tidak main-main.
“Perkenalkan diri mu.” Ucap Arka pada wajah baru yang duduk di ruangannya.
Seorang pria dengan tuxedo hitam dibadannya bangkit berdiri dan menundukkan badannya pada sang raja, kulitnya berwarna putih pucat dengan iris mata berwarna hitam legam yang seolah bercahaya. Pria itu bernama Rai Von Degurchaff, berasal dari kepulauan Zoroas. Salah satu sekutu yang dipimpin oleh Arka.
“Ku persembahkan padamu, Specimen Project 05. Rai Von Degurchaff.” Ucap seorang laki-laki yang duduk disamping Rai.
Arka tersenyum puas menatap mahakarya yang ia sangka selama ini tidak akan berhasil, berdiri didepan matanya. Mulai sekarang ia percaya dibalik setiap kesedihan yang dideritanya, ada kebahagiaan yang akan muncul untuk menghiburnya. Dengan adanya Rai dan Beatriz, keinginannya untuk menguasai dunia pasti akan terwujud.
Aku sudah tidak memerlukan bantuan ketiga specimen pembangkang itu.
“Jadi apa kekuatanmu?”