DELAPAN BELAS

1920 Words
Agra berdiri diatas atap sebuah gereja sambil memakan sepotong roti yang dicurinya dari pasar tadi pagi. Suasana yang sebelumnya tenang berubah menjadi ricuh saat mobil-mobil tentara mulai berdatangan dan menangkap seluruh warga yang berusia sekitar tiga belas sampai lima belas tahun. Tanpa menimbulkan suara sedikitpun Agra terbang menuju atap sebuah rumah didekat kerumunan orang-orang tersebut. Mata Agra seperti ingin keluar saat melihat seorang perempuan ditembak mati oleh seorang tentara. Tubuh Agra menungkik tajam dan menyerang tentara itu dengan tinjunya. Laki-laki tegap tersebut tersungkur dan menatap Agra ketakutan, dengan cepat dia bangkit berdiri lalu berlari menghindari Agra. “Hei, cari lawan yang seimbang dong.” Ucap Beatriz yang melayang di belakang Agra. Agra berbalik menatap perempuan dengan rambut berwarna hitam legam, dan mata dengan iris berwarna merah darah yang sudah tidak lagi dikenalinya. “Kau!” Desis Agra lalu menyerang Beatriz dengan sebuah mobil yang ia terbangkan dengan kekuatannya. Dengan mudah Beatriz menghindari serangan Agra lalu menyambarnya dengan listrik yang berasal dari tangannya. Para tentara dengan cepat memasukkan masyarakat distrik satu kedalam mobil-mobil box Istana sesaat setelah mereka menyadari bahwa Agra sudah tidak lagi menjadi ancaman bagi mereka. “Apa yang ada di pikiran mu hah? Kau mau jadi pahlawan kesiangan? Ayolah Agra, aku tau kau tidak sebaik itu, kita bisa hidup bahagia bersama-sama di Istana. Arka pasti akan menerima kalian dan merawat kita semua dengan baik.” “Tutup mulut mu itu!” “Tidak bisa kah kau berpikir dengan logika mu? Bekerja untuk Istana tidak akan merugikan mu!” “CUKUP!” “Agra. Aku tidak ingin membunuh mu. Aku ingin kita kembali seperti dulu, hidup bersama dengan Aruna dan Sarah tanpa harus bersembunyi lagi.” Ucap Beatriz yang membuat Agra semakin marah. Perempuan berambut pendek itu memalingkan pandangannya dan melihat kearah mobil-mobil tentara yang tanpa ia sadari sudah mulai berangkat menuju Istana dengan masyarakat yang tidak tahu mau di apakan didalamnya. Secepat angin Agra menyusul mobil-mobil tersebut. Saat ia hampir berhasil menghentikan laju mobil-mobil itu, tiba-tiba Beatriz menyerangnya dari belakang dan membuat aruna terjatuh dari ketinggian. Beatriz mendarat tepat disamping Agra dan menatap temannya itu tanpa rasa bersalah sedikitpun. Entah apa yang terjadi padanya, sejak tinggal di Istana Beatriz merasa seperti tidak mampu merasakan emosi apapun, baik senang, sedih, atau marah sekalipun. “Aku bisa saja membunuh mu sekarang Agra. Kemampuan ku sudah berkembang sangat jauh dari sebelumnya. Melawan mu hanya seperti akan memukul seekor nyamuk.” “Tapi apa aku akan melakukannya? Tidak, aku tidak punya tujuan untuk membunuh mu. Bahkan untuk menyakiti mu pun aku sebenarnya tidak mau. Aku hanya ingin kau bergabung dengan Istana. Jika kita semua bersatu, kita akan membantu Arka untuk menguasai dunia.” “Dunia apa maksudmu? Dunia ini sudah hancur akibat orang-orang yang gila kekuasaan seperti Arka! Kau ingin mengajak aku dan yang lain membantunya untuk menyukseskan kiamat?” “Kau tidak mengerti Agra.” “Kau yang tidak mengerti! Arka bukan orang yang baik Beatriz, dia hanya menganggap mu sebagai anjing peliharaan yang siap melindunginya jika dalam bahaya.” “Aku tidak mengerti apa yang kau katakan.” Ucap Beatriz, Agra bangkit berdiri dengan susah payah sambil menahan sakit yang teramat sangat di kakinya akibat serangan Beatriz tadi. “Ya, kau memang tidak perlu mengerti apa yang ku katakan. Karena kau lebih baik mati.” Ucap Agra dengan sebuah besi yang melesat dengan cepat lalu bersarang di d**a Beatriz. “Terimakasih sudah pernah menjadi teman ku. Semoga kau tenang di alam sana.” Ucap Agra lalu terbang menyusul mobil-mobil tersebut   ***   “Ayo bangun pemalas!” Tomi dan Dylan terbangun saat seseorang menyiram mereka dengan air sungai. “Siapa kau?!” Sahut Aruna yang muncul dari balik semak-semak. “Frans?” Ucap Tomi tak percaya, bagaimana bisa laki-laki yang sudah menghancurkan The Unknown dengan kabar kematiannya ini ternyata masih hidup dan berdiri disini. “Ah! Aku ingat kau! Estomihi Bornslav. Kau saudara dari salah satu anak didik kesayangan ku. Aku menyuruhnya untuk menemui mu lalu membawa mu padaku, apa kau sudah bertemu dengan adik perempuan mu satu-satunya?” Tomi menunduk meneteskan air mata yang hampir saja diperlihatkannya pada Sarah. “Ya, aku sudah menemui adik ku, untuk pertama dan terakhir kali nya.” “Apa maksud mu terakhir kali nya?!” Bentak pria tua itu dengan penuh amarah. “Apa yang terjadi dengan Elisabeth?” Tomi mengangkat kepalanya dan menatap mata Frans dengan tajam. “Ini semua karena mu. Untuk apa kau mengabarkan ke semua orang bahwa kau telah mati? Dengan seenaknya kau mengangkat cucu sialan mu itu menjadi The Unknown.” “Adam lah yang membunuh adik ku!” Jerit Tomi sekuat tenaga. “Aku bahkan masih bisa mendengar jeritannya menyebut nama ku di saat-saat terakhir dalam hidupnya.” Ucap Tomi sambil menangis, mengingat bahwa saat ini dia benar-benar sendirian. Mata Hans terpaku pada seorang perempuan yang berdiri disamping Sarah. Tuan Putri Aruna. Dengan cepat Frans menjatuhkan dirinya dan membungkuk memberi hormat pada Aruna. Tak lama kemudian pria tua itu beranjak dan langsung memeluk Aruna dengan erat. “Hei! Lepaskan pelukan m***m mu itu pak tua!” Sahut Dylan sambil memukul Frans. Gila kakek ini kuat juga ternyata “Seandainya aku tau kau masih hidup, aku pasti sudah membawa mu tinggal bersama ku.” “Apa?!” Sahut Dylan tidak percaya. “Sampai kau mati pun aku tidak akan membiarkan Aruna tinggal bersama kakek-kakek m***m seperti mu!” “Siapa kau sebenarnya?” “Ah, aku lupa memperkenalkan diri ku pada mu yang mulia, aku adalah Frans Alvero, dulu aku adalah tangan kanan Raja Arjuna. Ayah mu.” Ucap Frans yang berhasil membungkam semua orang ditempat itu. Sontak para tentara buangan yang ditampung oleh Frans membungkuk memberikan hormat pada sang Tuan Putri. “Panjang umur Tuan Putri!” Sahut mereka serentak. “Tuan, kita harus pergi sekarang. Para tentara sudah mulai kembali ke Istana.” Ucap seorang pria dari sebuah perangkat yang menempel di telinga Frans. “Untuk lebih jelasnya, akan ku ceritakan nanti, sekarang kalian ikut dengan ku dulu.” “Kemana?” Ucap Sarah. “Dimana satu spesimen lagi? Kita harus pergi dari sini secepatnya.” Ucap Frans. “Kami tidak akan kemana-mana, kami sudah punya rencana yang harus kami lakukan hari ini.” Ucap Sarah. “Oke-oke, sebenarnya aku tidak peduli dengan kalian semua, aku hanya butuh Aruna berada di sisi ku.” “Tidak bisa!” Ucap Dylan dengan cepat. “Hoho, ternyata kau sudah mempunyai pacar yang mulia. Sejak kapan kau menjadi sebesar ini?” “Apa kau benar-benar mengenalku?” Ucap Aruna. “Tentu saja, aku lah yang mengasingkan mu ke distrik 2 saat kau masih bayi dulu.” “Agra!” Sahut Sarah saat melihat sahabatnya itu pulang. Agra yang sudah tak mampu lagi menahan rasa sakit dibadannya terjatuh tepat didepan Aruna seolah meminta untuk disembuhkan. “Baiklah sekarang kita sudah lengkap. Hei mata sipit! Kemari dan gendong teman mu ini.” Ucap Frans pada Dylan. “Apapun rencana kalian pasti akan gagal. Lebih baik kalian ikut aku dulu, lalu kita akan bicarakan bagaimana cara untuk membunuh Arka.” *** “Elisabeth itu anak yang pintar.” Ucap Frans dari balik badan Tomi. Laki-laki berambut gondrong itu membalikkan badannya untuk melihat pria tua yang sedang menatap kearah bintang dilangit. “Sejak kapan kau membentuk pemukiman baru seperti ini.” “Entahlah, sudah cukup lama, mungkin dua tahun setelah Arjuna meninggal.” “Untuk apa?” “Awalnya aku hanya ingin mengumpulkan orang-orang terbaik di tiap distrik untuk memajukan Istana. Namun semenjak peraturan baru itu dibentuk, aku memutuskan untuk mengubur dalam-dalam semua data mengenai tempat ini dan orang-orang disini.” “Lalu untuk apa kau membentuk The Unknown?” “Mengecoh Istana.” “Arka bukan lah satu-satunya orang yang perlu kita takuti, ada banyak sekali orang gila yang tinggal disana. Namun yang terekspos hanya Arka.” “Sebelum mengirim Elisabeth untuk menemuimu, anak itu berhasil meretas data rahasia milik Raja. Arka mengadakan pertemuan dengan beberapa ilmuan terkenal di Istana, Hana Bornslav, dan dua pimpinan dari negara lain. Mereka mengadakan eksperimen ini bukan hanya di Nusantara, beberapa negara bagian di dunia ini melakukan hal yang sama.” “Mereka ingin menguasai dunia?” “Ya. Nusantara adalah pemimpin dari negara-negara bagian tersebut. Mereka memiliki berbagai serum yang berbeda-beda. Mereka membaginya menjadi 5 level berdasarkan warna. Biru untuk level terendah, Hujau dan Merah untuk level menengah dan Putih untuk spesimen dengan kemampuan pelindung seperti Aruna. Dan hitam untuk level tertinggi.” Ucap Frans. “Sebagai pemimpin sekutu Nusantara diperbolehkan mengambil 4 jenis serum. Sedangkan negara lainnya hanya memiliki serum berwarna hitam.” “Bukannya serum tersebut memiliki level tertinggi? Kenapa Arka tidak mau mengambilnya?” “Arka tau, persentase keberhasilan serum tersebut hampir 0 persen, baginya, serum itu tidak berguna sama sekali. Dia hanya memakai status serum tersebut untuk memikat negara lain agar mau bekerja sama denganya.” “Dan kau mendapatkan semua informasi ini dari Elisabeth?” “Kalau bukan karena anak nakal itu, mungkin sampai sekarang aku tidak akan tau apa saja yang harus ku lakukan dengan orang-orang berbakat disini.” “Jadi untuk menjatuhkan Arka, kita harus mengalahkan negara-negara yang lainnya?” Ucap Tomi, Frans mengangguk. “Dan mungkin juga spesimen-spesimen lain yang berhasil dari negara tersebut.” Sambung Frans. “Sebaiknya kalian disini dulu selama beberapa bulan, kalian bisa mengembangkan skill yang kalian miliki dengan semua fasilitas di tempat ini. Biar aku dan orang-orang ku yang mengurus Istana, aku akan menjamin keamanan kalian disini.” Tomi mengangguk dan memandang sekitarnya dari atas sebuah benteng yang menjaga tempat ini. Tempat ini persis sama luasnya dengan distrik-distrik yang ada di nusantara dan cukup jauh karena menyebrangi lautan. Banyaknya bendera bergambarkan bunga mawar yang berkibar ditambah dengan teknologi canggih seperti pesawat terbang, kapal selam, dan persenjataan lainnya membuat Tomi terkagum pada tempat dimana mendiang adiknya itu dibesarkan. “Kau pasti sangat senang tinggal disini.” Gumam Tomi. “Baiklah, aku akan kembali ke rumah ku.” Ucap Frans sambil bangkit berdiri lalu menepuk pundak Tomi. “Ah aku lupa mengatakan sesuatu pada mu.” “Aku tau kau mungkin tidak akan menerimanya. Namun, aku benar-benar minta maaf atas perbuatan cucu ku. Percayalah, aku juga merasa sangat kehilangan atas kematian Elisabeth.” “Kau tidak perlu meminta maaf.” Ucap Tomi. Laki-laki itu ikut bangkit berdiri lalu menatap mata Frans dalam-dalam. “Karena yang ku tau hanyalah nyawa diganti dengan nyawa.  Demi El aku pasti akan membunuh Adam, dan setelah itu aku tidak ingin kau mengharapkan aku untuk meminta maaf pada mu atau bahkan merasa bersalah sedikitpun atas kematiannya.” Tomi menundukkan kepalanya lalu beranjak pergi meninggalkan Frans. “Ya, aku tau kau pasti akan mengatakan itu.” Gumam Frans sambil tersenyum. “Adam. Seharusnya aku tidak membiarkan mu bergaul dengan Arka terlalu lama.” “HAHAHA. Kalian harus memberikan ku daging rusa panggang sekarang!” Sahut Agra dengan suara tawa yang benar-benar melengking. “Kenapa dia?” Ucap Tomi yang baru saja sampai ke rumah mereka. “Kesurupan.” Jawab Dylan sambil menyeruput teh hijau miliknya. “AH! Aku benar-benar merasa seperti bangsawan setelah meminum ini.” “Jangan berlebihan begitu Dylan.” Ucap Aruna. “Kemarilah! Kau ini kan Tuan Putri, setidaknya kau harus tau bagaimana rasa minuman para bangsawan.” Ucapnya semangat. “Kau kenapa Agra?” Ucap Sarah. “Ayo tebak!” “Katakan saja, kau mulai bertingkah seperti anak kecil. Padahal kau yang paling tua disini.” Ucap Tomi. “Dasar tidak sopan, kalau aku tidak sedang berbahagia saat ini, kau sudah mati ditangan ku.” Ucap Agra. “Aku sudah membunuh Beatriz.” Ucapnya singkat dengan wajah sombong.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD