Nusantara, 14 Maret 2302 (Empat hari sebelum Elisabeth bertemu dengan Estomihi)
Seorang perempuan dengan setelan tanktop hitam dan celana ketat berjalan ditengah tengah barisan ratusan laki-laki, ditangannya terdapan dua buah pisau kecil kesayangan yang dari dulu ia gunakan untuk berlatih.
“Siap Komandan!” Sahut seluruh barisan dengan serempak setelah mendengarkan perintah dari Elisabeth.
“Kau lihat wajahnya hari ini? Benar-benar bersinar hahaha.” Ucap salah satu laki-laki dibarisan tersebut kepada temannya saat berlari.
“Badannya juga atletis dan seksi haha, kalau harus membunuh kalian semua agar bisa menikah dengan Komandan El, aku tidak akan ragu melakukannya.”
“Ya, lebih baik kau membunuh diri mu sendiri, karena Komandan El tidak akan mau menikahi pecundang sepertimu!” Sahut salah satu laki-laki dibarisan belakang. Seluruh barisan tertawa melihat ekspresi kesal pria sebelumnya, walaupun yang dikatakan temannya tersebut tidak lah salah, tetap aja kesal rasanya saat seseorang melecehkannya di depan orang banyak.
“Aku memerintahkan kalian untuk berlari! Bukan tertawa!” Sahut Elisabeth dari kejauhan.
“Siap Komandan!”
“Semakin lama kau makin terlihat seperti laki-laki.” Ucap Frans.
“Kalau saja anak-anak disini memiliki tingkat keseriusan dan kedisiplinan yang sama denganku, aku tidak akan mungkin berlaku seperti ini.” Ucap Elisabeth lalu duduk di hadapan pria tua yang sudah dianggapnya sebagai kakeknya sendiri.
“Bagaimana keadaanmu?” Ucap Elisabeth mengingat kondisi parah Frans sebelumnya.
Untung saja saat itu kondisi Beatriz sangat lemah sehingga kekuatan dari serangan yang diberikannya pada Frans tidak begitu fatal.
“Kalau kau tidak membawa ku kemari tepat waktu, mungkin aku sudah mati sekarang hahah, ya kondisiku sudah benar-benar baik sekarang. Kau tidak perlu khawatir.” Ucap Frans sambil tersenyum.
“Bagus lah, aku tidak ingin kau mati sebelum aku berhasil membunuh Arka.”
“Sudah berapa kali aku katakan padamu, Arka tidak akan mati di tangan pembangkang seperti mu.”
“Siapa kau berani menilai ku seperti itu?”
“Aku tau nak, kau—“
“Sudahlah pak tua, kau tau aku tidak akan mendengarkan omelan mu kan?” Frans menarik nafasnya dalam-dalam, menghadapi Elisabeth memang membutuhkan kesabaran tingkat tinggi, kalau saja Frans tidak menyayangi Elisabeth seperti cucunya sendiri, dia sudah pasti mendepak Elisabeth dari markas Ghost.
“Aku punya sebuah misi yang sangat baik untukmu, aku yakin kau akan sangat menyukainya.” Ucap Frans.
“Misi apa? siapa lagi yang harus ku bunuh? Kalau tidak penting, aku tidak mau, lebih baik aku berlatih disini daripada harus keluar.” Balas Elisabeth seraya mengunyah sepotong apel.
“Memangnya seberapa sering aku menyuruh mu membunuh orang?”
“Umm.. berapa ya? Sepuluh kali? Dua puluh kali?”
“Jangan mengada-ada aku tidak pernah menyuruh mu membunuh orang lebih dari tiga kali.”
“Ya, tiga kali itu adalah perintah resmi, selebihnya aku lalukan atas dasar perintah tersirat dari mu.”
“Apa lagi itu perintah tersirat.” Frans memijat kedua ujung alisnya, kepalanya benar-benar sakit jika berhadapan dengan Elisabeth.
“Sudah lah, bertengkar dengan mu hanya membuat ku sakit kepala saja. Kalau kau tidak mau lagi aku berikan misi, aku akan menyuruh orang lain.”
“Hahahah jangan merajuk seperti itu Frans. Katakan padaku, misi apa yang kau maksud ini?”
“Kau tau kan Adam telah mengumumkan kematian ku dihadapan The Unknown?” Ucap Frans.
“Aku tidak tau dimana ia mendapatkan video lama ku yang sudah ku hapus.”
“Video apa?” Tanya Elisabeth.
“Video pernyataan aku memberikan seluruh kekuasaan ku terhadap The Unknown pada Adam.”
“Kau pernah membuat Video seperti itu?”
“Ya, karena Adam adalah satu-satunya keturunan ku.”
“Dia bahkan tidak menganggap mu sebagai kakeknya. Aku yakin dia juga tidak mengecek keberadaan mayat mu di gudang mayat sebelum mengumumkan berita ini pada The Unknown.”
“Sudah lah El, kau tidak perlu semarah ini, semuanya sudah terjadi.”
“Apa yang kau inginkan dariku? Merebut The Unknown dari Adam?” Frans menggeleng dan memberikan selembar foto pada Elisabeth.
“Estomihi? Kau ingin aku membunuhnya?”
“Bagaimana orang bodoh seperti mu masuk ke kelas level A di usia 11 tahun? Aku ingin kau membawanya pada ku.”
“Kenapa?”
“Aku akan menjadikannya Ghost, sama seperti mu.”
“Aku sangat sering menggunakan Tomi untuk membunuh pejabat-pejabat istana, aku yakin saat ini Adam pasti sedang mengincar nyawanya.”
“Dimana aku akan menjemputnya? Bukankah dia sedang menghilang saat ini?”
“Dia pasti akan kembali ke markas The Unknown, kau bisa menjemputnya disana.”
“Untuk apa dia kembali kesana? Bukannya itu sama saja dengan bunuh diri?”
“The Unknown adalah rumah ke dua bagi Tomi, dia tidak akan semudah itu menghapus kenangan-kenangannya selama berada di markas.”
“Saat ia butuh waktu untuk sendiri atau untuk fokus, aku yakin, dia akan kembali ke tempat itu” Ucap Frans.
“Baik, aku akan menjemputnya untuk mu.” Ucap Elisabeth beranjak dari tempat duduknya.
“Mau kemana kau?”
“Menjemput Tomi?”
“Aku tidak menyuruh mu untuk pergi menjemputnya sekarang kan? Duduklah dan makan apel-apel ini, aku sudah muak memakannya.”
“Kau terlihat makin kurus sekarang.” Ucap Frans.
“Ya aku berat ku turun 3 kilo karena memikirkan mu.” Ucap Elisabeth serius, mau bagaimana pun buruknya perlakuan Elisabeth pada Frans, Elisabeth adalah satu-satunya orang yang tulus menyayangi Frans dibandingkan dengan siapapun. Dan Frans pun sadar akan hal itu.
Tangannya perlahan mendorong kepala Elisabeth, sambil tertawa dia memberikan potongan apel pada perempuan itu.
“Jangan terlalu memikirkanku, ingat kesehatan mu juga. Kalau berat badan mu belum naik tiga kilo dalam dua hatri ini, kau tidak boleh menjemput abang mu.” Ucap Frans lalu kembali ke rumahnya meninggalkan Elisabeth yang sedang memandangnya penuh dengan kebencian.
“Hei kenapa begitu?!”
“Aku tidak akan mengaktifkan kartu akses keluar mu sebelum berat badan mu bertambah.” Balas Frans sambil tertawa.
Elisabeth kembali duduk di bangkunya dan menghabiskan seluruh apel disana.
“Hei.” Ucap seorang laki-laki berjas putih dihadapan Elisabeth.
“Ah, dokter James, pas sekali ada yang ingin ku minta pada mu.”
“Apa itu?” Ucap James malu-malu.
“Pria tua bangka sialan itu menyuruh ku untuk membawa abang ku ke markas ini.”
“Bagus lah, bukannya kau selama ini ingin bergabung dengan keluargaku, setau ku hanya Tomi saudara terakhir yang kau punya.”
“Ya memang bagus, tapi aku harus menambah berat badan ku terlebih dahulu kalau aku ingin menjemputnya. Dia berhasil memerintah ku dan memanipulasi seolah aku yang memohon padanya untuk melakukan misi itu.” Omel Elisabeth, James tersenyum memandang tingkah menggemaskan dari perempuan disampingnya ini. Walaupun memiliki kemampuan yang mematikan, wajah dan bentuk tubuh Elisabeth yang mungil membuatnya terlihat seperti anak bayi.
“Jadi kau mau aku membantu mu untuk menambah berat badan?”
“YA!” Sahutnya semangat.
“Kau memang benar-benar cerdas James, pantas saja kau dipilih menjadi dokter kepala di markas ini.” Ucap Elisabeth sambil tertawa.
“Baru kali ini aku mendengar pujian keluar dari mulut mu.” Ucap James.
“Hehehe, iya kah?”
“Kau mau tau apa yang sering keluar dari mulutmu?” Ucap James semangat.
“Apa?” James menghirup seluruh udara di sekitarnya sambil mengumpulkan tenaga.
“Dasar bodoh!”
“Masa begitu saja tidak bisa? Mati saja sana!”
“Kau mau ku bunuh hah?!”
“b******n!”
“Berengsek!”
“Sia—“ Ucapan James berhenti seketika saat Elisabet menyumpal mulut James dengan sebuah apel.
“Apel ini manis juga ya.” Ucap James sambil menatap Elisabeth yang sedang tertawa terbahak-bahak.
“Kau memang sangat mengenal ku James.” Ucap Elisabeth.
“Jadi kau mau naik berapa kilo?”
“Tiga dalam dua hari, apa itu mungkin?”
“Bisa saja kalau kau tidak berlatih fisik dan makan banyak.”
“Oh tidak bisa, aku tidak mau program ini mengurangi waktu latihanku, aku sudah bernazar untuk berlatih selama lima jam setiap hari nya.”
“Kalau begitu bagaimana kau bisa gendut?”
“Karena itu lah aku meminta tolong pada mu James, jadi seharusnya, kaulah yang memikirkan tentang itu.” Ucap Elisabeth dengan santainya.
“Kenapa kau datang menemuiku?’ Ucap Elisabeth.
“Ada yang ingin ku katakan pada mu.”
“Apa?” James menunduk menahan detak jantungnya yang tiba-tiba saja berdegup dengan sangat cepat.
Didalam hati James merutuki dirinya sebgai seorang pecundang, padahal sudah satu tahun dia mempersiapkan hari ini, bagaimana bisa dia masih setakut ini sampai sekarang.
“A-aku”
“Apa? kenapa kau terlihat ketakutan begitu? Bicara lah yang jelas aku sangat benci dengan orang yang bertingkah seperti ini.” Ucap Elisabeth jujur.
“Aku menyukai mu El, lebih dari seorang sahabat.” Ucap James, Elisabeth terdiam cukup lama.
“Ah! Bodohnya aku. Seharusnya aku tidak mengatakan ini, aku tau kau tidak pernah tertarik dengan hubungan romantis, maafkan aku El.”
“Kau bisa melupakan perkataan ku tadi, jangan terlalu di pikirkan, aku akan tetap menjadi sahabat mu dan ku pastikan tidak akan ada yang berubah.”
“Kau ini cerewet sekali sih?” Balas Elisabeth, perempuan itu terdiam bukanlah karena pernyataan dari James, sedari dulu ia sudah tau kalau James menyimpan rasa untuknya, namun dia tidak pernah memperkirakan hal ini terjadi.
Mana mau James dengan perempuan kotor sepertiku
Begitulah pemikiran yang ada di kepala Elisabeth dari dulu, perempuan tangguh ini tidak pernah menyadari bahwa banyak laki-laki yang menginginkannya.
Semua ini terjadi karena Adam. Adamlah yang telah memperkosa Elisabeth dan membuatnya mengira bahwa dirinya adalah perempuan kotor yang tidak memiliki harga sama sekali, bahkan ia yakin jika James mengetahui masa lalunya, James akan langsung meninggalkannya.
“Jadi maksud mu mengatakan itu pada ku apa? kau ingin jadi pacar ku?” Ucap Elisabeth tanpa ekspresi.
“Eh, bukan maksud ku seperti itu.” Ucap James gelagapan, sikap frontal Elisabeth ini memang harus segera di kurangi.
“Kalau kau bertanya apakah aku mau menjadi pacar mu atau tidak, tentu saja aku mau. Tapi maksud ku menyatakan perasaan ku bukan lah agar aku bisa memiliki mu sepenuhnya, aku tau kau masih mengejar mimpi-mimpimu, aku sama sekali tidak mau menghalagi jalan mu dalam mencapai itu. Aku mengatakan ini hanya agar kau tau, mau bagaimanapun kau, mau seburuk apapun kau di mata orang lain bahkan di mata mu sendiri, masih ada aku yang begitu menyukai mu dan memandang mu sebagai perempuan paling sempurna terlepas dari segala kekurangan mu.” Ucap James dengan tulus tanpa rasa gugup sedikitpun.
“Wah pergi kemana pecundang yang barusan menyatakan perasaannya pada ku.” Ucap Elisabeth yang sebenarnya sedang menahan malu dan degup jantungnya.
“Saat ini aku sedang fokus dengan misi ku menjemput Tomi, bisa kah aku memberikan keputusan ku setelah aku pulang nanti?”
“Tentu saja!” Ucap James semangat.
“Aku akan menyiapkan menu-menu makanan mu untuk hari ini dan besok.”
“Kau sendiri yang akan memasaknya?” Tanya Elisabeth dengan senyuman lebar di bibirnya, masakan James adalah yang terlezat, tentu program menambah berat badan ini akan sukses besar jika James yang memasak semuanya.
“Ya. Aku ingin kau cepat-cepat melakukan misi itu lalu segera pulang dan memberitahu keputusan mu pada ku.” Ucap James lalu pergi meninggalkan perempuan yang dari dulu di cintainya.