Frans bangkit berdiri sambil tertawa, matanya menatap ke arah Elisabeth dengan semangat berbanding terbalik dengan Elisabeth yang menatapnya tajam seperti seekor macan kelaparan.
Perempuan berambut hitam itu menurunkan tangannya dan memasukkan pisau itu di saku celananya.
“Apa maumu?” Tanya Elisabeth.
“Oh jadi kau sudah percaya padaku?”
“Perasaan ku sedang tidak baik saat ini, katakan cepat atau pisau ini akan mendarat dimata mu.”
“Bagaimana seorang anak kecil seperti mu bisa bertingkah seperti ini? Apa kau tidak pernah di didik oleh orangtua mu?”
“Kau menanyakan soal didikan orang tua pada ku? Karena kalian aku hanya bisa melihat ibu ku selama empat tahun. Setelah itu dia harus menyerahkan nyawanya pada kerajaan.”
“Kaum mu lah yang membuat kami menderita seperti ini.” Ucap Elisabeth penuh kebencian.
“Aku tidak sama seperti mereka.”
“Jangan kau kira aku tidak tau siapa kau. Fransiscus Alvero, Panglima tentara nusantara dan salah satu orang kepercayaan Arka.”
“The Unknown.”
“Apa?”
“Aku adalah The Unknown, kau tidak dengar saat aku mengajak mu masuk ke organisasi ku tadi?”
“Kau kira aku akan semudah itu percaya denganmu? Aku memang masih berusia 11 tahun, tapi aku tidak bodoh.”
“Aku tau semua latar belakang mu Elisabeth Bornslav.” Ucap Fransiscus sambil melempar sebuah gulungan kertas.
Dengan cepat Elisabeth mengambil kertas-kertas tersebut dan membaca semua informasi yang bahkan tidak ia ketahui tentang dirinya.
“17?” Elisabeth mentap Frans kebingungan setelah membaca jumlah saudaranya yang ada 17 orang.
“Ya, dan hanya satu yang diakui oleh ayah mu.”
“Siapa?”
“Estomihi Bornslav, anak yang pintar dan pembunuh yang handal. Semua prestasi mu tidak akan bisa menyamakan derajat mu dengannya.” Ucap Frans yang membuat Elisabeth geram.
“Dimana saudara-saudaraku yang lain?”
“Sudah mati.”
“Ayah mu adalah salah satu elite yang mendirikan The Unknown, saat ini dia sedang mempersiapkan abang mu untuk masuk kedalam organisasi ini. Kalau kau mau, aku juga bisa melatih mu supaya bisa bergabung dengan kami.”
“Kalau aku tidak mau?”
“Aku akan membunuh mu dengan tangan ku sendiri.” Ucap Frans serius sambil tersenyum lebar.
“Pria tua bangka sepertimu?” Ucap Elisabeth meremehkan Frans.
“Aku tidak akan masuk ke The Unknown. Aku tidak mau sederajat dengan Tomi. Angkat aku jadi tangan kananmu, dengan begitu, kualitas ku akan menjadi lebih baik darinya.”
“Tangan kanan huh? Terdengar menarik, baiklah. Kau akan menjadi tangan kananku, dan aku sendiri yang akan melatih mu.”
“Aku ingin bertemu dengan ayah ku.” Ucapnya lagi setelah memikirkan tawaran dari Frans.
“Ya, aku akan mempertemukan mu dengannya. Tenang saja.”
Elisabeth mengangguk dengan semangat, gadis kecil itu dengan cepat mengepak barang-barangnya dan pergi meninggalkan distrik ini menuju tempat yang tidak ia ketahui bersama Frans.
***
"Aku harus apa sekarang?" Tanya Agra.
"Duduk didepan kamera." Jawab Dylan, Perempuan dengan setelan serba putih itu mengambil posisinya didepan kamera, Agra berusaha menghilangkan rasa gugupnya sambil merapikan rambut pendeknya.
"Balai kota sudah dipenuhi warga." Ucap Sarah yang baru saja kembali.
"Oke, kita akan masuk saat pidato Arka tayang di layar."
Sarah mengangguk dan beranjak menghampiri Aruna, sejak kepergian Beatriz, perempuan itu tampak lebih sering melamun dari biasanya.
"Aku tau apa maksud dari ajakannya kemarin." Ucap Aruna pelan.
"Apa?"
"Dia jadi tidak bisa berpikir jernih seperti itu karena Aneshka."
"Aneshka? siapa?"
"Anak perempuan Beatriz."
"Beatriz punya anak?" Aruna mengangguk lalu menatap Sarah dengan penuh pengharapan.
"Kalau kita bisa membawa Aneshka kesini, Beatriz pasti akan kembali pada kita."
“Tidak ada gunanya Ara, Beatriz sudah melupakan semuanya, otaknya sudah dikendalikan sepenuhnya oleh Arka.” Ucap Sarah.
"Hei, apa yang kalian lakukan? Kita akan memulai siarannya, kemarilah." Ucap Dylan.
"Aku tidak ikut, aku akan pergi ke balai kota untuk mengecek keadaan disana."
"Buat apa? Aku sudah meretas kamera pengawas dibalai kota, kita bisa melihatnya da—"
"Aku pergi dulu." Ucap Sarah sambil mengubah wujudnya menjadi seorang perempuan penjual roti di Distrik 1.
Beberapa menit berlalu dan wajah Arka terpampang di layar dengan setelan berwarna putih.
"Selamat pagi rakyat-rakyat ku yang terkasih." Ucapnya sambil tersenyum lalu terganti dengan wajah Agra. Dylan tersenyum puas saat tau dirinya berhasil meretas sistem komputer milik kerajaan.
"Berbicaralah." Ucap Dylan. Agra mengangguk dan menatap ke arah kamera dengan tajam.
"Aku kenal dia!!" Sahut salah satu warga di distrik 4.
"Seharusnya dia sudah mati beberapa tahun yang lalu!"
"Selamat pagi, saya, Agrapana Cundamani, korban eksperimen tidak manusiawi milik kerajaan.” Ucap Agra lalu digantikan dengan rekaman cctv laboratorium saat melangsungkan eksperimen yang berhasil di retas Dylan kemarin malam.
“Apa yang terjadi? Bagaimana dia bisa mendapatkan video tersebut" Ucap Arka panik saat melihat wajahnya tergantikan dengan wajah Agra di layar.
“Selama ini pihak Istana menjanjikan kehidupan yang lebih baik bagi rakyat di distrik 5 setelah melakukan tes fisik.”
“Sebuah tes yang kita kira menjadi tiket emas kita untuk mendapatkan kehidupan yang lebih baik, ternyata faktanya malah menjadikan kita sebagai kelinci percobaan Istana.”
“HENTIKAN DIA SEKARANG JUGA!” Teriak Arka penuh amarah. Seluruh orang di ruangan tersebut terdiam ketakutan tak tau harus berbuat apa, Arka menatap ke arah layar sambil menggeram di hadapan wajah Agra yang terlihat sangat angkuh seolah sedang menantangnya.
"Mohon maaf yang mulia, sistem komputer tidak dapat bekerja untuk sementara"
“Selama bertahun-tahun pihak Istana mewajibkan kita untuk menjadi kelinci percobaan sebuah eksperimen mengerikan yang memakan banyak korban, seperti yang kita lihat sendiri. Semua orang yang mengikuti tes tersebut tidak pernah kembali.”
“Mereka tidak pernah kembali karena setiap orang yang mengikuti tes tersebut langsung mati konyol hari itu juga. Mayat teman, saudara, ayah, dan ibu kita ditumpuk dengan mayat-mayat orang lain bagaikan sampah didalam sebuah gudang, selama seminggu sekali, mereka akan diolah menjadi pupuk untuk menyuburkan sayur-sayuran yang selama ini kita makan.”
“Minggir kau!” Bentak Arka pada seorang insinyur dan mengambil alih perkerjaannya. Seperti sedang memainkan piano, jari-jemari Arka dengan lincahnya menari diatas keyboard komputernya.
“Hal keji itu mereka lakukan hanya untuk menciptakan seorang manusia dengan kekuatan super untuk melindungi kerajaan dari serangan negara asing yang bahkan tidak diketahui keberadaannya.” Ucap Agra.
“Arka akan terus menerus melanjutkan eksperimen ini tanpa mempedulikan nyawa rakyatnya, Raja yang selama ini kita puja-puja pada kenyataannya adalah seorang monster. Karena hal itu, saya mengajak seluruh rakyat nusantara untuk bersama-sama menjatuhkan iblis bernama Arka itu. Agar tidak ada lagi korban yang berjatuhan, agar tidak ada lagi anak-anak yang terlantar, atau perempuan yang terpaksa mengandung di usia yang seharusnya mereka isi dengan canda tawa, bukan dengan mengurus anak.”
“Mereka berhasil mengambil kendali komputer mereka kembali. Cepat selesaikan pidato mu bodoh!” Sahut Dylan.
“Bersama-sama kita akan—“ Perkataan Agra terhenti saat layar raksasa tersebut kembali menayangkan wajah Arka.
Dengan senyuman tipis di bibirnya, Sarah berjalan perlahan menuju sebuah mimbar yang terletak didepan semua orang.
“Sedang apa kau?!” Bentak salah satu tentara yang berdiri didekatnya, dengan sangat cepat Sarah menggorok leher tentara-tentara tersebut dengan pisau kecil kesayangannya. Semua orang berteriak ketakutan karena ulah perempuan berambut pirang itu, ada yang berlari untuk menyelamatkan diri dan ada pula yang bertahan karena penasaran.
“Nama ku Sarah Bornslav. Specimen Project 03, Kekuatan Shape Shifter.” Ucap Sarah diatas mimbar sambil mengubah bentuknya seperti semula dan seluruh rakyat menatapnya dengan takjub.
“Kirim pasukan militer ke distrik 1, dan bunuh perempuan itu!” Perintah Arka pada Adam, dengan sigap Adam mengangguk dan menjalankan perintah Sang Raja.
“Aku adalah spesimen ke empat dan terakhir yang berhasil hidup setelah melalui tes fisik kerajaan.”
“Selama bertahun-tahun kita hidup menderita, dengan makanan yang dijatah, hidup terkurung, terbatas oleh usia yang singkat, dan tanpa kita sadari perlahan-lahan kehidupan rakyat di tiap distrik berangsur punah, semua ini terjadi hanya karena ambisi sang raja dan antek-anteknya yang tidak masuk akal.” Ucap Sarah.
“Aku ingin seluruh rakyat hidup di negara ini dengan kebebasan yang merata! Aku ingin tidak ada lagi peraturan-peraturan tidak masuk akal yang mengikat kita seperti binatang ternak! Aku ingin kita tinggal di negara yang berpedoman pada rakyatnya! Bukan negara dengan kesenjangan sosial yang sangat parah seperti saat ini. Aku tidak mungkin bisa menwujudkan hal itu sendirian, tapi, dengan usaha kita semua. Aku yakin kita dapat melengserkan Arka!”
“LENGSERKAN ARKA!” Jerit salah satu rakyat sambil mengangkat tangannya.
“Lapor komandan! Saat ini Estomihi Bornslav ada didalam markas.” Ucap seorang tentara pada Adam.
“Kumpulkan pasukan 01 dan 08 lalu kirim mereka ke Distrik 1 bersama Beatriz. Aku akan pergi ke markas.” Ucap Adam lalu masuk kedalam sebuah helikopter.
“Siap komandan!” Sesuai dengan permintaan komandannya, para tentara tersebut bergerak dengan sigap menuju Distrik 1 bersama Beatriz.
Tak butuh waktu lama, seluruh masyarakat yang berkumpul di balai kota menjadi sangat ricuh, Sarah tersenyum puas sampai sebuah mobil berhenti ditengah-tengah lapangan dan mengeluarkan seseorang yang sangat dikenal oleh Sarah.
Dengan mata merahnya Beatriz menatap Sarah dengan penuh kebencian, tangannya terangkat mengarah ke Sarah lalu dengan cepat Beatriz menyambar temannya itu dengan listrik bertekanan tinggi.
“Sarah dalam bahaya!” Sahut Dylan panik.
“Ada apa?”
“Mereka mengirim Beatriz ke balai kota.”
Tanpa mengatakan apapun, Agra melesat ke udara dan terbang dengan kecepatan tinggi menuju balai kota. Dari atas langit, Agra melihat Beatriz dan Sarah bertarung dengan sengit, perempuan dengan kekuatan merubah bentuk itu bergerak dengan sangat lincah menghindari serangan dari Beatriz. Sampai akhirnya mata Agra membulat sempurna saat listrik milik Beatriz berhasil mengenai d**a Sarah.
“Mati kau!” Teriak Beatriz sekuat tenaga, Agra terbang menungkik untuk menangkap tubuh Sarah tepat pada waktunya. Dari atas udara Agra mengarahkan kekuatannya pada sebuah mobil lalu melempar mobil tersebut kearah Beatriz.
“Mulai hari ini. Kau masuk dalam daftar orang-orang yang akan kubunuh, Beatriz! Bersiaplah.” Sahut Agra lalu pergi meninggalkan balai kota sambil membawa tubuh Sarah yang tidak sadarkan diri.