Widya nampak heran dengan jawaban yang diberikan Sandi. Pasalnya baru kali ini, Sandi menyebut nama gadis itu. Bahkan Widya pun tak menyangka, bahwa Sandi telah memiliki seorang kekasih. Retak. Hatinya kini bagaikan gelas yang jatuh dan mengakibatkan keretakan di setiap sisinya.
"Irda siapa San?Kok aku baru denger yaa, kamu punya temen namanya Irda..."ucapnya penasaran akan Irda yang disebutkan Sandi.
"Irda pacar aku dong, kita baru aja jadian beberapa hari sih. Ya sekitar 2mingguan lah."jawab Sandi dengan senyuman yang tak lepas dari bibirnya sejak tadi.
"Hah? Pa..car?"Widya pun kaget nyaris tak percaya dengan penjelasan Sandi. Sakit. itu yang dia rasakan. "Oh. Tapi, kok kamu gak cerita dari awal sih?"sambungnya, sambil berusaha menutupi rasa kecewanya.
"Hehe, Ya tadinya sih aku emang udah mau cerita cuman..."Sandi terdiam tak melanjutkan ucapannya.
"Cuman apa hayoo?"ucap Widya mencolek dagu pria yang menjadi sahabat nya dari sejak SD itu.
Teeetttt
"Eh udah bel, yuu masuk kelas keburu dateng guru nya!"ajak Sandi tanpa menjawab pertanyaan Widya, sembari merangkul pundak Widya berlalu menuju kelas.
"Ishh nyantai dong, baru juga bel ih!"yang dirangkul pun hanya bisa manyun. "Kok sakit yaa."ucapnya dalam hati.
Jam pelajaran pun akhirnya telah usai, semua murid bersiap-siap untuk pulang menuju tujuan mereka masing-masing, entah itu langsung pulang ke rumah atau ada yang ingin berkumpul dulu di halaman sekolah. Begitu juga dengan Widya yang kini sedang merapikan buku-bukunya ke dalam tas, bersama Sandi.
"Wid, aku pulang duluan yaa..Gak apa-apa kan pulang sendiri? Soalnya aku harus jemput Irda. Oke, bye!"ucap Sandi, sambil berlalu meninggalkan Widya di kelas tanpa menunggu jawaban Widya terlebih dulu.
"Kok Sandi baru bilang sekarang sih, dan rasanya sangat sakit.. heumm gak apa-apa Wid, kamu kan sabahat dia.. gak lebih!"ucapnya dalam hati dengan pandangan yang masih menatap ke arah pintu walaupun Sandi telah hilang dari pandangannya.
"Heh, ngelamun aja mau nginep disini kamu?"seru seseorang menepuk pundak Widya dengan agak keras. Dikira samsak kali ya.
"Awww, ish Fajar kamu tuh yaa sakit tau ih!" Widya pun meringis sakit karna tepukan Fajar yang cukup keras itu.
"Hehe, maaf kirain gak bakalan sakit."ucapnya polos nyengir. "Eh, si Sandi mau kemana tuh buru-buru gitu keliatannya. Biasanya kan kalian selalu nempel."ujar Fajar yang kini berdiri di hadapan Widya yang baru saja selesai berkemas.
"Nempel.. emang pake lem jadi nempel. Sandi ada urusan katanya." jawabnya acuh, sambil memakai tas nya melangkah menuju ke luar kelas.
"Yakan emang bener, biasanya kalian tuh berdua terus kemana-mana.. Oya, jadi kamu pulang sendiri dong?"kata Fajar, mencoba mensejajarkan langkahnya dengan Widya.
"Emang kenapa kalo aku pulang sendiri?"tanya Widya yang menghentikan langkah nya tepat disamping Fajar.
"Yaa kalo mau, aku bisa kok dengan senang hati nganter kamu pulang.."jawabnya sembari tersenyum dengan manis. Ya siapapun pasti akan langsung terpesona dengan senyuman manis Fajar. Cowok yang cukup populer di SMA JAYA, setelah Sandi tentu nya. Tapi, tidak untuk Widya.
"Heumm.. Jadi, kamu tuh lagi ngajakin aku pulang bareng gitu maksudnya?"Widya mengangkat satu alisnya menatap Fajar dengan tatapan yang datar.
"Yaa kalau kamu mau itu juga."menggaruk tak gatal kepalanya, melihat tatapan Widya yang pasti akan menolak ajakannya seperti biasa. Iya, karna bukan hanya kali ini Fajar mencoba untuk mengajak pulang bareng Widya, ini mungkin sudah yang keseratus kali nya. ( Yakin diitung itu?)
"Karna hari ini aku lagi males naik ojol, boleh deh yuu.."jawab Widya sambil melangkah meninggalkan Fajar yang masih terdiam bengong di tempatnya.
"Jadi nganterin ga ih, hey?!"merasa tak ada yang menyusulnya, Widya lantas menoleh ke tempat Fajar berada yang masih terdiam.
"Eh iya jadi dong, hayu!"Seru nya sambil berlari kecil mengejar Widya yang sudah kembali berjalan menuju parkiran.
"Yes akhirnya bisa pulang bareng juga sama kamu Wid.."ucap Fajar dalam hati senang.
Akhirnya Widya pun pulang bersama Fajar, ketua kelas yang selalu menjadi teman sekelas Widya dari kelas 10. Berbeda dengan Sandi yang baru kali ini sekelas dengannya, walaupun selalu satu sekolah. Meski begitu, Fajar tak bisa sedekat itu dengan Widya, seperti Sandi yang selalu bisa bersama-sama dengan Widya.
"Hai sayang, lama yaa nunggunya? Maaf yaa, karna ini pertama kali nya semua murid masuk pagi, jadi aja agak lama keluarnya."ucap Irda menghampiri Sandi yang sudah menunggunya di depan gerbang sekolah SEBELAH.
"Gapapa kok, yaudah yu naik keburu makin sore!"jawab Sandi sambil memakaikan helm yang selalu dibawa nya kepada Irda.
Di rumah Widya
"Makasih ya Fajar udah nganterin pulang."ucap Widya yang baru saja turun dari motor milik Fajar.
"Iya sama-sama, lain kali aku masih bisa kok anterin kamu pulang jadi bilang aja ya."jawab fajar, sambil tersenyum.
"Heumm..yaudah aku masuk ya, kamu hati-hati.. daah!"Widya pun masuk setelah membuka gerbang rumahnya.
"Aah senangnya..coba aja bisa setiap hari bisa nganterin kamu.."Fajar pun melajukan kembali motornya pergi dari depan rumah Widya menuju rumahnya.
Di dalam kamar, Widya berbaring di atas kasur nya sambil menatap langit-langit kamarnya. Dia masih merasakan rasa yang sangat tak menentu. Sahabat yang selalu ada setiap saat untuk nya, kini telah mempunyai seorang pacar. Tak terasa air mata yang sejak tadi dirinya coba tahan untuk tak keluar, kini turun membasahi pipinya. Iya, Widya menangis memikirkan sahabatnya itu.
"Kok aku gak rela yaa kamu punya pacar San.. Maafin aku, karna gak bisa jaga perasaan aku... harusnya aku tetap anggap kamu sahabat aku.. tapi, nyatanya aku gak bisa."gumam Widya lirih karna tak bisa menahan rasa sesak di dada nya. Dia pun tertidur dengan masih air mata yang mengalir di pipi nya.
Widya memang diam-diam memiliki perasaan yang lebih dari sekedar perasaan terhadap seorang sahabat. Memang mereka telah bersahabat sejak mereka masuk sekolah dasar. Orangtua Sandi yang selalu sibuk bekerja, membuat Sandi semakin mendekat dengan kedua orangtua Widya.
Dulu, mereka memang tetanggaan tetapi karna pekerjaan dari orangtua Sandi yang mengharuskan mereka pindah. Karna Sandi tak ingin menjauh dari Widya, akhirnya Sandi memutuskan untuk ngekost.
Mendengar Sandi kini telah memiliki seorang kekasih, tentu membuat Widya merasa sakit. Hatinya bagaikan teriris pisau. Sakit namun tak berdarah. Tetapi, dia pun tak bisa melarang Sandi untuk dirinya memiliki kekasih, toh dia hanya sahabatnya. Yang pasti meski sakit, Widya akan selalu mendukungnya, asalkan itu baik untuk Sandi dan membuatnya bahagia.