Chapter 12

1679 Words
Salju turun memutihkan Kota London selama seminggu ini, bahkan Halsey yang biasanya menggunakan fasilitas umum kini kembali menerima semua fasilitas yang diberikan oleh keluarganya. Gadis itu masih betah tinggal lebih lama di apartemennya, jauh dari para pelayan yang akan selalu ada ketika dia butuh. “Kakak jangan berlebihan,” keluhnya ketika melihat Henry tengah duduk di sofa ruang tamu apartemennya. “Berlebihan bagaimana? Kau tahu kan saat ini hujan salju dan jalan sangat licin, kami tidak ingin apa yang dialami Kak Sarah dulu terjadi padamu, Tuan Putri.” “Tetapi seorang sekretaris menaiki sebuah helikopter dan berhenti di atap perusahaan tempatnya bekerja itu sudah sangat berlebihan, Kak.” “Tidak ada yang berlebihan jika semua itu menyangkut keselamatanmu, kalau Alex mempermasalahkannya biar ku runtuhkan gedung itu,” ucap Henry dengan wajah datarnya sembari berjalan menghampiri Halsey yang tengah mengenakan mantelnya. “JANGAN!!!” teriaknya heboh dan berhasil membuat Henry mencebikkan bibir. “Makanya menurut saja, jangan sampai Kak Luke atau Kak Anth tahu jika kau bekerja di sana.” “Pasti tidak lama lagi Kak Anth akan tahu, ku dengar dia akan ke London setelah misi kemanusiaan di Kenya.” “Semoga dia tidak memarahimu,” ucap Henry penuh peringatan. Halsey hanya tertunduk lesu mendengar peringatan dari Henry, karena dia tahu jika hubungan ketiga kakak sepupunya tidak baik dengan Alex. Dia juga tahu jika Alana Hiddleston adalah mantan kekasih Alex, yang notabenenya adalah adik sepupu dari ketiga kakak sepupunya. Tetapi bagaimana jika hatinya sudah sangat mencintai Alex, bahkan untuk menghindar dari rasa itu pun dia sudah tidak sanggup. Seakan tidak ada jalan keluar dari kerumitan perasaannya ini, yang dia tahu hanya jalan untuk menuju cinta seorang Alexander Harris. Lelaki berdarah Inggris dan Swiss itu sudah menguncinya dalam satu cinta di bawah salju pertama. Sedangkan di tempat berbeda seorang lelaki tampan tengah mengerutkan keningnya berkali lipat dari biasanya. Karena saat ini sedang membaca berkas-berkas yang berhubungan dengan kematian Alana dan serangkaian teror yang diterima oleh Halsey. Terakhir kali dia menerima pesan ancaman beberapa hari lalu, jika kematian Alana erat kaitannya dengan Halsey. Sedangkan dia juga tidak tahu apa hubungannya kematian Alana dengan Halsey, karena seingatnya saat tragedi kecelakaan tragis itu keluarga Karl Jacob sedang berada di Amerika. “Jadi apa hubungannya kematian Alana dengan Halsey?” tanya Alex dengan wajah seriusnya. “Menurut temuan kami jika sebelum kecelakaan itu terjadi Nona Alana Hiddleston menerima bukti jika Anda memiliki ketertarikan pada Halsey Claire Jacob,” jawab lelaki paruh baya yang tak lain adalah informan yang dibayarnya. “Bagaimana bisa Alana mengetahui semua itu jika selama berhubungan dengannya aku selalu menutupi jika Halsey telah masuk ke dalam hatiku?” “Ada seseorang yang tahu jika kemungkinan besar Nona Alana tidak dibunuh, melainkan bunuh diri.” “Siapa dia?” “Kimberly Hiddleston, saudara sulung Nona Alana.” “Dia?” “Benar, dan Nona Hiddleston curiga jika ada seseorang yang memanfaatkan semua itu untuk menghancurkan hubungan kalian dan keluarga Jacob secara bersamaan,” jawab lelaki itu. “Baiklah. Tolong selidiki lebih lagi sebelum aku pergi dan sampaikan ucapan terima kasihku pada Trysha atas bantuannya,” ucap Alex bangkit dari tempat duduknya dan beralih menatap Kota London dari balik jendela kantornya yang sudah berembun karena salju yang turun. “Baik, Tuan. Saya akan sampaikan pesan Anda pada Nona,” ucap lelaki itu sebelum keluar dari ruang kerja Alex. Alex diam memikirkan semua kemungkinan yang terjadi, tetapi apa hubungan antara kehancuran hubungannya dan Alana dengan keluarga Jacob? Tetapi untuk apa menghancurkan keluarga Jacob, dan Kimberly? Gadis itu juga cukup tertutup sejak kematian Alana, bahkan dia tidak banyak bicara tentang kematian adiknya. Tok... Tok... Tok... “Masuk,” ucap Alex dengan nada tegasnya ketika mendengar pintu ruang kerjanya di ketuk. “Tuan, saya diminta Tuan Luther untuk mengantarkan berkas ini,” ucap suara lembut yang sangat Alex kenali. Lelaki itu berbalik dengan kondisi kedua tangan masih di balik saku, dia menatap wajah Halsey dengan sendu. Hatinya seakan diremas ketika memikirkan ia harus meninggalkan gadisnya dalam waktu yang cukup lama. Setidaknya sampai semua jelas untuknya dan untuk masa depan mereka, ia tidak tega melihat Halsey terus menerus menerima teror mengerikan itu. Karena terakhir kotak kado yang diterima Halsey adalah potongan tangan mayat, dan bersyukurlah sebelum diterima oleh Halsey paket itu lebih dulu dia ambil. “Terima kasih,” ucap Alex sembari berjalan menghampiri Halsey dan secara meengejutkan memeluk gadis cantik berambut cokelat itu. “Tid—“ “Bertahanlah jika pada kenyataannya nanti akan sulit,” lirih Alex semakin mengeratkan pelukannya pada tubuh mungil Halsey. “Mengapa Kau mengatakan itu?” tanya Halsey penasaran. “Aku hanya merindukanmu, Ratu Lebah...” “Apa? Aku bukan lebah, mengapa kau memanggilku lebah?” kesal Halsey menginjak kaki Alex sehingga lelaki itu mengaduh kesakitan. “Sakit, Sayang.” “Makanya jangan memanggilku Ratu Lebah, aku bukan lebah. Aku ini manusia, Alexander Harris,” kesal Halsey sembari berjalan meninggalkan Alex yang sayangnya dia tidak bisa lolos dari cekalan lelaki tampan yang kini memeluknya dari belakang. “Katakan padaku jika kau tidak akan meninggalkanku,” pinta Alex tepat di balik telinga Halsey. “Mengapa? Kau demam, ya? Bicaramu sejak tadi aneh.” “Cukup katakan kau tidak akan pernah meninggalkanku apa pun yang terjadi pada kita,” pinta Alex lagi yang membuat Halsey menghela napas lelah. “Baiklah. Aku tidak akan meninggalkanmu apa pun yang terjadi dan aku tahu kelak kaulah yang akan meninggalkanku jika kau bosan,” ucap Halsey yang berhasil membuat tubuh Alex menegang karena yang baru saja diucapkan oleh gadis itu sebagian benar. Jika dia akan meninggalkan Halsey, walau dia berjanji akan kembali lagi meraih gadisnya. *** Sudah sebulan Halsey bekerja sebagai sekretaris magang di EDGE Tech dan selama sebulan itu juga banyak cerita manis yang terjadi antara dirinya dan Alex. Teror yang biasanya dia terima juga sudah tidak pernah terjadi lagi, atau mungkin orang yang menerornya sedang kelelahan untuk mengirimkan teror. Seperti itulah pikiran polos Halsey menanggapi teror yang dia terima selama ini, mungkin semua itu karena dia sudah biasa menjadi korban bully saat di sekolah dulu. Menjadi berbeda itu sungguh tidak menyenangkan baginya, dia tidak memiliki teman yang benar-benar teman karena statusnya sebagai cucu bungsu Philips Jacob. Lagi pula dia memiliki teman baru untuk bicara selain Sarah dan Isabelle, istri dari Luke Jacob. Kini dia cukup menyukai seorang sosialita asal Jerman yang selama ini menjadi role modenya, Claudia Auermann. Dia bertemu dengan Claudia ketika menemani Harry menghadiri undangan London Fashion Week yang menjadi ajang romantis kakak sepupunya dengan gadis berambut pirang itu. Sungguh Halsey merasa iri dengan Claudia yang bisa berekspresi sesuai dengan dirinya sendiri, tanpa ada yang mengusik. “Apa yang kau pikirkan, Sayang?” tanya Alex yang baru saja keluar dari kamar mandi dengan handuk melilit di sebatas pinggang. Rambut basahnya membuat kesan seksi semakin menguar dari penampilannya kali ini, Halsey sampai harus menelan salivanya berulang kali ketika melihat lelaki dengan tubuh bak Dewa Yunani berdiri di depannya. “Kau ingin menyentuhku, Sayang?” tanya Alex menarik tangan Halsey dan meletakkan di perut telanjangnya yang sangat menggoda. “Jangan menggodaku,” ucap Halsey sebelum menarik tangannya dari perut Alex. “Wajahmu seperti Singa yang siap menerkam mangsanya,” kekeh Alex sebelum mengecup singkat bibir Halsey dan berjalan menuju walk in closet untuk berpakaian. “Kau akan ke mana hari ini?” tanya Halsey yang kini berdiri di ambang pintu walk in closet sembari melihat Alex berpakaian. “Aku akan berada di Dubai sampai waktu yang tidak ditentukan dan ku harap kau bersabar menungguku kembali,” lirih Alex saat mengancingkan kacing teratas kemejanya. “Maksudnya?” tanya Halsey bingung. “Aku tahu jika selama ini kau kesulitan menjalani hubungan kita dan kau selalu berusaha menyembunyikan semuanya di balik senyummu ini. Hatiku sakit melihatmu terus bersandiwara seakan semuanya baik-baik saja,” ucap Alex membelai lembut pipi kekasihnya yang sudah memerah karena menahan air mata yang nyaris luruh. “Maksudnya apa? Aku tidak mengerti.” “Semua ancaman itu, semua yang kau terima sejak menjadi kekasihku, semua ini salahku yang telah membawamu masuk ke dalam hubungan yang rumit ini.” “Jadi?” tanya Halsey dengan nada bergetar karena air mata yang sejak tadi dia bending akhirnya luruh juga. “Aku akan pergi tetapi tidak untuk meninggalkanmu, Sayang. Hanya sementara sampai semuanya jelas dan aman untukmu. Dan ingat satu hal, kematian Alana tidak ada hubungannya sama sekali denganmu. Jangan pernah berpikir jika semua itu adalah salahmu,” lirih Alex sembari membawa tubuh Halsey yang bergetar ke dalam pelukannya. “Tetapi, aku—“ “Sssstttt... Aku pasti akan kembali untukmu,” lirih Alex sebelum mencium bibir ranum kekasihnya. Halsey membalas ciuman Alex di sela isakan tertahannya, dia tahu semua tentang apa yang dialami Alana dari surat terakhir yang dia terima. Jika Alana bunuh diri dengan cara menabrakan mobilnya sendiri ke sebuah truk besar karena tahu Alex mencintai Halsey. Tetapi Mengapa? Bahkan dia sendiri tidak ingat jika pernah bertemu dengan Alex sebelumnya, dan mengapa dia yang harus jadi alasan Alana untuk bunuh diri. Jadi semua ini adalah alasan di balik wajah tidak bersahabat Kimberly Hiddleston padanya selama ini? Karena dia adalah alasan di balik kehilangan yang menimpa keluarga Hiddleston dan Smith. “Aku pergi...” ucap Alex berlalu meninggalkan Halsey yang masih terisak di dalam kamar apartemennya yang terasa sangat dingin mencekam. Tubuhnya luruh ke lantai, air matanya semakin jatuh tak terbendung lagi saat melihat punggung Alex menghilang di balik pintu kamar. Dan yang semakin membuatnya sedih adalah lelaki itu tidak berbalik sedikit pun untuk melihat keadaannya, betapa hancurnya dia saat ini. “Sakit...” isak Halsey begitu terdengar memilukan, bahkan bagi lelaki yang saat ini tengah bersandar di balik pintu dengan air mata yang keluar dari sudut matanya. “Maafkan aku, Sayang. Aku akan kembali untukmu jika semuanya sudah jelas,” lirih Alex kembali melanjutkan langkahnya meninggalkan apartemen itu. Sedangkan di tempat berbeda seseorang tengah tersneyum dengan wajah puasnya, dia tahu hampir semua rencana Alex yang akan meninggalkan Halsey. Sekarang waktunya membuat pertunjukkan semakin menarik. “Kau akan segera bertemu dengan Alana, gadis manis,” kekehnya sembari menggoreskan cutter di foto-foto Halsey yang menempel di diding sebuah ruangan gelap dengan penerangan yang minim. “Kau harus mati!!! Hahaha...”   
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD