Dinginnya udara di luar tidak begitu dipedulikan oleh lelaki yang sejak semalam berdiri di depan sebuah gedung rumah sakit. Dia hanya mengenakan mantel berwarna hitam sebagai penghangat tubuhnya. Bahkan beberapa orang yang sejak semalam berusaha membujuknya untuk pergi pun enggan dia hiraukan. Tidak ada hal yang lebih penting daripada menunggu gadisnya sadar, bangun dari mimpi buruk yang dia buat. Bahkan dia tidak bisa fokus memikirkan perusahaannya yang tengah berada di ambang kehancuran. “Mau sampai kapan Kakak menjadi gila seperti ini?” ucap lelaki tampan yang baru saja turun dari mobil sedan mewah di pelataran rumah sakit. “Sampai mereka mengizinkanku untuk bertemu dengannya,” jawab lelaki itu sembari melirik sekilas adik lelakinya. Sudah sejak semalam Alex berada di luar rumah saki

