“Ma, tadi di ruang tengah ada perempuan! Dia siapa?” Aku melirik ke arah Mama dan Jingga. Ya, aku pun tadi terlupa jika ada Mbak Karissa. Rasa panik mendengar teriakan jingga membuatku mengabaikan dia. Dia, yang sudah membuat Mama murung selama beberapa tahun lamanya. Kukira dia tak akan kembali. Bahkan satu lebaran sekali pun tak pernah dia datang. “Ah iya, nanti Mama kenalkan ke kamu. Dia hmmm … kakaknya Banyu.” “Mas Banyu punya Kakak?” tanya Jingga lagi disela rint*hannya. Kini dia sudah terbiasa memanggilku, Mas. Tapi hanya di depan Mama saja. Kalau berdua, bertahan dengan sebutan Papa. Gak apalah, setidaknya gak terlalu kaku seperti awal-awal. “Ceritanya panjang! Biar nanti-nanti saja Mama jelaskan!” “Huuu! Huuu! Iya, Ma.” Jingga menjawab berselang dengan rint*hannya. Aku

