Bab 62

1653 Words

“Setidaknya, kini Una sudah mau makan dengan lahap lagi, Jen! Sudah juga gak takut ketemu orang juga, alhamdulilah.” Satu bulan sudah aku mengajak Aluna rutin kontrol ke seorang psikolog. Meskipun belum maksimal hasilnya, tapi sudah terlihat progres yang cukup baik. Aku tersenyum ketika baru saja selesai sesi konsultasi dengan Jeni. Sebuah rumah di kawasan Karawang Kota dijadikannya kantor. Beruntung dapat antrian awal, jadinya bisa lebih dulu selesai sebelum jam makan siang. ”Ya Alhamdulilah, Jingga. Kamu juga jangan kebanyakan pikiran, ya! Noh kasihan yang dalam perut!” tukasnya seraya melirik perutku yang sudah menyembul dari balik gamis. Aku tersenyum sambil mengusap perutku. Biasanya dia akan nendang. Tuh 'kan bener? “Insya Allah.” Hanya itu yang kuucapkan. Kugamit tangan Una

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD