'Berhenti sejenak bukan berarti mundur. Hanya ingin istirahat sebentar untuk melangkah yang lebih jauh.' ** AUTHOR POV Naya masih terbaring lemah di ranjang rumah sakit. Kondisinya sudah melewati masa kritis, namun Naya tak kunjung siuman. Damar masih setia menunggu Naya sambil beberapa kali mengusap punggung tangan Naya seraya menciuminya. Bisa Damar lihat beberapa luka di wajah Naya yang baru saja dibersihkan oleh suster. Kejadian tadi benar-benar diluar nalar Damar. Damar sampai tak berpikir jika Keira nekat menarik Naya ke jalan raya dan mendorongnya hingga tersungkur ke tengah jalan sampai menjadi korban tabrak lari. Bukan Damar tak mampu mengejar Keira. Di tengah emosinya yang meletup, Keira sulit ditebak dan sulit dikendalikan. Damar pun merasa memang ada yang salah dengan diri

