Aku semakin tidak percaya dengan semua yang terjadi saat ini. Kenapa wanita itu memanggilku adiknya dan menyebut namaku Embun.
"Maaf kak , mungkin kakak salah orang namaku Alisa bukan Embun." Jawabku sembari menghapus air mata di sela sela pipiku.
Aku berusaha meyakinkan wanita itu kalau aku bukan adiknya. Aku juga bingung harus memanggilnya apa. Maka ku putuskan memanggilnya kakak saja karna walaupun dia cantik namun umurnya terasa masih di atasku.
"Aku tau saat ini kau tidak mengenaliku Embun. Aku hanya ingin minta maaf atas apa yang sudah ku lakukan padamu dulu. Aku sangat menyesal atas apa yang telah terjadi.
Selama bertapa dan merenung dalam beberapa ratus tahun ini. Aku menyadari semua perbuatanku. Dan aku sangat menyesal. Seandainya waktu bisa ku putar kembali . Aku ingin memperbaiki semuanya. Dan aku ingin kita bertujuh berkumpul seperti dulu lagi. "
Wajahnya begitu memelas sedih dan airmatanya kembali meleleh membasahi wajah cantiknya. Ku lihat penyesalan yang teramat dalam terpancar dari manik matanya. Seketika hatiku merasa ibah. Tanpa sadar kakiku melangkah mendekati wanita itu.
" Sudah kak jangan menangis nanti kakak jadi jelek. Sayang kan wajah secantik ini kalau berubah jadi jelek " Ucapku mencoba menghibur wanita itu sebisanya. Seperti yang sering ku lakukan kalau adik atau temanku sedang menangis. Siapa tau berhasil ujarku, sembari menghapus air matanya dengan kedua tanganku.
Dan aku berhasil wanita itu pun berhenti menangis dan tersenyum sembari menggenggam kedua tanganku.
Tiba tiba badannya yang setengah ular menyusut dan berubah menjadi manusia sepenuhnya sembari tetap memegang kedua tanganku.
O my Good , benar benar luar biasa. Seperti dalam filim filim fiksi yang sering ku tonton. Pikirku dalam hati. Bahkan aku tidak bisa membedakan apakah ini mimpi atau kenyataan.
Dan anehnya lagi, tidak ada sedikit pun rasa takut atau khawatir di hatiku. Padahal biasanya aku adalah seorang yang sangat penakut. Aku malah menikmati semua kejadian ini seperti dalam cerita fiksi. Rasa keberanian dan percaya diri muncul tiba tiba dalam diriku.
"Kakak siapa ? Dan kenapa kakak kemari dan kenapa kakak memanggilku Embun. Siapa Embun itu? dan kenapa kakak berbadan setengah ular daan...dannn.....?" Aku berpikir sesaat apa lagi yang harus aku tanyakan , sembari menggaruk garuk kepalaku yang tidak gatal
"Ha...ha..ha... sudah...sudah...Embun , satu satu tanyanya. Mana yang harus aku jawab duluan ..ha..ha..ha.." wanita itu tertawa sangat nyaring dan agak membuat buluh kuduku merinding. Sembari menggandeng tanganku berjalan menuju ke kereta kencana yang terparkir anggun di depanku.
" Aku tau saat ini kau tidak mengenaliku , adikku, aku adalah Kencana Sari kakakmu yang di hukum ayahanda di kurung di air terjun ini. Kau dulu telah menghancurkan kesaktianku karna kejahatan yang telah ku lakukan . Akhirnya aku bertapa di air terjun ini untuk mendapatkan kesaktianku kembali. Selama ratusan tahun aku bertapa akhirnya aku mendapatkan kesaktianku kembali. Tapi konsekwensinya, inilah wujudku sekarang."
"Haaaaa... apaa?....Kencana Sari ?... kok nama itu seperti nama Putri jahat yang ada dalam cerita Astini tadi ya, Aiiihhhh... bagaimana ini ? Apakah karna aku terlalu terhanyut dalam cerita Astini sehingga aku bermimpi seperti ini.Ujarku kebingungan.
Dengan mata yang berkaca kaca wanita yang mengaku bernama Kencana sari itu memandangku dengan wajah yang di penuhi penyesalan.
Seketika hatiku di penuhi perasaan ibah. Namun aku harus menjelaskan kepadanya kalau aku bukan lah adiknya Embun. Aku adalah manusia biasa yang mungkin sedang berhalusinasi.
"Tapi kak namaku bukan Embun , namaku Alisa Indira Liew, Ayahku Johan Liew dan aku kemari karna urusan pekerjaan."
Aku berusaha menjelaskan kepada wanita itu. Supaya dia tidak salah faham kepadaku. Setelah itu aku menarik nafas panjang . Rasanya aku ingin terbangun dari mimpi ini. Benar benar mimpi yang aneh. Tapi ini bukan mimpi , ini nyata Ujarku dalam hati seraya kebingungan. Seketika rasa dingin menyeruak dan membuatku menggigil. Ku lirik Aryo yang sejak tadi sedang tertidur pulas di depan tenda dengan posisi terduduk di depan api unggun.
"Huuuuuhh... dasar Aryo bangun dong Aryoo. Masak sih kamu tidak mendengar keramaian di depanmu ini."
Aku bergumam pelan dan menggeretakkan gigi akibat kesal kepada Aryo yang tetap tertidur dan tidak menghiraukan suara suara di sekitarnya.
Wanita itu kemudian tersenyum menatapku dengan tatapan penuh kasih sayang dan kerinduan. Dia tidak menanggapi penjelasanku
Apakah benar dia Putri Kencana Sari seperti yang di ceritakan Astini, tapi kenapa ia sangat berbeda, di cerita Astini ia adalah wanita yang kejam dan ambisius namun yang ini adalah wanita yang sangat lembut dan perhatian. Aaaahhhhhkkkk.... aku kembali mengaruk kepalaku sembari menahan hawa dingin yang semakin menusuk tulang.
Kami terus berjalan berlahan ke arah Kereta kencana. Sesampainya di depan pintu kereta kencana wanita itu berhènti dan kemudian menatapku.
" Naiklah ke Ke kereta kencana itu adikku. Dan temuilah takdirmu. Sudah lama dia menunggumu "
Aku semakin tidak mengerti apa yang di katakan wanita itu.
Dan anehnya aku menurut saja. Dengan perasaan bingung aku duduk di dalam kereta kencana . Lagi lagi wanita itu tersenyum dan kemudian mengelus punggung kuda yang membawa kereta kencana. Pelan pelan kuda kuda itu berjalan perlahan membawaku meninggalkan tempat itu menuju puncak Gunung Raung.
Aku menoleh ke belakang. Wanita yang mengaku bernama Kencana Sari tiba tiba berubah kembali menjadi wanita setengah ular dan melayang masuk ke dalam air terjun sembari tersenyum dan melambaikan tangan keladaku.
"Kita akan bertemu kembali adikku!" Ucap wanita itu sembari melesat masuk kedalam gua di lereng air terjun telunjuk raung.
Sedangkan para pemuda berpakaian aneh itu mengikuti kereta kencana yang ku naiki dari belakang. Jujur saja aku masih belum mengerti dengan apa yang sedang terjadi saat ini. Rasa takut, cemas dan penasaran campur aduk di dalam hatiku.
Mereka akan membawaku kemana malam buta begini ? Dan bagaimana kalau aku tidak bisa kembali lagi ?. Seketika aku merasa sangat cemas.
Kupandang alam sekelilingku sangat gelap gulita. Yang terlihat hanya lah bayangan pohon pohon yang besar dan rindang yang berdiri kokoh dan meliuk liuk seperti raksasa yang mau menerkam mangsanya.
Namun anehnya aku tidak mendengar suara apapun bahkan suara desiran angin atau pun suara binatang malam sama sekali tidak terdengar. Sunyi senyap seakan para binatang malam pun takut untuk bersuara, bahkan angin pun terasa bersenti berhembus. Benar benar malam yang aneh.
Yang terdengar hanya suara ringkikan dan sepatu kuda yang ku naiki memecah keheningan malam.
Di tengah ke panikanku tiba tiba ku lihat cahaya terang benderang yang sangat menyilaukan ada di depanku. Sangking terangnya aku menyilangkan kedua tangan menutupi kedua mataku.
Ku rasakan kereta kencana yang ku naiki melesat menembus cahaya yang sangat menyilaukan itu.
Alam yang tadinya gelap gulita berangsur angsur menjadi terang seketika saat kereta kencana mulai memasuki kawasan cahaya tersebut.
Tiba tiba kereta berhenti di suatu tempat. Dan tak ku rasakan cahaya menyilaukan itu lagi. Perlahan lahan ku turunkan tangan dan membuka mata perlahan. Ku pandangi sekelilingku dengan perasaan bingung.
Tapi rasanya tempat ini tidak asing bagiku. Mataku tertuju pada sebatang pohon apel yang berbuah sangat lebat dan sebuah sungai kecil yang mengalir sangat jernih di sebelahnya, serta rerumputan yang menghijau dengan bunga bunga yang beraneka ragam tumbuh di sekitarnya membuat aku tertegun. Aku terkesiap sesaat, tempat ini mengingatkan pada mimpiku. Ya tempat ini persis seperti dalam mimpiku.
Perlahan aku beranjak keluar dari dalam kereta kencana itu. Benar, rasanya aku pernah kemari tapi kapan ya ? Ujarku dalam hati.
Aku berjalan perlahan mendekati pohon apel itu dan duduk di bawahmya sembari mengingat ingat kapan aku pernah kemari.
Aku menoleh ke arah kereta kencana yang ku naiki tadi, namun sekonyong konyong kereta itu sudah tidak ada di tempatnya. Menghilang begitu saja. Begitu pula dengan para pemuda aneh yang sedari tadi mengawalku juga menghilang tanpa jejak.
Aku menarik nafas panjang mencoba menenangkan diri. Sebenarnya di mana aku berada saat ini ? Semua terasa aneh, dan apa yang sedang terjadi padaku ? Ini tidak masuk di akal, bagaikan mimpi namun semua juga terasa nyata.
Tidak sengaja ku lihat pergelangan tanganku. Aku masih memakai jam tangan Seiko rose gold. Ku lirik jarum jam menunjukkan jam dua malam.
Aku semakin tak mengerti, jamku menunjukan pukul dua malam. Namun suasana saat ini terang benderang layaknya jam dua siang.
Aku mengusap wajahku dengan kedua telapak tangan. Berharap semua ini hanya mimpi dan saat ku buka mataku semua akan kembali seperti semula seperti saat aku berada di dalam tenda.
"Alisaaa..."
Aku mendengar seseorang memanggil namaku dengan lembut tepat di sampingku. Dan suara itu.... suara itu tidak asing di telinga. Aku buka tangan yang menutupi wajahku dan membuka mata perlahan lahan.
Pelan pelan aku menoleh ke samping tempat suara tadi berasal. Dan benar saja seorang pemuda tampan bermata indah itu sudah ada di sebelahku dengan senyuman manisnya yang tersungging di bibir.
Sontak membuat aku sangat senang dan secara refleks aku memeluk pemuda itu dengan girang. Akhirnya ada orang yang ku kenal di sini.
Aaaaaa' ......Aa ' Awan , kau di sini "
Aku peluk erat tubuhnya, untuk sesaat rasa takut, cemas , dan bingung hilang seketika begitu ku lihat Aa Awan di sampingku. Aku merasa begitu nyaman, aman dan terlindungi begitu melihat dia di sisiku.
Aa' Awanpun membalas pelukanku dengan melingkarkan tangannya ke pinggangku. Sejenak membuat aku terhanyut dan terbawa suasana. Harum tubuhnya benar benar membuat aku terhanyut dalam pelukannya dan semakin menguatkan pelukanku.
Tiba tiba aku tersadar, wajahku memanas dan menjadi merah meronah menahan malu. Tak sepantasnya seorang gadis memeluk laki laki yang baru di kenalnya begitu erat. Jantungku berdebar tak menentuh saat menyadari pemuda itu juga sangat erat memeluk tub*hku.
Perlahan aku melepaskan pelukanku dengan perasaan tak menentu.
"Eeeee...aaanuu.... Maa...maaf Aa' aku tidak sengaja..he..he..he.."
Aku pun meringis kecil dengan rasa malu yang tertahan
" Ha...ha...ha.. kenapa minta maaf lisa, tampaknya kau sangat merindukanku. Aku juga sangat merindukanmu cantik, oh iya apakah kamu lapar ?" Ujarnya sembari mencubit kecil hidungku.
:Eeehh... ..ehhhh...."
Aku tidak bisa menjawabnya sebenarnya aku memang sangat lapar dan mau bilang iya, tapi malu mengatakannya. Jadi aku hqnyq mengangguk kecil sembari memalingkan muka.
Aa' Awan tertawa melihatku dan kemudian berdiri memetikkan beberapa buah apel yang ranum itu lalu di berikan kepadaku.
"Ini makan lah lisa , aku tau kau pasti lapar sehabis perjalanan jauh menembus waktu."
"Maaaaksud Aa' apa ya ? Aku kurang faham. Menembus waktu maksudnya apa Aa'?" Tanyaku bingung.
" Sudah tidak usah di pikirkan, ini makanlah apel ini. Aku akan mengambil kan air untukmu."
Awan segera bergegas munuju mata air di depan kami dengan membawa sebuah bumbung bambu untuk menampung air.
Aku memperhatikan Awan di depanku yang tengah sibuk menampung air dalam bumbung bambu sembari menggigit apel di tangan ku. Tubuh kekarnya yang berbalut pakaian kuning dengan otot otot yang nampak terbentuk indah terlihat sangat sangat eksotis. Tuhan benar benar memahat tubuhnya dengan indah. Tanpa sadar air liurku meleleh memperhatikan otot ototnya yang begitu kekar dan jantan.
Di tambah wajahnya yang tampan dan matanya yang indah dengan rambut hitam bergelombang panjang sebahu sangat menawan hati siapa pun yang melihatnya. Aaahhhh.......sangat mirip dengan bintang filim india. Ujarku dalam hati sembari tersenyum nakal.
Aku senyum senyum sendiri mebatap Awan dari kejahuan sampai tak terasa apel yang di tanganku sudah habis kulahap. Seandainya dia menjadi pacarku ..amboyyy... aku akan menjadi wanita paling beruntung sedunia... hi..hi..hi..."gumam ku dalam hati.
"Lisa ... ini airnya , minum lah"
Suara Awan seketika membuyarkan lamunanku. Dia menyodorkan bumbung itu kepadaku dengan tersenyum sangat manis. Rasanya kerongkonganku yang tadinya tidak apa apa menjadi tercekat dan kering seketika sehingga membuat aku terbatuk
"Uhuuuk...uhukkk"
Seketika ku raih bumbung bambu itu dan meminum airnya seperti orang yang kehausan, air yang begitu segar dan nikmat" glekk..glekkk...glekk." hampir setengah bumbung air itu ku minum tanpa ku sadari air yang ku minum tumpah membasahi bajuku membuat lekuk lekuk tub*hku terlihat sangat jelas. Baju yang basah menjadi tampak transparan memperlihatkan kulit ku yang putih bersih.
Awan tertegun memperhatikanku tanpa berkedip. Kini ku lihat gantian dia yang melamun memandangku entah apa yang dia pikirkan. Ku dekatkan wajahku ke wajahnya dan ku jentikkan jariku sengaja mengagetkannya.
Dia pun tersentak dan memalingkan wajahnya kesamping seraya tersipu malu karna ketahuan memandangku. Kini gantian wajahnya yang merah merona menahan malu. Rasanya lucu dan cute sekali melihat dia salah tingkah seperti itu. Aku pun tak bisa menahan tawaku.
Seketika tawaku memecah keheningan. Tak ku sangka dia bergerak mendekatiku dan menggelitik pinggangku. Tentu saja aku tertawa menahan gelih dan berlari menghindarinya.
"Dasaaar, gadis nakal, awasnya kalau sampai dapat aku tidak akan pernah melepaskanmu!" Awan tersenyum dan mengejarku.
"Aa', ayoooo kejar akuu...ha..ha..ha." aku terus berlari sembari tertawa dan menjulurkan lidah menggodanya manja. Awan tersenyum dan berusaha mengejarku.