*** Ketika Gia mengatakan ingin bertemu Nenek dan adiknya, maka ia benar melakukan itu. Meskipun baru kemarin dirinya meninggalkan rumah. Kini, ia sudah berada di depan teras, menunggu neneknya atau pun Gufta membukakan pintu untuknya. “Nenek? Gufta?” panggilnya karena tak ada yang menyahuti. Giana menghela napasnya dengan berat. Masa iya Nenek dan adiknya tak sudi membukakan pintu untuknya lagi. “Assalamu’laikum, ada orang di dalam?” “Gufta!” “Nenek? Kalian di dalam kan? Bukain pintu!” Masih sama. Tidak ada yang membukakan pintu untuknya. Tidak seperti dulu. Gufta akan bergegas bila mendengar suaranya, atau neneknya akan menyahuti cepat setelah mendengar salamnya. Sesekali juga Giana langsung masuk karena rumah tidak dikunci. Namun, kali ini di antara banyaknya pilihan itu tak

